CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Gala Di pukul Bang Dewa


__ADS_3

"Jawab!"


Melihat Riri hanya diam menunduk. Rasanya emosi Gala kembali tersulut. Perlu diketahui, Gala ini tipe orang yang gampang meledak dan tersulut emosi kapanpun dan di manapun. Meskipun bucin, kadang Gala tetap tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak bersikap kasar pada Riri. Ya, seolah-olah kadang dia tidak bisa membedakan, mana tunangannya yang harus ia lembuti, mana musuhnya yang boleh ia kasari.


Karena jika cowok itu sudah tenggelam dalam emosinya sendiri, Gala jadi sulit membedakan dan memposisikan dirinya dengan benar. Seakan-akan detik itu juga ia menjadi gelap mata.


"Telinga lo utuh? Harusnya lo denger apa yang gue bilang kan?" Tanya Gala penuh penekanan.


PYARR!!!


Gala membanting gelas di sampingnya saat Riri tak kunjung membuka suara. Justru sekarang gadis itu terisak ketakutan. Untuk pertama kalinya, setelah waktu yang cukup lama. Sikap kasar Gala mulai muncul lagi.


"JANGAN NANGIS!" Bentak Gala. Hingga membuat beberapa anak Drax yang ada di sana menoleh. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani menghentikan amarah Gala.


Hanya Alan, Ilham dan Akbar lah, yang biasanya berperan penting dalam keadaan seperti ini. Namun savang, salah satu dari mereka tak ada yang di sini.


"Riri minta maaf hiks..." Tangis Riri semakin menjadi-jadi melihat kemarahan Gala meledak-ledak tak terkontrol.


Mbok, wanita paruh baya yang sejak tadi memerhatikan mereka itu juga tidak berani mendatangi Gala.


"GUE CAPEK KALO LO BANDEL KAYA GINI, RI!"


"GUE UDAH BIL..."


BUGH


BUGH


Tubuh Gala jatuh tersungkur ke tanah begitu dua bogeman mendarat di pipi kanan dan kirinya.


"Bangsat lo!"


******


BUGH


BUGH


Tubuh Gala jatuh tersungkur ke tanah begitu dua bogeman mendarat di pipi kanan dan kirinya.


"Bangsat lo!"


Dewa menyeret Gala dan hendak membogem wajah Gala lagi, jika saja Riri tidak berteriak memanggilnya.


"Abang!"


Riri berlari ke arah Dewa sambil mengusap

__ADS_1


air matanya kasar.


"Abang jangan," cegah Riri.


Begitu Riri memeluknya, Dewa merasa seolah semua emosinya yang tadi sempat meledak-ledak kini sirna entah kemana. Dewa meneliti wajah sembab Riri penuh kekhawatiran. "Lo gak papa?" Tanya Dewa begitu lembut lalu membalas pelukan Riri tak kalah erat.


Kepala Riri menggeleng di dada bidang Dewa. "Bang Dewa jangan pukul Gala lagi hiks."


Bukan, Riri tidak bermaksud untuk membela Gala yang jelas-jelas sudah melakukan kesalahan. Hanya saja, Riri tidak mau abang dan tunangannya itu terlibat masalah lebih jauh di tempat umum seperti sekarang.


Menghembuskan napas kasar, cowok yang terlihat mengenakan jaket kulit berwarna hitam itu sempat menatap sengit ke arah Gala yang sudah berdiri di bantu oleh teman-temannya sebelum pandangan Dewa kembali jatuh pada Riri.


"Gue tadi ke sini mau nganter susu punya lo yang ketinggalan, Ri." Dewa mengusap lembut punggung Riri lalu tertawa sinis ke arah Gala. "Eh gak taunya, gue malah mergokin cowok lo yang toxic ini."


"Lepasin Riri!"


Dewa semakin geram. Emosinya yang tadi sempat teredam, kini kembali ingin meluap mendengar permintaan Gala. "Setres lo! Lo udah bentak-bentak


adek gue! Sekarang nyuruh-nyuruh gue!"


"Inget! Lo sama Riri itu baru tunangan, Gal. Kapan aja Riri bisa pergi ninggalin lo. Jadi--"


BUGH


BUGH


BUGH


"GALA!!!"


