
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
Demi Riri, Gala rela mempermalukan diri. Gala sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri di mata orang lain. Yang terpenting tidak boleh ada orang yang menjelekkan Riri. Sampai kapanpun Gala tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan.
"Sejak kapan Gala punya alergi?"
"Banyak nanya lo!" semprot Gala. "Udah ayo pulang atau lo mau di sini aja sampe malem biar digondol genderuo?"
"Kalo genderuonya ganteng kaya Alan gak papa,"
canda Riri membuat Gala berdecak sebal.
"Alan mulu. Gue tinggal beneran mampus lo!"
"Gak mau!" tolak Riri sambil mencebik kesal.
"Masan cantik-cantik mau ditinggal?!"
"Heleh cantik apaan," sangkal Gala untuk menjahili Riri balik. "Lo tau muka Joko?"
Riri mengangguk polos. Namun gadis itu bisa menebak
apa yang akan Gala katakan selanjutnya. Pasti Gala akan menghina dirinya. Yang namanya Gala, kalau tidak ngegas
ya hobinya menghina.
"Tau, kenapa?! Gala mau bilang muka Riri mirip Joko, kan?!"
"Gak sih," geleng Gala dengan wajah menyebalkan. "Lo lebih mirip Kolor Ijo. Udah jelek, bau got lagi."
Gala mengendus punggung Riri lalu pura-pura menutup hidung. "Tuh kan, bau got. Ayo pulang cepat!"
Riri semakin kesal karena kini Gala menarik bagian belakang kerah bajunya seolah cowok itu sedang menenteng anak tikus.
"Nyebelin!"
Gala terkekeh puas. Di tengah pikirannya yang sedang kacau, menjahili Riri seperti ini bisa membuatnya sedikit lupa akan semua masalah yang sedang ia pikul.
"Gala Riri gak bau got!"
Satu alis Gala terangkat. "Masa sih? Coba ntar gue cium ketek
Lo di mobil, bau got apa enggak."
"Gala nyebelin!"
"Iya, i love you too baby," balas Gala. Tawanya terdengar semakin puas melihat Riri merajuk. "Sini peluk dulu dong. Biar gue bisa cium bau got apa enggak."
Riri mendekat. Namun gadis itu tidak langsung memeluk Gala karena gengsi. Gadis itu ingin Gala yang memeluknya terlebih dulu.
"Ri-eh sorry...ganggu."
Gala mengurungkan niatnya yang siap memeluk Riri lalu mengalihkan atensinya pada cowok di hadapannya yang berekspresi begitu santai.
__ADS_1
"Ri, ini pulpen lo, tadi mau gue balikin pas gue selesai dihukum, tapi ternyata lo masih istirahat di ruang kesehatan. Terus pas udah selesai ospek, lo nya nyelonong keluar gitu aja. Jadi gue gak sempat balikin."
Berbeda dengan Riri yang bergeming di tempatnya dan tidak
berani menatap Gala karena takut dengan amukan cowok itu.
Gala, cowok itu justru menatap Riri penuh penekanan.
"Lo bohongin gue?!"
....
"Ri, ini pulpen lo, tadi mau gue balikin pas gue selesai dihukum, tapi ternyata lo masih istirahat di ruang kesehatan. Terus pas udah selesai ospek, lo nya nyelonong keluar gitu aja. Jadi gue gak sempat balikin."
Berbeda dengan Riri yang bergeming di tempatnya dan tidak berani menatap Gala karena takut dengan amukan cowok itu. Gala, cowok itu justru menatap Riri penuh penekanan.
"Lo bohongin gue?!"
"Gala, ma--"
"Pulang!"
Gala menarik pergelangan tangan Riri setelah melempar asal pulpen yang Rafa kembalikan. Tak lupa, cowok itu juga melayangkan tatapan permusuhan pada Rafa.
"Jangan kasar, Bro. Dia cewek," celetuk Rafa.
Gala menghentikan langkahnya. Ia menatap Rafa dengan senyum devil. "Ya, Riri emang cewek. Cewek gue," jawab Gala memberikan penekanan pada kata cewek gue. Sengaja, agar Rafa sadar diri.
