CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Ku Tunggu Jandamu


__ADS_3

"Kenapa gak minjem ke Nenda atau Choline dulu?


Kan nanti bisa gue ganti?"


Riri menatap Gala dengan kedua mata mengerjap. "Gala pernah bilang kalo ada apa-apa langsung hubungi Gala. Tadi Riri telfon tapi Gala gak angkat. Riri chat juga gak Gala bales."


Gala berdecak kasar sembari menyenderkan kepalanya di sofa. "Ya iyalah, gue masih adu bacot tadi."


"Gala tadi berantem?"


"Belom, adu bacot doang," jawabnya jujur.


"Kalo belom, berarti nanti-nanti bakal berantem dong?" Tanya Riri sedih. "Kan Riri udah bilang, Gala gak boleh berantem-berantem lagi. Nanti kalo Gala kalah berantem terus mati, Riri jadi janda dong?"


Gala melirik Riri kesal. "Paan sih, ngawur banget omongan lo!"


"Riri cuma gak mau jadi janda. Nanti doa-doa


para sopir truk terkabul."


Gala menegakkan tubuhnya sembari menatap Riri bingung. "Doa sopir truk? Lo ngomong apa sih? Ngelantur kemana-mana."


"Ih! Itu di belakang truk kan biasanya ada tulisan 'ku tunggu jandamu'. Tiap Riri liat truk lewat pasti ada tulisannya kaya gitu."


Riri menghela napas panjang. "Itu kan doa sopir truk yang nunggu jandanya cewek-cewek, termasuk Riri. Iya kan?"


Gala memegang dahi Riri. "Oh pantes, bentar gue buatin lo susu dulu biar setres lo ilang," ucap Gala. Cowok itu bergegas menuju dapur untuk membuatkan Riri susu. Daripada terus menerus meladeni ucapan Riri, itu hanya akan membuatnya semakin emosi. Lebih parahnya, ia bisa ketularan menjadi setres seperti Riri.


"Riri mau gambar ah sambil nungguin Gala buat susu," ujar Riri mengeluarkan buku gambar dan alat tulis dari dalam tas nya.


Tidak membutuhkan waktu lama, gadis itu sudah menyelesaikan gambarnya.


"Bagus banget gambaran yang Riri buat, Riri bener-bener berbakat menggambar," angguk Riri memuji dirinya sendiri.


Riri mengetuk-ketukkan pulpennya di dagu. Beberapa detik kemudian gadis itu tersenyum lebar saat ide bagus muncul di benaknya. "Aha! Riri punya ide!"


Riri bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar Gala dengan gambaran yang sudah ia buat tadi.


"Wah, ada bingkai foto kosong." Riri mengambil bingkai foto kosong yang kebetulan tergeletak di sofa kamar Gala. Dengan cepat, Riri memasukkan gambar yang ia buat ke dalam bingkai foto tersebut lalu memasangnya di dinding dekat meja belajar tempat ia dan Gala biasa belajar bersama.

__ADS_1


"Wih keren!" Ujar Riri kagum.


Ceklek


Riri menoleh semangat saat mengetahui Gala masuk ke dalam kamar..


"Gala liat deh! Gambaran Riri bagus banget! Nanti kalo kita belajar pasti tambah semangat, soalnya berasa diliatin sama Spongebob!"


Gala berjalan mendekati Riri. Cowok itu langsung menepuk jidatnya saat melihat gambar seperti apa yang Riri bangga-banggakan.


"Gue gila lama-lama, Ri! Ya Tuhan!"


Gala mendengus. "Mana wajah gue di situ keliatan tertekan banget."


Riri tertawa geli. "Ih! Di gambar itu Gala ganteng banget tau! Kita udah kaya keluarga bahagia!"


"Bahagia-bahagia! Noh liat Spongebob juga tertekan, masa pake sarung?!"


"Itu bukan sarung ih! Itu kan celana Spongebob, cuma Riri kasih motif. Biar lebih estetik."


Gala menggeleng lelah. "Udah, udah, terserah lo,


Riri nyengir menunjukkan deretan gigi


putihnya di hadapan Gala. "Kalo Gala capek


istirahat aja, biar Riri minum susu dulu hehehe..."


