CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
lollipop dari Alan


__ADS_3

"Gak gitu ih!" Riri menghentakkan kakinya semakin kesal. Tidak peduli jika beberapa siswa dan siswi yang masih hilir mudik di tengah lapangan menyaksikan pertengkaran mereka. Lagipula, sejak kapan seorang Riri punya malu? Yang ada selalu malu-maluin, kan?


"Terus gimana?!" Balas Gala dengan wajah nyolot dan tak bersahabat. Gala memang tidak pernah mau kalah jika berdebat dengan Riri saat dalam keadaan keras kepala begini. "Lo sendiri yang bilang kalo lo kenal dia sebelum gue kenal lo! Jadi mulai sekarang kalo ada apa-apa, lo cari dia aja! Jangan cari gue! Dia pasti lebih tau tentang lo daripada gue!"


"Gala!" Riri semakin kesal dengan ucapan Gala. Bukan seperti itu maksud Riri tadi. Tapi sekarang Riri bingung harus menjelaskan bagaimana agar Gala tidak salah paham dan mengerti maksudnya.


"Dah lah gue mau ke kelas!" Final Gala meninggalkan Riri begitu saja. Cowok itu seolah menulikan pendengarannya saat Riri berteriak memanggil-manggil namanya.


"Huaaaa....Riri salah apa?" Tangis Riri pecah seketika. Membuat beberapa orang langsung menatapnya terkejut. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Riri. Mereka masih bisa berpikir waras untuk tidak mencari masalah dengan tunangan sang leader Drax itu. Bisa-bisa mereka kena amuk Gala.


"Gala jahat! Hiks!"


"Jangan nangis."


Riri menoleh dan mulai membuka matanya yang sempat terpejam saat merasa ada tepukan di pundaknya dari belakang.


"Nih, buat lo."


Tangan Riri bergerak untuk mengusap air matanya cepat. Gadis dengan wajah sembab penuh bekas air mata itu menatap kehadiran Alan terkejut.


"M-makasih," ucap Riri menerima uluran permen


lolipop pemberian Alan. Meski sedang kesal, namun rejeki permen lolipop tidak boleh ditolak kan?


"Mau gue anter ke kelas?" Tawar cowok dingin nan irit bicara itu. Alan bicara dengan nada yang begitu tenang. Jauh berbeda dengan Gala yang hampir selalu ngegas.


Riri menggeleng tanda menolak. "Riri kesel sama Gala hiks!" Gadis itu kembali menangis di hadapan Alan tanpa merasa malu.


"Jangan nangis," tenang Alan.


"Tapi Gala jahat!"


Alan tersenyum tipis lalu menepuk puncak kepala Riri pelan. "Makanya lo nurut sama dia. Kalo lo nurut, Gala gak bakal kaya tadi."


******


"Riri!" Teriak Gala di depan kelas Riri.


"Hem! Sekali budek tetep aja budek!"


"SRI KELUAR LO!"

__ADS_1


Gadis dengan permen lolipop di tangannya itu berlari keluar. "Gala, kenapa sih teriak-teriak?! Riri malu!" Protes Riri dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya, tadi Riri tidak mau keluar. Karena masih dalam mode ngambeknya. Tapi karena bujukan dari Nenda dan Choline, akhirnya Riri mau keluar untuk menemui Gala yang sedang mencak-mencak di depan kelas.


"Siniin permen lo!" Gala merebut paksa permen


lolipop dari tangan Riri. "Dapet dari mana lo, hah?!"


Riri melotot tidak percaya saat Gala menjatuhkan permen itu ke lantai. Lalu menginjaknya dengan tidak berperasaan.


"Gue nanya, siapa yang ngasih lo permen ini?! Udah berapa kali gue bilang, lo itu gak boleh kebanyakan makan permen! Masih aja gak nurut!"


"Mau lo apa sih?! Tiap dibilangin ngeyel mulu!"


Riri menatap permen lolipop nya sedih. "Tapi Riri suka!"


"Tipi Riri siki!" Nyinyir Gala. "Kalo gigi lo sakit, nanti nangesss!"


