CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
66.Hadiah Dari Abang Danis


__ADS_3

******


Tok tok tok


"Riri, gue boleh masuk gak?" Tanya Danis dari luar kamar.


Riri yang baru saja menutup telfon dari Gala


menjawab cepat. "Boleh."


Ceklek


"Kenapa?"


Pertanyaan itu membuat Riri bingung. "Kenapa apanya?"


Danis menghela napas lalu ikut duduk di tepi ranjang,


tepat di samping Riri. "Muka lo kaya kesel gitu. Berantem sama Gala, lagi?"


Riri terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab


dengan jujur. "Gala nyebelin! Gak mau ngajak Riri jalan-jalan."


"entar malem jalan-jalan sama Abang Mau?"


Mata Riri tampak berbinar-binar mendengar ajakan


Abang Danis. "Beneran?!"


Danis mengangguk. "Lo mau jalan-jalan ke mana?"


"Ke mall, boleh? Riri mau beli baju sama sepatu."


Danis mengusap-usap puncak kepala Riri.


"Boleh. Gue beliin apapun yang lo mau."


"Oh iya, gue punya sesuatu buat lo." Danis mengambil


sesuatu yang ia maksud dari dalam saku celananya.


Riri bertanya bingung saat Danis mengulurkan kotak kecil padanya. "Apaan?"


"Hadiah buat lo."


Karena penasaran, Riri langsung membuka kotak pemberian Danis. Alangkah terkejutnya Riri, saat tahu kotak kecil itu ternyata berisi kalung berliontin bunga matahari yang sangat Riri suka model dan warnanya.



"Bagus banget!" Kagum Riri.


"Suka, Dek?"


Riri langsung memeluk Danis. "Suka! Riri suka banget! Makasih ya Bang Danis!"


Danis membalas pelukan Riri sembari mengusap-usap punggung gadis itu dengan gerakan lembut. "Sama-sama, sayang. Lepas dulu pelukannya. Gue pakain kalungnya."


Riri menurut, ia duduk membelakangi Danis dan


membiarkan Danis memasang kalung itu di lehernya.


"Udah."


Riri berdiri. Dengan tergesa-gesa Riri segera menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar.


"Bagus banget!! Riri sukaaa!!!"

__ADS_1


Danis tersenyum lega. "Jangan dilepas, ya. Pake terus.


Itu tanda sayang Abang ke lo. Lo suka bunga matahari, kan?"


Riri mengangguk semangat. "Suka! Suka banget!


Riri janji gak bakal lepas kalung ini."


Drttt....drtt...drtt....


"Gue angkat telfon dulu," pamit Danis keluar dari kamar Riri.


Riri merasa kesal, karena nyatanya hingga sore tiba,


Gala benar-benar tidak kunjung datang ke rumah atau


sekedar memberinya kabar lewat telfon.


Riri sadar, memang dirinya yang tadi melarang Gala


untuk datang ke rumah, namun sebenarnya, itu tidak sungguh-sungguh Riri inginkan. Riri berkata seperti itu


hanya karena kesal Gala tidak mau mengajak dirinya jalan-jalan.


"Kenapa bete gitu, sayang?"


Vina menghampiri Riri yang termenung di dalam kamar.


Wajah gadis itu tampak begitu masam. Membuat Vina kebingungan sendiri. Padahal tadi, Riri masih ceria-ceria saja. Kenapa tiba-tiba sekarang Riri terlihat badmood.


Riri menggeleng. Ia tidak mau menceritakan masalahnya


pada Vina. Biarlah hanya ia dan Gala yang tahu.


"Papa udah pulang, Ma?" Tanya Riri berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Riri kangen."


Vina mengusap-usap puncak kepala Riri dengan sayang. Meski tidak terlahir dari rahimnya sendiri, bagi Vina, Riri


tetap anaknya. Tidak ada bedanya dengan Dewa dan Danis.


"Papa masih mandi, sayang. Nanti juga ke sini.


Papa juga kangen banget sama kamu.


"Papa bilang gitu ke Mama?"


"Iya," angguk Vina.


Bibir Riri mencebik kesal mengingat beberapa hari ini Eza tidak berusaha menghubunginya sama sekali. "Tapi dari kemarin Papa gak ada telfon Riri."


Vina terkekeh pelan. "Papa gak mau nambah kangen


katanya. Jadi sengaja gak telfon kamu sama sekali."


