CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Papa kangen Riri


__ADS_3

"Hm," angguk Gala malas. Kolor Hello Kitty yang juga pemberian Riri saja baru ia pakai satu kali, sekarang ada lagi yang harus Gala pakai. Ada jadwal pakainya pula.


"Yeayyyy!!!"


"Yay yey yay yey!" Semprot Gala. "Sini peluk gue dulu."


Saking senangnya, tanpa disuruh dua kali, Riri langsung menuruti permintaan Gala. Memeluk Gala dengan begitu erat untuk menyalurkan rasa bahagia di hatinya.


"Seneng, hm?" Tanya Gala menciumi aroma


wangi stroberi di rambut Riri.


"Iya, Riri seneng soalnya sekarang Gala lebih


sering nurutin kemauan Riri. Gak kaya dulu yang


cuma marah-marah doang."


"Makanya lo harus nurut sama gue. Kalo kata gue A ya A, kalo kata gue B ya B. Jangan ngebantah mulu."


"Iya."


"Iya-iya mulu. Paham gak?"


"Paham ih!"


Gala tersenyum kemenangan. Kalau bukan karena ingin cepat-cepat menikah dengan Riri setelah lulus sekolah nanti, Gala tidak mungkin sesemangat ini melakukan berbagai cara demi membuat Riri rajin belajar agar bisa lulus ujian.


*****


"Papa!"


Riri menoleh kaget, saat melihat Eza Papanya sedang berdiri di depan pintu kamar Riri yang memang terbuka lebar.


"Papa kangen," ucap Eza memeluk Riri yang menghampirinya. "Padahal cuma seminggu kita gak ketemu tapi kangennya Papa udah kaya satu tahun."


Riri tersenyum bahagia dalam pelukan Eza.


"Papa sih gak pulang-pulang!" Balasnya dengan


nada sedikit merajuk.


"Papa kan kerja sayang," jawab Eza lembut.


Eza melepaskan pelukan mereka lalu menuntun Riri duduk di tepi tempat tidur. "Pagi-pagi gini kok udah rapi banget? Semangat banget sekolahnya, hem?"


Riri nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Riri kan udah kelas dua belas, jadi Riri harus semangat. Bentar lagi ujian hehe."


Eza mengacak rambut Riri pelan. "Kalo nanti nilai ujiannya bagus, mau minta hadiah apa dari Papa?


Papa kasih deh, apapun itu."


"Boleh? Apa aja?" Tanya Riri dengan mata berbinar penuh semangat.


"Hem, apa aja."

__ADS_1


Riri tampak begitu bahagia mendengarnya. "Em, Riri pengen-" Riri ragu untuk mengutarakan kemauannya, namun sebenarnya hal ini sudah Riri inginkan sejak


lama. Hanya saja, ia tidak berani mengatakan pada Eza. Takut Eza marah dan berujung menjadi masalah.


"Pengen apa?" Satu alis Eza terangkat. "Bilang aja sayang, apapun itu, selagi Papa bisa kasih ke kamu, Papa bakal kasih." Kata Eza menyakinkan.


"Tapi Papa jangan marah."


Eza justru terkekeh. Menggemaskan sekali anak perempuan satu-satunya ini. Pantas saja Gala tergila-gila dengan anak gadisnya. "Iya, Papa gak akan marah. Ayo bilang, kamu mau apa?"


Riri menatap Eza sedikit ragu. "Kalau nilai ujian Riri bagus, Riri gak minta apa-apa kok dari Papa, Riri cuma pengen Papa ceritain ke Riri tentang masa lalu Bunda sama Papa. Riri....pengen tau."


Karena melihat keterdiaman Eza yang cukup lama,


Riri buru-buru menambahkan. "Tapi kalo Papa gak mau cerita, gak papa kok Riri"


Eza meraih tangan Riri lalu berujar dengan senyum


tipis di wajahnya. "Iya, nanti kalo nilai ujian kamu bagus, Papa bakal ceritain semua ke kamu."


Senyum Riri mengembang semakin lebar. Ia kira tadi Eza akan marah tapi ternyata hal itu sama sekali tidak terjadi. "Makasih Papa."


