
"Riri pulang dulu," pamit Riri menutup pintu
kamar Gala pelan-pelan.
Setelah merasa Riri sudah melangkah jauh, barulah Gala mau menoleh ke arah pintu dengan wajah menyedihkan. Persis seperti anak kecil yang ditinggal pergi oleh ibunya. "Arrrgghhh!!!" Gala melemparkan bantal di sebelahnya ke sembarang arah.
"Padahal gue udah siap belajar sampe pake celana Spongebob sebagai daleman, tapi malah dighosting!" Ucapnya sambil mengintip ke dalam celana abu-abunya yang sudah ia double dengan celana pendek Spongebob pemberian Riri beberapa waktu yang lalu.
Gala teringat sesuatu. "Untung dia gak tau ini apa,"
ujar Gala memandangi kotak kecil yang ia ambil dari saku jaketnya.
Jelas saja Riri tidak akan tahu, karena semenjak kejadian Alan memergokinya mengkonsumsi obat itu, Gala langsung mengganti kotak obatnya dengan kotak polos biasa yang tidak ada nama merk dari obat yang ia konsumsi.
*****
"Sakit bego!" Gala memukul lengan Ilham karena cowok itu sengaja menekan luka-luka yang ada di wajah Gala.
"Hem! Lo sih Gal. Udah gue bilang gak usah ditanggepin, masih aja ngeyel."
Gala mendelik tidak terima. "Enak aja gak usah ditanggepin! Dia ngeledek gue bangsat!"
"Ya makanya muka lo jangan galau-galau amat,
biar gak diledek!"
"Gue gak galau!"
Ilham berdecak. "Gak galau, gak galau, tapi dari tadi ngedumel mulu gara-gara diemin Riri."
"Ya kan gue kesel. Gue udah minta maaf sama Riri,
tapi Riri tetep ngambek ke gue." Gala menghela napas panjang. "Ditambah si Dewa pake acara ngomporin Riri. Terus juga kucing punya Dewa ngeselin banget, ngeliat gue kaya nantang berantem."
Ilham menggeleng heran. "Gak habis pikir gue, bisa-bisanya lo gelut sama kucing sampe muka lo dicakar kaya gini."
"Iya, gue tau lo ketua geng. Jago berantem,
jago tawuran, tapi gak kucing juga yang lo ajak gelut, Gal," tambah Ilham.
"Udah, kalo gak ikhlas bantuin, gue pulang aja!"
Sewot Gala lalu berdiri.
"Ya elah, salah lagi gue." Ilham mengusap dadanya dramatis. Gala kalau sedang ada masalah dengan Riri, sudah pasti akan sangat sensitif seperti ini. Ujung-ujungnya kalau tidak Ilham, ya Akbar yang akan jadi pelampiasan kemarahan Gala.
"Gal! Jangan ngambek woi!"
"Lakik, Gal! Lakik!"
__ADS_1
Gala tidak lagi memedulikan Ilham. Ia lebih memilih pulang, daripada berada di markas Drax dan terus mendengar ocehan Ilham yang membuat telinganya panas.
"Awas aja lo kucing sialan. Kalo gue sama Riri udah baikan, gue bakal pamer keuwuan di depan lo," tekad Gala sembari memakai helmnya. "Mentang-mentang
Riri lagi ngambek ke gue, lo ngeledekin gue seenaknya!"
"Dasar kucing burik!" Tambahnya, lalu melajukan motornya membelah jalan raya.
*****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gala sudah ada di teras rumah Riri. Cowok itu tidak mau kecolongan, takut Riri akan berangkat ke sekolah tanpa mau menunggu jemputan dari darinya.
"Gala," sapa Eza papa Riri.
Gala tersenyum ramah lalu mencium punggung
tangan Eza dengan sopan. "Selamat pagi, Om."
"Pagi," balas Eza tersenyum. "Tumben sepagi ini. Biasanya Riri ngomel dulu karena kamu gak dateng-dateng," kekeh Eza keheranan.
Gala nyengir. "Iya Om, sekarang biar Riri gak ngome lagi."
"Ya udah masuk aja. Om mau berangkat."
"Om juga tumben, berangkat ke kantor sepagi ini?"
luar kota. Tapi ke kantor dulu."