"Tap-" Mata Riri melotot sempurna begitu melihat Eza


berdiri di ambang pintu kamarnya dengan senyuman lebar.


"PAPA!"


Dengan senang hati Eza menyambut Riri ke dalam dekapan hangatnya. "Hei, anak Papa. Kangen sama Papa, gak? Papa kangen banget loh. Padahal baru. seminggu gak ketemu."


Eza tertawa geli melihat Riri yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya dan juga tidak mau melepaskan pelukan mereka.


"Duduk dulu, dong. Papa capek berdiri."

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukannya, Riri mendongak.


Gadis itu menatap Eza dengan mata mengerjap beberapa kali. "Nilai ujian Riri bagus. Riri mau nagih hadiah dari Papa.


Papa gak lupa, kan?"


"Minta apa, hem?"


Eza mencubit Pipi Riri gemas. Meski sudah tumbuh


menjadi seorang remaja. Bagi seorang ayah seperti Eza,


anak perempuannya tetaplah anak-anak.


"Bunda." Riri menghela napas pelan. "Papa udah janji


bakal ceritain gimana dulu Papa bisa sama Bunda, kan?"


Eza terdiam sejenak. Pria itu menatap ke arah Vina.


Setelah mendapat anggukan, tanda persetujuan dari Vina,


Eza menggiring Riri untuk duduk di tepi ranjang.


"Duduk dulu, ya," ajak Eza.


Riri menurut. Gadis itu duduk di tengah-tengah,


di antara Vina dan Eza.


"Apapun yang akan kamu ketahui nanti, tolong jangan


benci siapapun, terutama Papa, Bunda Desi dan Mama Vina." Riri yang belum mengerti arti dari ucapan Eza hanya


mengangguk saja.


Eza menghela napas. Jujur, sebenarnya ini berat bagi Eza. Tidak mudah baginya untuk menceritakan kisah masa lalunya bersama Desi-bunda kandung Riri-yang cukup suram. Namun, karena ia sudah terlanjur berjanji pada Riri, mau tak mau Eza harus menceritakan semuanya pada Riri. Lagi pula, pada akhirnya Riri memang berhak tahu mengenai hal ini.


"Sayang, dulu Papa dan Bunda Desi punya hubungan spesial semenjak SMA. Sama kaya kamu dan Gala. Kami pacaran. Tapi sayangnya, orang tua Papa, almarhum Kakek dan Nenek kamu, gak setuju. Akhirnya saat lulus kuliah Papa dijodohkan dan dinikahkan dengan Mama Vina."


Vina di samping Riri mengusap-usap punggung Riri.


Berusaha membuat Riri merasa lebih tenang dan rileks


untuk mendengarkan penjelasan dari Eza.


"Karena waktu itu Bunda kamu juga lebih memilih menyerah dan mengakhiri hubungan kami, akhirnya Papa terpaksa mau menikah dengan Mama Vina. Beberapa tahun berjalan, Papa mulai menerima dan mencintai Mama Vina. Papa dan Mama Vina akhirnya punya anak. Abang kamu. Dewa dan Danis,"


"Terus?" Tanya Riri yang sangat penasaran akan kelanjutan cerita Eza.


"Beberapa bulan setelah Abang-Abang kamu lahir,


Papa kembali dipertemukan dengan Bunda Desi. Papa dan Bunda Desi kembali terjebak dengan kisah masa lalu. Sampai kami berdua sepakat untuk menikah sirih."


Riri menoleh pada Vina.


"Waktu itu, Mama Vina tau?" "Awalnya Papa gak berani


bilang ke Mama Vina," jawab Eza. Sementara Vina, wanita


itu lebih memilih diam. Tidak, Vina tidak jealous sama sekali. Sebaliknya, Vina justru merasa sangat bersalah pada Riri dan Desi.


Eza melanjutkan ceritanya. "Sampai akhirnya, beberapa


bulan setelah menikah sirih dengan Bunda Desi, Papa beranikan diri untuk bilang ke Mama Vina. Papa merasa bersalah banget sama Mama Vina. Beruntung waktu itu


Mama Vina gak ninggalin Papa. Dengan besar hati Mama Vina justru merestui pernikahan sirih Papa dan Bunda Desi." "Terus kenapa Papa ninggalin Riri sama Bunda waktu Bunda lagi hamil Riri?"

__ADS_1


__ADS_2