CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
93.


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


Tut. Gala mematikan sambungan telfon Ilham dan segera mengendarai motornya ke tempat yang Ilham sebutkan..


Setelah sampai, dengan semangat empat lima, Gala berlari memasuki area taman. Gala tersenyum lega ketika mata elangnya berhasil menangkap sosok yang sejak tadi ia cari dan ia khawatirkan.


Riri, gadis itu berdiri tepat di sebelah Ilham.


"Lo gak papa?" tanya Gala menghampiri mereka.


Gala memerhatikan Riri dari ujung atas sampai bawah secara teliti. Gala hanya ingin memastikan jika gadisnya itu tidak kenapa-kenapa. Tidak lecet barang sedikitpun. Memastikan bahwa Riri memang baik-baik saja. Karena jika terjadi hal buruk pada Riri maka itu adalah bencana besar bagi Gala.


Riri, gadis dengan training berwarna hitam dan kaos putih oversize, juga dengan sendal jepit berwarna pink itu menggeleng polos.


Gala menghela napas lega. Ia segera menarik Riri ke dalam pelukannya seolah takut kehilangan. Rasanya seperti ada yang kurang, jika mengkhawatirkan Riri, lalu setelah menemukan gadis itu ia tidak memeluknya. Maka dari itu Gala tidak peduli dengan keberadaan Ilham. Gala akan tetap melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan.


"Ekhem," dehem Ilham merasa tidak dianggap sejak tadi. "Gue orang bukan lampu taman. Pala gue juga gak botak kaya pala bokap gue, jadi gue gak mirip sama lampu taman."


Gala melirik Ilham kesal. "Ganggu!" semprot Gala. Bukannya melepaskan pelukannya, Gala justru sengaja mempererat pelukan mereka.


"Panas banget. Kayanya di sini tercium aroma-aroma penghuni neraka," sindir Ilham mengibaskan kedua tangannya di depan wajah seolah ia sedang kepanasan.


Dengan berat hati, ralat, dengan sangat-sangat berat hati Gala melepaskan pelukannya. Gala menatap Riri penuh selidik. "Lo ngapain tiba-tiba.."


"Dia nyariin lo, Gal," sela Ilham cepat. Melihat gelagat Gala


ingin memarahi Riri, sepertinya ia harus cepat ikut andil


untuk menjelaskan pada Gala apa yang sebenarnya terjadi.


Ilham tidak tega jika melihat Riri dimarahi oleh Gala. Karena saat bersamanya tadi, Riri tampak lebih banyak diam. Tidak berisik dan banyak bertanya seperti Riri yang biasanya Ilham kenal. Ilham jadi merasa kalau saat ini keadaan Riri memang kurang baik.


Satu alis Gala terangkat karena tidak paham dengan ucapan

__ADS_1


Ilham.


Ilham mendengus pelan. "Tadinya gue mau ke apart lo buat minjam motor. Motor gue disita bokap karena gue ketahuan ikut balap liar," jelas Ilham. Memang tadi niatnya ke apart Gala hendak menukar mobilnya dengan motor milik Gala untuk sementara waktu. Karena Ilham juga tahu, Gala jarang sekali menggunakan motor jika pergi bersama Riri. Jadi, Ilham pikir, ia bisa menggunakan motor milik Gala sampai ayahnya mengembalikan motornya.


"Eh terus gak sengaja liat Riri duduk di depan pintu apart lo. Karena lo gak angkat-angkat telfon dari gue, gue ngajak Riri


Ke taman ini. Soalnya Riri gak mau gue antar pulang. Dia mau nunggu lo," lanjutnya.


Gala menatap Riri bingung. "Lo kan tau password pintu apart gue. Kenapa gak langsung masuk?"


Riri balas menatap Gala dengan tatapan sedih sembari kedua


tangannya memilih ujung kaos. "Riri lupa," jawabnya lirih..


"Hem," decak Gala tidak habis pikir. Bagaimana bisa lupa padahal password pintu apartemen Gala adalah tanggal lahir Riri dan tinggal dibalik saja urutannya.


Gala beralih menatap Ilham lalu melemparkan kunci motornya pada cowok tengil itu.


"Nih pakai, Cepat pergi!" usir nya.


Ilham tersenyum lebar. Salah satu keuntungan berteman dengan Gala adalah, cowok itu tidak pernah pelit dan perhitungan dengan temannya. Selalu dengan cuma-cuma mau membantu atau meminjami selagi hal tersebut bisa dan mampu Gala lakukan.


"Makasih, Bos. Mobil gue udah gue parkir di basement."


"Kalo lo lecetin, pala lo jaminannya," ancam Gala dengan ekspresi datar.


Ilham mengangguk lalu segera naik ke atas motor Gala. Ilham pergi setelah melambaikan tangannya pada Gala dan Riri.


"Udah!" Gala mengarahkan wajah Riri untuk beralih menatapnya karena merasa Riri terlalu lama menatap kepergian Ilham.


Riri hanya diam saat Gala menarik tangannya.


Ternyata Gala mengajaknya untuk duduk di bangku taman.


Suasana taman memang sudah sepi karena sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Hanya tersisa beberapa orang yang duduk di kafe sekitar taman.


"Sinian!" suruh Gala melihat Riri duduk dengan menjaga jarak yang cukup jauh darinya. Tentu saja Gala tidak menyukai hal itu. Karena seolah-olah Riri enggan berdekatan dengan dirinya.


"Kenapa?" Gala mengangkat dagu Riri setelah gadis itu mau mendekat. "Kenapa lo ke apart gue tapi gak bilang ke gue dulu? Terus kenapa lo gak bawa hape? Mau jadi bocil bandel, hem?"


Riri diam. Sekarang gadis itu justru semakin takut menatap

__ADS_1


Gala. "Jawab!" geram Gala. "Cemberut mulu, lo ngegoda gue, hem?!"


Melihat pergerakan Gala yang sedikit mencurigakan, dengan segera Riri menjawab. "Tadi Riri buru-buru. Jadi hape Riri ketinggalan," jawabnya sembari berusaha memundurkan wajahnya.


Gala melepaskan tangannya dari dagu Riri. Tangan cowok itu pindah ke atas pundak Riri. Gala mengguncang pelan kedua pundak itu. "Lo tau gak?! Gue itu panik setengah mati nyariin lo! Lo seneng liat gue khawatir kaya gitu? Lo sengaja pengen


buat gue kam--" Gala hampir saja keceplosan mengenai keadaannya tadi. Cowok itu langsung berusaha mengalihkan pembicaraannya.


"Kenapa lo ke apart gue?" tanya Gala lebih tenang.


Bukannya menjawab pertanyaan Gala, mata Riri langsung berkaca-kaca. Riri menubruk kan kepalanya ke dada bidang Gala. Kedua tangan mungilnya melingkari pinggang Gala begitu erat. Seolah ketakutan.


Gala tidak bertanya apa-apa. Gala hanya membalas pelukan Riri sambil sibuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada Riri. Sepertinya gadis itu kesusahan untuk menyampaikan perasaannya.


"Kita masuk aja ke dalem, di sini dingin," ajak Gala. Kedua


tangannya masih sibuk mengusap kepala hingga punggung Riri dengan gerakan lembut. Riri melepaskan pelukannya lalu menggeleng. "Riri mau di sini."


"Kenapa nangis, hem?" tanya Gala lembut. "Maaf ya, gue gak niat bentak lo. Gue cuma panik."


....


Bersambung


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat


Pesan buat


Pesan buat


Pesan buat

__ADS_1


Pesan buat siapa aja?


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2