CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
68.Suara Gala Bagus


__ADS_3

"Lo cantik kalo lagi ngomel. Gue rekam."


"Riri emang cantik!"


Gala tertawa lalu meraup wajah Riri dengan telapak


tangannya kala melihat Riri menampakkan wajah nyolot. "Dih, pede banget lo."


"AAAAAA GALAAA NAKAL!!!" Teriak Riri karena tiba-tiba Gala menarik tubuhnya hingga terjatuh tepat di sebelah Gala berbaring.


Berbeda dengan Riri yang terus berusaha untuk bangun


dan melepaskan diri, Gala justru semakin mengeratkan pelukannya hingga Riri tidak bisa bergerak sama sekali.


"Gala lepasin Riri!"


Gala tidak menggubris permintaan Riri.


Cowok itu memeluk Riri erat dan mendekatkan bibirnya


ke telinga Riri, lalu bernyanyi lagu favoritnya yang menggambarkan perasaannya untuk Riri dengan suara


serak khas orang bangun tidur. Lagu berjudul mine yang dipopulerkan oleh Petra Sihombing itu, akhir-akhir ini sering Gala dengarkan sebelum tidur.


"And I want to make you mine."


"Oh, baby, I'll take you to the sky."


"Forever you and I, You and I, You and I."


"And we'll be together till we die."


"Our love will last forever and forever, you'll be mine."


"You'll be mine. Oh-ooh, oh-ooh."


"Huftt!" Gala meniup telinga Riri selesai bernyanyi.


Membuat gadis yang sejak tadi mematung itu mengerjapkan kedua matanya kaget


."Baper ya lo?" Tanya Gala dengan senyum miring.


"Enggak," bohong Riri. Padahal sejak tadi gadis itu berusaha menyembunyikan agar Gala tidak menyadari jika dirinya sedang salah tingkah.


"Gimana suara gue?" Tanya Gala menduselkan kepalanya ke bidang leher Riri.


Riri memeluk kepala Gala. "Suara Gala bagus."


Senyum Gala mengembang berkali-kali lipat mendapat


pujian seperti itu dari Riri. Namun tak lama kemudian ekspresi Gala berubah menjadi sangat datar kala Riri kembali bersuara.


"Coba Gala ikutan master chef, siapa tau juara hehe."

__ADS_1


"Kesalahan terbesar dalam hidup gue adalah percaya s


ama pujian lo!" Kesal Gala melepaskan pelukan mereka.


"Bocil sialan!"


"Hahahahaha." Riri tertawa cekikikan. Puas melihat Gala kesal seperti sekarang. "Tapi beneran bagus kok."


"Ih! Gala jangan foto-foto Riri deh!" Protes Riri menyadari Gala sedang mengambil gambar dirinya menggunakan ponsel.


"Gala!"


Karena terlanjur kesal, Riri membiarkan Gala melakukan apa yang ia mau. Gadis itu mengubah posisinya lalu meraih ponsel di atas nakas. Pura-pura menyibukkan diri.


"Cakep banget, bocil sialan gue," kekeh Gala mengamati foto hasil jepretannya.



Cup


"Gue mandi dulu ya," pamit Gala setelah memberi kecupan ringan di puncak kepala Riri.


Cowok shirtless dengan boxer kuning bergambar Spongebob itu berjalan menuju kamar mandi sambil terus menatap ke arah Riri dengan tatapan kagum. Entahlah, Gala tidak mengerti. Kenapa ia bisa segila ini pada Riri. Bahkan semenjak ia bertemu dengan Riri, menurutnya tidak ada lagi gadis cantik selain Riri.


Sementara itu, tidak ada yang bisa Riri lakukan selain bolak-balik membuka tutup ponsel untuk menunggu Gala menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Hingga sepuluh menit kemudian, Gala keluar dari kamar mandi namun tak Riri sadari.


"Mau ke mana sih? Semangat amat lo? Sampe dateng ke sini duluan?"


"Dih, sok-sokan nutup mata. Bukannya tadi juga udah liat gue gak pake baju?" Gala duduk di tepi ranjang. Mengacak-acak rambut Riri yang masih memejamkan mata dengan gemas.


"Iya, tapikan tadi gak liat perut Gala."


