
"Iya-iya. Sekarang gue mau pergi. Cepet lo pulang," usir Gala menatap Agam kesal. "Mentang-mentang punya akses keluar masuk ke apartemen gue, main dateng-dateng aja kaya Jailangkung. Dasar Om-Om jomblo karatan," dumelnya.
"Gue mau nanya bentar. Emang kalo gak ketemu sama cewek lo sehari doang, lo gak bisa, Gal? Perasaan waktu gue dateng tadi sore, lo juga ada di rumah cewek lo. Sekarang mau ke sana lagi."
"Gak bisa, kenapa? Masalah?" jawab Gala ngegas.
"Lo bakal gila kalo gak ketemu Riri sehari?"
"Bisa mati juga," Gala menatap Agam dengan perasaan dongkol. Sepupunya ini memang menyebalkan. Banyak bertanya, pertanyaan yang tidak penting. "Makanya punya cewek, biar lo bisa bucin. Biar gak nyinyir doang bisanya."
Agam tersenyum miring. "Gue kalo punya cewek, langsung nikah. Gak pacaran doang kaya lo."
"Bacot!
Agam menggeleng heran melihat Gala pergi begitu saja
setelah mengumpati dirinya.
"Hem, kenapa sih, tumben banget jam segini macet. Keburu bocil ngamuk, dikiranya gue ingkar janji."
Karena penasaran, Gala turun dari mobil. Melihat apa yang sedang terjadi di depan sana.
"Maaf, Pak. Di depan ada apa ya, kok macet banget?" tanya Gala pada salah satu penjalan kaki yang terlihat berjalan dari arah sumber kemacetan.
"Itu Mas, ada kecelakaan di depan. Tabrak lari. Ambulan nya belum dateng dari tadi. Jadi orang-orang gak berani apa-apain korban."
Entah dorongan dari mana, Gala yang penasaran, tiba-tiba saja ingin melihat korban tabrak lari yang dimaksud oleh bapak-bapak tadi.
"Itu masih hidup. Pingsan doang."
"Iya,tapi gak berani ah. Nanti kalo ada apa-apa kita yang kena."
"Tunggu ambulan aja."
__ADS_1
"Tapi ambulan nya gak dateng-dateng. Kasihan."
Samar-samar Gala mulai mendengar, ucapan demi ucapan dari orang-orang yang berada di sekitar korban. Namun Gala belum bisa melihat kondisi korbannya, karena banyaknya massa yang mengerubungi si korban.
"Korbannya cewek apa cowok, Bu?" tanya Gala pada ibu-ibu.
Ibu-ibu berpakaian modis itu lantas menjawab. "Cewek, Mas. Kasian, masih remaja."
Jawaban dari ibu-ibu itu membuat Gala semakin penasaran. Gala mendekat dan sedikit meminta jalan ke orang-orang agar dirinya bisa melihat kondisi korban tabrak lari itu secara langsung dan jelas.
"Ya Tuhan, Amora!" mata Gala membulat sempurna melihat
korban yang sejak tadi orang-orang bicarakan ternyata Amora. Adik panti Dio, teman satu gengnya.
"Kamu kenal sama dia?"
Gala mengangguk pada salah orang yang berdiri di sampingnya. "Iya, dia adik temen saya."
"Cepat hubungi keluarganya, ya. Kasian, ini ambulan nya juga belum dateng,"
"Ini udah lama ya, Bu? Kok ambulan nya belum datang-datang, padahal rumah sakit dekat dari sini," tanya Gala heran. Padahal jarak antara rumah sakit dan tempat kejadian hanya sekitar sepuluh menit.
Ibu-ibu itu mengggeleng tidak tahu. "Gak tau kenapa belum dateng, padahal udah dihubungi hampir satu jam yang lalu.
Ini udah lumayan lama dibiarin kaya gini. Makanya sampai macet panjang."
"Hem!" Gala mulai panik sendiri. Kalau dirinya tidak mengambil tindakan cepat, Gala justru akan merasa sangat bersalah jika nanti terjadi sesuatu hal yang buruk pada Amora.
