CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Riri di Apartemen Gala sendiri


__ADS_3

"Ih poni Riri berantakan! Nanti Riri gak gemoy lagi!" Dengus Riri merapikan poninya yang sedikit berantakan karena ulah Gala.


Sambil menunggu Gala, Riri memilih untuk bertopang dagu dengan pandangan mengedar ke seluruh sudut kantin. Ia tak menemukan keberadaan Nenda dan Choline karena dua gadis itu mungkin pergi ke kantin sebelah.


Kantin di sekolahnya ini memang dibagi menjadi tiga bagian. Kantin anak kelas sepuluh, kantin anak kelas sebelas dan kantin anak kelas dua belas.


Sayangnya jika bersama Riri, Gala lebih menyukai makan di kantin anak kelas sepuluh. Alasannya karena di kantin anak kelas sepuluh, mereka lebih kalem dan masih sangat polos. Mereka tidak akan berani menatap Riri lama-lama karena nyali mereka tidak sebesar itu untuk menghadapi Gala.


Berbeda dengan kantin anak kelas sebelas dan kantin anak kelas dua belas, di sana orang-orangnya sedikit lebih berani. Hingga membuat Gala jadi tidak tenang.


Bukannya Gala takut, tapi Gala malas saja jika harus ribut di sekolah hanya karena merasa cemburu saat cowok-cowok bermata jelalatan itu menatap Riri dengan tatapan kagum dan memuja. Ya, se-posesif itu memang Gala pada Riri.


"Gue udah pesenin lo nasi, sayur sop sama ayam,"


ujar Gala duduk di kursi sebelah Riri.


Riri menatap Gala protes. "Riri kan belom bilang mau apa! Kok Gala gak tanya dulu ke Riri?!"


"Gak perlu," jawab Gala santai. "Ngapain nanya ke bocil."


"Ih! Tapi"


"Apa yang udah gue pesen, yang itu makan.


Udah jangan bawel lo." harus lo makan.


Riri mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Selalu saja seperti ini. Padahal tadi Riri ingin memesan mie goreng. Riri malas jika harus memakan nasi, nasi, nasi dan nasi.


"Monyongin terus tuh bibir, biar gue khilaf di sini sekalian."


Mendengar itu, Riri langsung menutup bibirnya


dengan kedua telapak tangan. Gala memang sangat pandai dalam hal mengancam dan membuat Riri takut.


"Ntar pulang sekolah ke apartemen gue.


Hari ini jadwalnya kita belajar bareng," ucap Gala memberitahu. "Tapi nanti belajarnya agak ketunda, soalnya abis nganter lo ke apart, gue ada urusan di luar bentar."


"Jadi, Gala bakal ninggalin Riri di apartemen sendirian?" Tanya Riri sedikit kesal. Kalau memang iya, lebih baik ia pulang ke rumah saja. Untuk apa ke apartemen Gala kalau Gala nya saja pergi.


"Bentar doang, cuma setengah jam. Paling lama satu jam."


"Mending Riri pul-"


"Gak ada pulang-pulang! Bokap lo udah percaya sama gue buat bimbing lo belajar. Kalo lo pulang, entar dikiranya gue gak amanah. Hari ini jadwal kita belajar!"


"Tapi Gala ke-"

__ADS_1


"Bentar doang! Udah deh lo gak usah bawel!"


*****


Sudah hampir satu jam Riri menunggu Gala di apartemen cowok itu. Namun belum ada tanda-tanda Gala datang. Riri sampai bosan. Tidak tahu harus melakukan apa. Mau menonton kartun Spongebob, tidak bisa. Karena Gala sengaja menyembunyikan laptopnya. Gala tadi sudah berpesan agar Riri tidur saja. Bukannya mau membantah perintah Gala, hanya saja saat ini Riri memang tidak mengantuk sama sekali.


"Ini apa ya?" Monolog Riri melihat kotak kecil di laci sebelah ranjang. Riri tidak bermaksud lancang karena menyentuh barang-barang milik Gala, tapi Riri memang sudah biasa melakukan hal ini dan Gala juga tidak pernah mempermasalahkan jika semua barang-barangnya di apartemen disentuh oleh Riri.