"Siapa yang ngasih lo permen, hah?!"


"Alan," jawab Riri menunduk.


Gala mengusap wajahnya kasar. Ternyata sahabatnya sendiri yang memberi Riri permen lolipop sialan itu.


Riri menggeleng cepat. "Gala jangan marah-marah ih! Riri takut!"


Tangan Riri sibuk mengelap air matanya agar tidak ada orang yang melihatnya menangis. Pasalnya mereka ini sedang ada di depan kelas dan ada beberapa orang berseliweran di sekitar mereka.


"Ikut gue!"


"Kem..."


"Nurut atau besok kita nikah?!"


Riri diam mendengar ancaman Gala yang terdengar tidak main-main. Gadis dengan poni depan dan wajah sembab karena kebanyakan menangis itu, mengikuti langkah lebar Gala.


Ternyata Gala membawanya ke WBS, warung belakang sekolah.


"Mbok, air putih satu gelas."


"Iya, den."


"Duduk."

__ADS_1


Gala menarikan Riri satu kursi untuk duduk.


Setelah gadis itu dan dirinya sudah duduk di kursi masing-masing. Gala mulai menatap Riri begitu intens.


Sementara Riri, gadis itu sama sekali tidak berani mengangkat kepala. Apalagi menatap Gala yang duduk di seberangnya.


"Ini, den. Ada yang mau dipesen lagi?" Tanya Mbok ramah.


"Gak ada, Mbok. Nanti kalo ada, Gala bilang."


"Oh, siap, den."


"Minum dulu." Gala menyodorkan satu gelas air putih ke hadapan Riri. Tapi bukannya menuruti ucapan Gala, gadis itu justru tampak asyik dalam keterdiamannya.


"Minum pake mulut lo sendiri apa minum lewat mulut gue?!"


Riri segera meraih gelas di hadapannya dan meminum air itu hingga habis tak tersisa. Hal itu tentu saja membuat senyum puas Gala perlahan merekah.


"Udah, sekarang waktunya gue sidang lo." Gala tak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Riri yang tampak ketakutan. "Pertama, kenapa lo masih ngobrol sama Rafa, padahal gue udah ngelarang lo?"


Riri mengangkat kepalanya hendak menyela. Tapi gagal, saat Gala memelototinya bak emak-emak galak yang memarahi anaknya.


"Jangan disela!"


Gala mendengus kasar. "Kedua, lo udah buat gue tersinggung dengan bilang kalo lo dan Rafa udah saling mengenal jauh sebelum gue kenal lo. Oke, gak papa kalo itu emang kenyataannya. Tapi gue gak suka kalo lo bahas itu di depan gue. Apalagi waktu gue marah."


"Harusnya lo tau, gue paling gak suka kalo ada orang yang sok-sokan mengenal lo lebih dari gue. Jangankan Rafa, kalopun itu abang lo, gue tetep gak suka."


"Ketiga, kenapa lo terima permen lolipop pemberian Alan? Bukannya gue udah sering ingetin lo. Lo gak boleh keseringan makan makanan manis. Apalagi permen. Lo itu bisa sakit gigi, paham gak sih?"


"Minggu kemarin lo udah makan dua permen, jadi minggu ini harusnya gak ada jatah permen buat lo."


"Tap..." Baru saja Riri ingin membuka suara untuk membela diri. Namun lagi-lagi tatapan Gala membuat nyali Riri menciut.


"Keempat, kenapa waktu gue panggil di depan kelas, lo gak keluar? Lo lebih suka kalo gue teriak-teriak kaya tadi?"


Gala tersenyum miring. "Oke, kalo itu mau lo. Gue bakal terus manggil lo kaya tadi. Biarin aja lo malu. Gue gak peduli."


"Sekarang lo boleh jawab."


Bukannya menjawab, Riri hanya diam saja. Ia bingung harus menjawab mulai dari mana. Apapun jawabannya untuk membela diri, sudah pasti akan salah di mata Gala. Lagipula, saat ini Riri merasa sangat kesal dengan Gala. Cowok itu seolah tidak mau mengerti dengan perasaannya. Egois.

__ADS_1


__ADS_2