CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
109.Janji-jandi Pada Gala


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


"Kalo emang bisa gak papa, hukum saya saja, Kak. Dia emang lagi gak enak badan. Makanya tidur," ucap Rafa santai.


"Kalo gak enak badan kenapa ikut ospek? Bukannya tadi pagi dan saat jam istirahat sudah diberi tahu, kalau merasa tidak enak badan bisa langsung ke ruang kesehatan?"


"Sakitnya mendadak, Kak," balas Rafa. Jelas saja Rafa berbohong hanya untuk melindungi Riri dari hukuman. "Barusan kepala dia gak sengaja kena pukul stick drum saya."


Rafa mengeluarkan stick drum dari dalam tasnya untuk membuat komdis di hadapannya semakin percaya dengan cerita yang ia karang. Rafa memang kebetulan membawa stick drum karena setelah ospek, ia berencana untuk latihan band bersama teman-temannya. Rafa tidak pernah. meninggalkan stick drum kesayangannya itu di studio musik bandnya, karena tidak rela jika stick drum kesayangannya itu disentuh oleh orang lain. Maka dari itu Rafa sering membawanya kemana-mana..


"Kamu ospek kenapa bawa-bawa barang yang bukan perlengkapan ospek?! Ikut saya! Kamu melakukan dua pelanggaran. Pertama karena sudah membahayakan salah satu teman kelompok kamu dan kedua membawa barang yang seharusnya tidak boleh dibawa saat kegiatan ospek berlangsung!"


Nenda menatap Rafa tak percaya. Namun karena tidak mau ikut campur dengan kebohongan Rafa, Nenda memilih diam. Selain itu, ada untungnya juga untuk sahabatnya. Karena cerita karangan Rafa itu, Riri tidak akan mendapat hukuman.


"Bawa stick drum kamu juga!" tambah komdis itu menatap


Rafa tajam.


"Iya, Kak," angguk Rafa pasrah.


Rafa menghela napas pelan. la sangat yakin, pasti stick drum kesayangannya itu akan disita oleh panitia. Bisa jadi langsung dirusak juga seperti barang milik anggota kelompok sebelah. Kemarin ada satu perempuan dari kelompok sebelah yang menangis karena parfum mahalnya dibanting hingga tumpah oleh komdis. Karena dalam peraturan ospek, memang tidak boleh membawa barang-barang selain perlengkapan ospek. Kalau ketahuan, ya seperti itu resikonya.


"Kamu," Komdis itu beralih menatap Nenda. "Ajak temen kamu ke ruang kesehatan. Biar dia istirahat di sana."


Nenda mengangguk patuh. "Iya."


Nenda menghela napas lega melihat komdis itu pergi diikuti oleh Rafa yang siap menerima hukuman. Namun baru beberapa menit setelahnya tepat saat Riri membuka matanya, Rafa kembali.


"Kenapa, Raf?"


"Gue gak bawa--em, Ri, gue boleh pinjem pulpen punya lo gak?"


Riri mengucek-kucek matanya. Dalam keadaan setengah sadar dan tidak mengingat janji-janjinya pada Gala, Riri langsung menyerahkan bolpoin miliknya pada Rafa.


"Oke, thanks. Gue pinjem dulu, ya."


Riri yang melihat Rafa tersenyum lebar hanya menatapnya sekilas lalu kembali menguap. Tidak tahu saja, bahwa cowok itu yang telah berkorban demi dirinya.


"Jangan tidur lagi. Lo tau gak, kalo bukan karena Rafa,


lo udah dihukum sekarang."


"Hah? Maksudnya apa sih? Riri gak paham. Hoaaamm..."

__ADS_1


Nenda mendengus dan mulai menceritakan semua pada Riri. Tentu saja dengan suara pelan agar tidak ketahuan dan diomeli oleh komdis yang lain.


******


Tiga hari setelah Agam memberikan amplop itu, sampai detik ini Gala belum berani membukanya. Gala memang penasaran dengan isi surat yang ibu kandungnya tulis sebelum pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Namun Gala takut. Takut isi surat itu akan membuat dirinya semakin kecewa dan sedih. Gala belum siap mengetahui alasan ibu kandungnya pergi, bahkan saat umurnya masih satu bulan.


Gala menarik napasnya dalam-dalam dan berniat memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. Namun sebelum hal itu terjadi, suara teriakan melengking dari seorang gadis membuat pergerakan Gala terhenti.