Mata Riri kembali memanas melihat Gala membogem wajah Dewa membabi buta. Riri pun sampai terlonjak kaget karena tadi pelukannya dan Dewa harus terlepas begitu saja.


"Apa? Lo mau belain dia?" Gala menatap Riri dengan tatapan marah. Tentu saja hal itu membuat Riri semakin terluka. Tidak biasanya Gala begini.


Kepala Riri menggeleng tidak percaya. Air matanya terus berjatuhan tanpa henti. "Gala jahat!" Ucap Riri sedikit bergetar.


Gala bungkam. Tangan cowok itu semakin terkepal kuat saat melihat Riri menghampiri Dewa dan membantu Dewa berdiri.


"Abang, ayo pulang."


"Ri--"


"Gal, jangan." Ilham mencegah Gala saat cowok itu hendak menarik tangan Riri secara paksa. Alan dan Akbar pun sama. Mereka heran, kenapa sikap Gala yang satu ini susah sekali dihilangkan.


Emosian.


"Arrrghhh, anjing!" Umpat Gala menatap kepergian Riri dan Dewa dari WBS. Gala mengacak-acak rambutnya, terlihat begitu frustasi.

__ADS_1


"Kontrol emosi lo atau lo akan kehilangan Riri."


Gala menatap Alan tidak terima. "Gue gak bakal kehilangan Riri!" Tekannya. "Sampai kapanpun!"


"Harusnya lo gak perlu pukul Gala, Wa."


Dewa menatap Danis tidak terima. "Lo mau belain dia?! Riri dibentak-bentak sama dia! Sebagai abang, gue jelas gak terima lah!"


Danis menghembuskan napas lelah melihat Dewa salah tangkap maksud dari ucapannya. "Gue juga gak terima. Tapi seenggaknya lo gak usah memperkeruh keadaan kaya gitu."


"Terus gue harus ngapain?! Bagi gue ngasih dia tonjokan itu satu-satunya balasan yang adil!"


Dewa berdiri, lalu pergi meninggalkan Danis dan Riri berdua di ruang tengah.


"Gala sering kaya gitu?"


"Gitu gimana?" Mata Riri mengerjap beberapa kali. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan Danis.


"Bentak-bentak lo. Kasar sama lo."


Setelah paham, Riri menggeleng. "Enggak kok. Gala emang suka marah-marah, tapi kalo bentak-bentak kaya tadi, jarang."


"Kalo dia kaya gitu lagi. Kasih tau gue, ya?" Danis mengusap pelan puncak kepala Riri.


"Abang?"


"Hm?"


"Kalo Riri marah sama Gala, Riri salah gak?"


Danis tampak terdiam sejenak. "Kalo lo masih kesel, gak papa diemin dulu. Tapi jangan keterusan. Lo harus inget, Gala itu sayang banget sama lo. Cuma kadang cara dia buat nunjukin rasa sayangnya emang agak salah."


"Jadi Riri boleh diemin Gala dulu?"


"Boleh," angguk Danis tersenyum tipis. "Untuk masalah ini, lo gak perlu cerita ke mama atau papa, ya. Biar gak makin ribet."


"Arrrghhh anjing!" Gala mengacak rambutnya frustasi.


Ini bukan umpatan kasar yang pertama kali terlontar dari mulut Gala. Pasalnya sejak pertama kali datang ke markas Drax, Gala sudah uring-uringan tidak jelas. Bahkan tadi meja yang tidak bersalah apa-apa hampir Gala banting hanya karena kakinya tersandung oleh meja itu. Beruntung ada Alan, Ilham dan Akbar yang langsung mencegah niatan Gala.


"Gal, jangan lupa. Besok jadwalnya Wulan


ketemu sama Joko."


Gala berdecak. Ia menatap kesal ke arah Ilham di sampingnya. Ilham ini mengganggu lamunannya saja. Padahal tadi Gala sedang asyik melamun tentang Riri. "Bodo amat!" Ketus Gala.


"Eh, lo gak bisa gitu dong, Gal," protes Ilham. "Kasihan mereka kalo gak jadi ketemu. Sebagai orang tua yang baik, kita harus pengertian sama mereka," cerocos Ilham sok menasehati. Membuat mood Gala yang memang sedang buruk jadi semakin buruk.

__ADS_1


__ADS_2