"Emang kenapa kalo liat perut gue?"


Riri membuka matanya perlahan lalu nyengir tak berdosa. "Riri jadi gemes, pengen pegang."


"Ya udah pegang aja." Gala menarik tangan Riri cepat namun gadis itu berusaha menahan tangannya.


"Boleh?" Kedua mata Riri mengerjap polos.


"Boleh lah," angguk Gala. "Asal pegang doang. Gak sampai raba-raba. Takutnya kebablasan pegang sampe-"


"Sampe apa?" Sela Riri tak sabar.


"Gak," geleng Gala. "Cepet pegang. Katanya mau pegang."


"Keras," ceplos Riri tanpa sadar. Tangan gadis itu masih berada di atas perut Gala. "Kok perut Riri gak bisa kaya gini, ya?"


"Kalo perut lo kaya gini, gue gak mau."


"Kenapa?"


"Ya kali lo cewek badannya rata semua. Emang mau badan lo rata semua kaya boneka barbie geprek yang kemaren lo beli bareng Danis?"

__ADS_1


Mengingat boneka barbie miliknya yang berbadan rata dan gepeng, Riri langsung menggeleng cepat. "Gak mau, itukan boneka barbie bencong. Badannya rata. Riri gak bencong."


"Makanya jangan aneh-aneh. Kan gue udah punya perut kaya gini, kalo lo pengen pegang, tinggal pegang punya gu-RIRI TANGAN LO AAARRRGGHHHH!!!!"


Sebenarnya Gala sendiri bingung ingin mengajak Riri jalan jalan ke mana. Sampai akhirnya Gala memutuskan untuk mengajak Riri jalan-jalan ke salah satu wisata terdekat yang banyak wahana bermainnya.


"Gala Riri mau naik itu!" Tunjuk Riri girang.


Gala berdecak kesal. "Bentar, kan masih ngantri tiket masuk, Cil."


"Lama banget deh. Riri capek tau," keluh kiri.


"Udah gue bilang. Kalo lo banyak ngeluh, mending kita pulang. Panas kuping gue denger keluhan lo."


Gala menatap kesal pada Riri yang berdiri di belakangnya. Saat ini mereka masih mengantri di loket pembelian tiket masuk. Suasananya cukup ramai dan sangat panas. Membuat Gala sedikit naik darah jika Riri banyak protes.


"Iya-iya! Gala marah mulu kaya kakek lampir!" Ejek Riri sebal


"Yang ada itu mak lampir, bukan kakek lampir!" Koreksi Gala. "Ngasal aja lo."


Riri bersidekap dada sambil mendumel pelan. "Gala cowok masa jadi emak-emak sih? Bego deh."


Gala tidak lagi menggubris ucapan Riri dan membiarkan gadis itu memainkan ujung belakang bajunya.


"Baju gue robek, baju lo yang gue pake!" Peringat Gala membuat Riri mendongak cepat.


"Ya udah, enak."


Alis Gala terangkat heran. "Kok enak?"


"Kalo baju Riri dipake Gala, Riri gak baju dong. Enak, gak gerah." Riri mengibaskan tangannya di depan wajah. "Soalnya panas banget di sini."


Gala memejamkan mata untuk menahan rasa kesal. Berbicara dengan Riri memang hanya akan membuatnya darah tinggi.


"Gala kenapa?"


"Gak! Ayo!" Gala menarik tangan Riri saat tiba giliran mereka untuk membayar tiket dan masuk ke dalam wisata.


"Gala Riri mau naik itu!!!" Tunjuk Riri pada


salah satu wahana komedi putar.



"Lo aja. Gue nunggu deket situ."


Bibir Riri mencebik. Ia kecewa mendengar jawaban Gala.


"Gak jadi! Kan Riri maunya sama Gala!"


Gala mengamati sekitarnya. Sepertinya ia salah besar membawa Riri ke tempat ini. Bagaimana jika ada anak Drax atau rivalnya melihat dirinya sedang bermain-main di tempat seperti ini? Bisa hancur reputasi Gala sebagai ketua geng.


"Ya udah, ayo," putus Gala pada akhirnya. Daripada Riri badmood, lebih baik Gala menurunkan sedikit rasa gengsinya demi Riri.

__ADS_1


__ADS_2