Riri mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil mencoba mengingat-ingat. Dulu sepertinya Gala pernah mengatakan kalau barang yang Riri pegang sekarang adalah vitamin.


"Oh ini vitamin? Kalau vitamin kaya punya Riri


kan rasanya enak. Ini enak juga gak ya?"


Riri mengambil satu butir pil berwarna putih dengan bentuk memanjang lalu ia perhatikan dengan saksama. "Riri cobain deh biar tau rasanya."


Ceklek


"Ngapain lo?!"


Riri berjingkat kaget hingga membuat kotak obat kecil


di tangannya itu jatuh ke lantai. Semua isinya pun berserakan. Membuat Riri ketakutan sendiri. Bisa-bisa Gala marah besar padanya. Riri mendongak takut-takut. Mata berkaca-kacanya menatap Gala yang saat ini sedang menunjukkan ekspresi marah. "Maaf, Riri cuma"


"Siapa yang nyuruh lo pegang-pegang barang gue?!" Gala memunguti semua yang berserakan di lantai hingga bersih. Lalu mengantonginya di saku jaket yang ia kenakan sekarang.


Riri diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Melihat ekspresi marah Gala saja sudah berhasil membuatnya ingin menangis. Apalagi jika sudah ditekan dengan pertanyaan yang menohok seperti ini.


"Lancang banget lo jadi cewek! Gak bisa ngehargai privasi orang!"


Riri menundukkan kepalanya semakin takut.


Ia tidak bermaksud lancang seperti itu. Bukannya Gala sendiri yang selalu bilang jika Riri harus menganggap semua yang Gala miliki adalah miliknya juga? Karena itulah, Riri seberani sekarang untuk melihat dan memegang barang-barang yang ada di apartemen Gala.


Lantas, kenapa sekarang Gala semarah ini?


"Lo emang tunangan gue, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya kaya gini."


"Riri cuma megang vitamin punya Gala."


"Cuma?" Gala terkekeh sinis. "Gue emang ngebebasin


lo di sini dan gue juga selalu bilang kalo apa yang gue punya, punya lo juga. Tapi gak seharusnya lo ngambil barang yang bahkan udah gue simpen di dalem laci!"


"Emang susah punya cewek bego kaya lo!


Bisanya cuma ngerepotin doang!"

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu Gala keluar dan membanting pintu sekencang mungkin. Meninggalkan Riri di dalam kamar sendiri dengan rasa takut dan campur aduk. Katakanlah Riri bodoh, tapi Riri memang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang selain menangis. Ia juga bingung, kenapa Gala bisa semarah ini? Padahal ia hanya memegang vitamin. Bukan melakukan hal yang aneh-aneh.


Riri mengusap kedua pipinya kasar. Ia mencari


tas yang tadi diletakkan di sofa. Dengan cepat Riri mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Danis.


Riri: Riri mau pulang, Bang Danis bisa gak


jemput Riri di apartemen Gala?


Ting!


Tidak perlu menunggu lama, notifikasi balasan


dari Danis langsung muncul di layar ponsel Riri.


Danis: Bukannya hari ini jadwalnya lo belajar


sama Gala? Udah selesai emang?


Riri : Udah, Riri mau pulang. Gala gak bisa anter,


ada urusan.


Danis: Kok cepet? Biasanya juga sampe sore hampir


malem.


Riri: Ih! Bang Danis mau jemput apa enggak?


Kalo gak mau ya udah. Riri naik taksi.


Danis: Gue masih ada kelas, setengah jam lagi selesai.


Gak papa?


Danis: Atau biar lo dijemput Dewa aja, gimana?


Kalo mau biar gue kasih tau Dewa sekarang.


Takut kelamaan kalo nunggu gue.


Riri: Gak mau, Riri nunggu Bang Danis aja.


Bang Dewa suka nyebelin.


Danis: Oke cantik. Tungguin Abang bentar yaa.

__ADS_1


__ADS_2