"Eh, jangan!" cegah orang-orang melihat Gala jongkok di hadapan Amora dan hendak meraih tangan Amora.
"Saya mau ngecek denyut nadinya."
Gala kembali meraih tangan Amora untuk mengecek denyut nadi gadis itu. Saat dirasa denyut nadi dan napas Amora masih terasa, Gala meminta bantuan orang-orang di sekitarnya untuk membantu membawa Amora ke mobilnya. Sayangnya, orang-orang di sana terlihat tidak ada yang mau membantu.
__ADS_1
"Aduh, hati-hati. Niat kamu emang baik, tapi nanti kalo ada apa-apa, kamu bisa disalahin. Mending nunggu tim medis aja."
"Saya tanggung resikonya. Nunggu tim medis yang gak gerak
cepat, keburu nyawa korban gak tertolong."
Bukannya Gala tidak memikirkan bagaimana resiko ke depannya. Namun apa yang ia lakukan ini, hanyalah bentuk rasa kemanusiaan ke sesama manusia. Apalagi Amora juga orang yang ia kenal dan adik dari teman baiknya.
Apa salahnya, jika niat Gala hanya ingin menyelamatkan nyawa seseorang? Ya, meskipun banyak resiko yang mungkin bisa ia dapatkan nanti. Tapi menjadi manusia bukankah memang tidak boleh memikirkan diri sendiri? Ada kalanya harus mengesampingkan ego, demi menyelamatkan nyawa satu orang yang mungkin sangat berharga untuk banyak orang.
Tidak hanya Amora saja, jika orang lain pun yang ada di posisi seperti Amora sekarang, Gala akan tetap melakukan hal yang sama. Menyelamatkannya dan menanggung semua resikonya.
"Saya bantu angkat, tapi kalo ada apa-apa jangan ajak saya, ya?" ucap salah satu bapak-bapak seraya mendekat ke Gala untuk membantu mengangkat tubuh Amora. "Saya punya anak seusia dia, gak tega kalo dibiarin aja. Saya jadi membayangkan, bagaimana kalo ini anak saya atau keluarga saya lainnya, tapi gak ada orang yang mau menolong. Saya pasti akan sedih sekali," lanjutnya.
Gala mengangguk lega. Setidaknya masih ada satu orang yang mau membantu dirinya yang sejak tadi bingung dan panik sendiri.
"Sebenernya menunggu tim medis lebih baik, Pak. Tapi kalau tim medisnya gak gerak cepat kaya gini, nyawa korban taruhannya. Lagi pula kata ibu-ibu tadi sudah hampir satu jam, korban dibiarkan. Telatnya tim medis kali ini udah gak wajar. Padahal rumah sakit sangat dekat dari sini," jelas Gala.
******
Gala menoleh cepat mendapati Dio dan Asti berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa.
"Gimana Amora, nak Gala?" tanya Asti panik.
Gala terdiam sejenak. Ia takut jawabannya bisa membuat Asti kepikiran banyak hal. "Amora masih ditangani sama Dokter, Bunda. Tadi di lokasi kejadian, luka di badan Amora emang gak banyak. Yang berdarah hanya di kepala bagian belakang aja. Tapi Amora pingsan cukup lama dan tim medis telat datang."
Asti mengusap-usap lengan Gala dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih ya, ini kesekian kalinya kamu menyelamatkan Amora. Bunda gak tau lagi, gimana Amora kalo tadi gak ada kamu."
"Sama-sama, Bunda. Saya hanya membantu sebisa saya."
"Makasih, Gal." Sahut Dio. "Sorry, tadi listrik di panti ada masalah. Masih dibenerin. Terus kebetulan, hape gue sama Bunda emang kehabisan baterai. Jadi kita gak tau kalo lo telfon berkali-kali. Baru tau setelah hape kita nyala."
"Makasih juga lo udah nungguin Amora di sini sampe kita dateng."
__ADS_1
Gala mengangguk. "Iya, Yo. Gak papa. Mending sekarang lo ajak Bunda duduk di ruang tunggu, biar Bunda bisa tenang juga."