"Galaaaa!!!"


"Cih! Bocil gue hobi banget ngagetin!" decak Gala. "Untung sayang, kalo enggak udah gue ceburin ke got bareng Joko sama Kolor Ijo."


"Itu apaan?" tanya Riri penasaran setelah berteriak dan berlari menghampiri Gala yang kini bersandar di sisi gedung fakultas bahasa dan seni.


"Gak apa-apa," jawab Gala cuek sambil memasukkan amplop coklat itu ke dalam tasnya.


"Gimana ospeknya?" Gala mengusap dahi Riri yang sedikit


mengeluarkan keringat tanpa rasa jijik. "Kena omel gak


tadi?"


Bukan hanya untuk sekedar basa-basi, Gala bertanya seperti itu karena benar-benar ingin mengetahui hal apa saja yang terjadi saat gadis itu mengikuti ospek di Fakultasnya. Karena mereka berbeda jurusan dan fakultas, Gala jadi tidak bisa mengawasi Riri seintens dulu seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA.


Gala di fakultas ekonomi dan bisnis dengan jurusan manajemen bisnis, sementara Riri ada di fakultas bahasa dan seni dengan jurusan sastra Indonesia. Letak gedung fakultas mereka berjarak cukup jauh. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Gala malas untuk menghampiri Riri setiap ospeknya selesai.


Riri nyengir. "Gak kena omel kok. Cuma bosen aja dengerin pidato dari Kakak-Kakak panitia yang gak Riri ngerti lagi bahas apa."


"Enggak kok hehe..." bohong Riri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dalam hati Riri berdoa semoga Gala tidak tahu kalau dirinya tengah berbohong.


Gala tersenyum. Cowok itu mengusap pipi Riri beberapa kali.


"Capek gak, sayang?"


"Dikit."


Gala beralih mengacak puncak kepala Riri hingga poni depan gadis itu menjadi berantakan. "Ya lo mah kerjaannya rebahan mulu kaya orang habis lahiran, makanya gerak dikit capek."



"Tapi Riri beneran capek tau meksipun banyakan duduknya dari pada kegiatannya."


Terkekeh, Gala merangkul pundak Riri lalu berucap lembut.


"Karena hari ini lo gak bandel, hari minggu gue traktir lo es krim. Mau gak?" "Ish! Lama! Kenapa harus hari minggu sih? Kenapa gak sekarang aja? Atau besok?"


"Habis nganter lo pulang gue harus selesaiin kerjaan kantor gue. Besok juga. Kan liburnya cuma hari sabtu sama minggu. Tapi takutnya hari sabtu gue gak bisa, jadi hari minggu aja. Biar gak PHP-in lo."


"Gimana? Kalo gak mau ya udah. Biar gue traktir cewek la--"


Riri mendengus pelan. "Iya mau!"

__ADS_1


"Pipi Gala merah. Gala habis dipukul siapa?"


Gala segera menutupi pipinya dengan telapak tangan. "Gak.


Ini bukan dipukul. Ini gatel aja. Mungkin gue alergi makanan."


Sebenarnya itu hanya alibi Gala. Gala berbohong. Itu bukan alergi. Melainkan luka bekas pukulan. Saat mengikuti ospek di fakultasnya tadi, Gala sempat kepergok oleh komdis tengah e memandangi foto Riri.


Alhasil Gala harus mendapat hukuman. Namun di tengah-tengah menjalankan hukumannya, sayup-sayup Gala mendengar ada beberapa komdis yang tengah membicarakan foto gadis yang ada di ponselnya, yang tak lain adalah foto Riri.


Mereka bilang Gala terlalu bucin padahal gadis yang ada di ponsel Gala menurut mereka tidak terlalu cantik. Biasa saja. Bahkan terkesan seperti anak culun. Gala yang tidak terima pun langsung menghampiri komdis cowok bermulut cewek itu.


Karena tidak terima melihat Gala yang seolah sok jagoan dan tidak sopan, sang komdis langsung mendaratkan pukulan di pipi Gala dan terjadilah adu jotos di antara mereka yang disaksikan semua maba fakultas ekonomi dan bisnis.


....


....


.


Bersambung


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala Arsenio Abraham?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Dewa?


Pesan buat Danis?


Pesan buat Amora?


Pesan buat Nenda?


Pesan buat Choline?


Pesan buat siapa aja?

__ADS_1


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2