Gala mengangguk paham. "Hati-hati ya, Om.
Semoga pekerjaan dan perjalanan Om lancar."
"Makasih ya calon mantu."
Gala hanya terkekeh mendengarnya. Ia dan Eza memang sudah cukup akrab. Meksipun mereka jarang mengobrol berdua secara intens karena Eza selalu sibuk bekerja, namun hal itu tak membuat Gala kehilangan cara untuk tetap mendapatkan hati dan restu Eza.
Setelah keberangkatan Eza, Gala lebih memilih duduk
di kursi yang ada di teras rumah Riri. Bukannya apa, Gala hanya tidak mau masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Dewa. Apalagi dengan kucing Dewa yang bernama Kolor Ijo itu. Karena hal tersebut hanya akan membuat mood Gala rusak di hari yang sepagi ini.
"Cil!" Panggil Gala saat Riri keluar dengan menenteng sepatu dan kaos kaki yang belom ia kenakan.
Riri menoleh terkejut. "Ih! Kok Gala di sini sih! Padahal Riri mau berangkat duluan sebelum Gala jemput!"
"Telat! Gue udah hafal sama kelakuan lo pas
ngambek! Makanya gue udah di sini sepagi ini!"
Riri memasang wajah cemberut. Entah kenapa,
__ADS_1
mau semarah apapun ia dengan Gala, ujung-ujungnya Riri pasti akan luluh dan tidak tega mendiamkan Gala terlalu lama.
"Gala minggir deh! Riri mau duduk! Mau make sepatu!" Usir Riri.
Bukannya menuruti perintah dari Riri, Gala justru mengangkat satu kakinya lalu mengeluarkan ponsel
dari saku celana abu-abunya.
"Gala ih!" Riri menghentakkan kakinya kesal.
"Hem! Itu kan masih ada kursi sebelah gue!"
"Kan Riri maunya di kursi ini! Bukan kursi itu!"
Kekeh Riri tak mau mengalah.
"Ribet amat!" Gala terpaksa berdiri lalu kembali mendudukkan dirinya di kursi lain.
Cowok itu tersenyum gemas saat melihat layar ponselnya yang berhasil merekam Riri saat sedang mengomeli dirinya barusan.
"Cubi banget," ucapnya lirih. "Gemes banget gue! Hih!"
Menoleh ke samping, Gala berdecak saat melihat Riri tidak selesai-selesai melakukan kegiatannya. Padahal hanya memasang kaos kaki dan sepatu, tapi entah kenapa pergerakan gadis itu lemot sekali. Membuat Gala jadi gemas sendiri.
"Sini-sini! Dasar bocil make kaos kaki aja susah!"
Toyor Gala lalu berjongkok di hadapan Riri.
Dengan telaten dan cekatan Gala memasangkan kaos kaki di kaki Riri. Sementara Riri, ia hanya diam. Gadis itu sudah terbiasa dengan hal ini. Gala memang sudah sangat sering membantunya memasang kaos kaki dan sepatu seperti sekarang.
"Kecil banget sih kaki lo!" Ucap Gala gemas.
"Pengen gue makan! Rawrrrr!"
"Ih kaki Riri jangan digigit!" Panik Riri. Cowoknya ini memang terdeteksi menjadi kanibal karena sering menggigit-gigit anggota tubuh Riri. Mulai dari menggigit pipi, menggigit jari tangan dan sekarang menggigit kaki.
"Gemes banget gue, jari lo kecil-kecil," kekeh Gala kemudian memasang dan mengikat tali sepatu Riri.
"Dah beres!" Ucap Gala berdiri lalu diikuti oleh Riri
yang kini juga berdiri di hadapan Gala.
Gala menepuk-nepuk puncak kepala Riri pelan.
"Bocil gue udah gak ngambek, hem?" Riri memanyunkan bibirnya mendengar pertanyaan Gala. Bagaimana ia bisa ngambek lama kalau sikap Gala saja semanis ini.
"Riri udah maafin Gala, tapi Riri bete sama Gala.
Lain kali Gala gak boleh ngomong gitu." Riri menunduk sambil menghela napas pelan. "Riri tau kok, Riri emang cewek bego yang cuma bisa nyusahin Gala. Tapi Gala jangan ngomong gitu di depan Riri."
__ADS_1