Eza menarik Riri ke dalam dekapannya. Entah kenapa suasananya berubah menjadi haru. Ada sesuatu yang membuat dada Eza terasa sesak saat mengingat kisah masa lalunya dengan ibu kandung Riri, Desi.


"Sama-sama, sayang."


"Eh, gimana belajar kamu sama Gala? Kalo lagi


belajar kalian masih tetep pake celana Spongebob itu? Muka Gala masih tertekan gak setiap kalian pake celana Spongebob couple-an?"


Eza terkekeh. Ia sengaja mengalihkan obrolan mereka


Riri tertawa kecil. "Enggak kok, sekarang Gala


udah gak tertekan lagi. Gala udah biasa."


Eza ikut tertawa. Ia tahu semuanya karena beberapa waktu yang lalu, Riri sudah menceritakan semua ke Eza dan Vina. Bahkan dua abang Riri juga tahu. Sampai-sampai setiap Gala datang ke rumah Riri, Danis dan Dewa sengaja menggoda Gala. Terutama Dewa, cowok itu sangat puas melihat Gala tertekan dengan syarat-syarat aneh yang Riri berikan.


"Lancar juga kan belajarnya?" Tanya Eza setelah tawanya dan Riri sedikit mereda.


"Lancar, kalo Gala mau pake celana Spongebob,


Riri seneng, jadi belajarnya bisa fokus."


Eza mengangguk paham, Pemikiran anak gadisnya ini memang out of the box. Berbeda dari lain. "Hem, kalo gitu Papa juga seneng. Gak perlu keluarin uang buat biaya les di tempat bimbel hahahaha."


Tentu saja Eza berkata begitu hanya sekedar bercanda. Baginya keluar uang sebanyak apapun tidak akan sebanding dengan besarnya kebahagian yang ia dapat semenjak ada Riri di dalam hidupnya.


"Riri juga lebih seneng belajar sama Gala. Soalnya


kalo belajar sama orang lain, pasti orangnya gak mau pake celana Spongebob."


Eza mengacak-acak gemas poni depan Riri.


"Ya udah, Papa mau siap-siap ke kantor. Kalo kamu udah siap semua, langsung turun ke bawah ya. Kita sarapan bareng," ucap Eza melepaskan pelukannya dengan Riri.


Riri mengangguk semangat. "Siap Bos!"

__ADS_1


Setelah Eza keluar dari kamarnya. Riri beralih menatap laci di sebelah tempat tidur. Ia membuka laci itu untuk mengambil sesuatu.


Riri mendekap erat sebuah figura kecil. Matanya tampak berkaca-kaca. Namun ia tahan sekuat mungkin agar air matanya tidak menetes dan meninggalkan bekas di pipinya.


"Bunda, Riri kangen..."


*****


"Lama amat lo."


Riri mencebik kesal mendengar cibiran Gala.


"Riri baru selesai nyatet. Terus tadi ngerjain banyak tugas."


"Tapi Nenda sama Choline udah keluar dari tadi."


"Mereka Riri suruh ke kantin duluan. Soalnya Riri kalo nyatet lama."


Gala mengangguk paham. "Cape gak tangan lo?" Tanyanya sembari menggandeng tangan Riri menuju kantin.


"Cape."


Gala membawa tangan Riri ke depan bibirnya,


lalu ia kecup beberapa kali. "Ntar gue pijitin."


Riri mendongak, menatap Gala dengan mata mengerjap polos. "Apanya?"


"Tangan lo lah, ya kali ketek lo."


Riri tertawa. "Ketek Riri basah kalo lagi keringetan.


Bau gak ya?"


"Hem! Udah stop!" Gala menepuk pelan jidat Riri.


"Kita mau makan! Jangan bahas yang aneh-aneh!"


"Gal!"


Gala menoleh ke belakang mendengar panggilan dari Akbar.


"Duduk," suruh Gala setelah menarik kan Riri satu


kursi di depan meja kantin.


"Gal, itu"


Belum selesai Akbar melanjutkan ucapannya,


Gala lebih dulu memberi kode agar Akbar diam.


"Lo di sini dulu. Gue mau ngomong sama Akbar bentar."


"Jangan lama-lama, Riri laper."


Gala mengangguk dan memberi usapan pelan

__ADS_1


di puncak kepala Riri. "Bawel lo bocil."


__ADS_2