"Oh iya, menurut Gala, Riri berbakat menggambar kan? Kalo iya, nanti Riri gak jadi kuliah kedokteran, Riri mau ambil jurusan seni aja."


Gala menatap Riri lelah. Lalu menganggukkan kepala pelan. Membuat Riri memekik girang.


"Yeay Riri berbakat gambar!" Girang Riri melompat-lompat bahagia. Namun senyumnya itu pudar saat mendengar ucapan Gala selanjutnya.


"Lo berbakat, tapi bakat lo adalah bakat yang bener-bener harus dipendam."


*****


"Apa-apaan coba? Masa si Dewa ngelarang gue ketemu sama Riri sampe selesai ujian?! Gak banget!" Oceh Gala saat tiba di markas Drax.

__ADS_1


Ilham yang sejak tadi sudah duduk di teras markas Drax bersama Alan dan Akbar bertanya bingung. "Kok bisa? Gimana ceritanya sampe Dewa tiba-tiba buat peraturan kaya gitu, Bos?"


Gala mengedikkan bahu dengan kedua tangan berkacak pinggang. "Tau, resek banget tuh orang. Padahal selama ini gue yang bimbing Riri buat belajar persiapan ujian. Sampe gue bela-belain make kolor Spongebob kembaran sama Riri tiap belajar bareng, biar Riri mau belaj-"


Gala menelan ludahnya susah payah saat tersadar jika mulutnya sudah keceplosan membeberkan rahasia yang selama ini berusaha ia tutupi rapat-rapat.


"Bangsat mulut gue! Mampus gue ketahuan!"


Umpat Gala dalam hati.


"Tunggu-tunggu, jadi maksud lo, tiap lo belajar bareng sama Riri, lo sama Riri make kolor Spongebob? Couple an gitu?" Akbar masih berusaha mencerna dan memahami ucapan Gala yang membingungkan.


Sementara Gala, cowok itu terlihat sangat gelisah. Karena kini Akbar, Alan dan Ilham, sedang menatapnya dengan tatapan menuntut. "Em, maksud gue-"


"Anjir! Anjir! Jadi dua kolor Spongebob yang


waktu itu gue lihat, itu punya lo sama punya Riri?" Sela Ilham cepat. Beberapa hari yang lalu Ilham sempat dimintai tolong oleh Gala untuk mengambil baju-bajunya di tempat laundry, dan Ilham tidak sengaja melihat dua kolor Spongebob pada tumpukan paling atas.


"Ck! Iya! Puas kalian?!" Decak Gala. Lebih baik dirinya jujur saja, karena untuk saat ini, Gala sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menyangkal lagi. "Mau ketawain gue? Ketawatin aja sampe puas. Tapi abis itu lo semua pulang gak ada kepala!"


"Pfffttt..."


Ilham dan Akbar berusaha mati-matian untuk menahan tawanya. Andai saja, Gala tidak memberikan mereka ancaman demikian, sudah pasti Ilham dan Akbar akan tertawa hingga terjungkal-jungkal.


"Lan, lo gak pengen ketawa apa?" Ilham menatap Alan penasaran. Pasalnya sedari tadi cowok pendiam itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain wajah datar. "Datar amat muka lo kek badan gue.'


Gala berdecak malas. "Itu namanya baru temen gue. Gak kaya lo berdua!" Semprot Gala pada Ilham dan Akbar yang masih berusaha menahan tawa.


"Hebat banget lo, Lan," geleng Ilham kagum. "Gue nih kalo gak Gala ancem udah pasti bakal ketawa sampe terkentut-kentut."


"Gue udah tau sebelum kalian berdua tau,"


balas Alan santai.


Mata Gala spontan membulat sempurna mendengar pengakuan Alan. "M-maksud lo?" Tanya Gala was-was.


Alan menatap Gala, Ilham dan Akbar bergantian. "Waktu kita ganti baju olahraga di kelas, kolor Spongebob lo keliatan, Gal."


"Terus, waktu kita makan bareng di kantin, gue gak sengaja liat wallpaper hape Riri. Wallpaper nya foto lo sama Riri yang lagi duduk di sofa dan make kolor Spongebob kembaran," tambah Alan membuat Gala semakin tercengang. Hanya gara-gara kolor Spongebob, hari ini harga diri Gala benar-benar terinjak-injak.

__ADS_1


__ADS_2