Rafa diam. Cowok itu tetap terlihat santai. Tidak seperti Gala yang tampak menggebu-gebu seolah ingin menghantam wajah Rafa menggunakan kepalan tangannya lalu melempar tubuh cowok itu ke tengah laut hingga tidak bisa kembali ke daratan.
Gala merangkul pinggang Riri mesra. "This is my girl. Gue harap lo tau diri dan sadar diri buat gak caper ke dia."
.....
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang berani Riri ucapkan setelah mereka masuk ke dalam mobil. Kata tersebut juga seolah menjadi kata penutup obrolan mereka. Karena kini Gala hanya diam, fokus menatap jalanan di depan.
Riri yang tidak mau membangkitkan jiwa iblis dalam diri Gala, juga memilih untuk tetap tutup mulut hingga mobil yang Gala kemudikan berhenti tepat di depan rumah Riri.
Untuk beberapa detik Riri hanya diam. Riri sengaja menunggu Gala membukakan pintu mobil seperti yang biasanya cowok itu lakukan. Namun sayang, sepertinya kali ini Riri yang terlalu berharap. Karena faktanya, Gala tetap diam di tempatnya dengan tatapan lurus ke depan. Tidak ada tanda-tanda cowok itu akan keluar dan membukakan pintu mobil untuk Riri.
Menghela napas, Riri melepas seatbelt lalu menoleh ke arah Gala sekilas sebelum akhirnya berujar pelan sambil menunduk takut. "Riri turun dulu ya. Gala jangan marah. Kalo Gala mau denger penjelasan dari Riri, nanti Riri bakal jelasin semuanya."
Tidak ada respon yang Riri dapatkan selain keterdiaman
dan tatapan datar Gala.
"Maaf."
Setelah kata maaf kembali Riri ucapkan untuk kedua kalinya, Riri berniat segera turun dari mobil Gala. Namun pergerakan Riri terhenti karena merasa pintu mobilnya tidak bisa ia buka. Sepertinya pintu mobil sengaja Gala kunci.
"Siapa yang nyuruh lo turun?"
Glek. Riri menelan ludahnya kasar. Gadis itu kembali membenarkan posisi duduknya dan tidak berani menjawab ataupun menatap ke arah Gala. Dari nada suaranya, Riri tahu, jika saat ini Gala memang sedang marah.
Cukup lama mereka saling diam. Berkali-kali juga Riri mendengar helaan napas yang keluar dari bibir Gala. Seolah cowok itu sedang menahan diri untuk tidak marah pada Riri. Sampai akhirnya Gala kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Lo sakit?"
Pertanyaan itu membuat Riri mau tak mau memberanikan diri untuk menatap ke arah Gala meski hanya untuk sepersekian detik saja. "S-sebenernya Riri gak sakit. Riri ketiduran," cicit Riri takut-takut. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik ia berkata jujur sejujur-jujurnya.
__ADS_1
"Terus?"
"Karena Rafa gak mau Riri dihukum gara-gara ketiduran di
tengah acara, jadinya Rafa bohong. Rafa bilang kalo kepala
Riri sakit karena kena pukul Rafa. Akhirnya Rafa yang dihukum dan Riri disuruh istirahat di ruang kesehatan."
"****!" umpat Gala memukul kemudi di depannya dengan
pukulan yang cukup kencang."
Melihat hal itu, Riri sedikit terlonjak kaget. Namun sebisa mungkin Riri menetralisir rasa kagetnya agar Gala tidak mengetahuinya. Bukannya apa, Riri hanya takut kemarahan Gala akan kembali meledak seperti beberapa waktu yang lalu. Riri tidak mau hal itu terjadi. Lagi.
"Lihat gue." Perintah Gala tenang namun penuh penekanan. Sayangnya bukan menurut, Riri justru takut dan semakin menundukkan kepala.
"Lihat gue!" ulang Gala mulai kesal.
"Ck!" decak Gala kasar. "Lihat gue Sri!"
"M-maaf," ucap Riri dengan lelehan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
....
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1