CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
"Obsessive Love Disorder(OLD)


__ADS_3

Karena kesal melihat Gala tidak peka, Riri menghentakkan kakinya di lantai. "Ih! Riri gak bisa jajan! Riri mau pinjem uang ke Gala. Riri gak enak kalo minjem ke Nen Nen sama Choli.


"Berapa uang lo yang ilang?"


"Dua ribu."


Gala mengusap wajahnya kasar. Ia kira uang Riri yang hilang mencapai nominal lima puluh ribu atau seratus ribu. Ternyata hanya dua ribu saja.


"Gala! Uang Riri ilang dua ribu ih!" Riri menarik-narik dasi Gala yang terpasang asal.


"Hem! Iya entar gue ganti dua milyar," jawab Gala enteng


Mata Riri tampak berbinar bahagia. "Beneran? Dua milyar?"


"Hem," angguk Gala dengan wajah serius. Senyum licik di wajah Gala perlahan terbit. Hal itu langsung disadari oleh Riri. "Asal lo mau nikah sama gue tapi," lanjut Gala terkekeh.


"Ihhh!!!"


Gala mencubit hidung dan mengacak poni depan Riri begitu gemas. "Entar gue kasih uang jajan. Gak usah minjem. Sini peluk gue dulu."


Bibir bawah Riri mencebik kesal. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke Riri. Memastikan ia aman, jika memeluk Gala di sini.


"Gak usah malu, berani ledekin lo, mereka bakal gue pukul sampe palanya gepeng," kata Gala setelah menyadari raut kegelisahan di wajah Riri.


Grep!


Riri memeluk Gala. Membenturkan kepalanya di dada bidang Gala yang masih terbalut seragam sekolah. Hanya saja dua kancing atas seragam Gala memang sengaja dibuka. Jadi Riri bisa merasakan aroma parfum Gala yang menjadi candunya.


"Lo mau gue kasih uang berapa, hem?" Tanya Gala sembari menciumi aroma stroberi di rambut Riri.


Riri berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Gala. "Tapi kata mama, papa sama abang, Riri gak boleh minta-minta ke Gala. Apalagi minta uang."


"Gak papa, lo lupa? Semua yang gue punya otomatis bakal jadi punya lo juga."


Mendongak, mata Riri menatap Gala sembari mengerjap beberapa kali. "Emang iya?" Tanyanya polos. Membuat Gala semakin gemas.


"Iya sayang hih!"


Pipi Riri merona merah mendengar jawaban Gala barusan yang memanggilnya dengan embel-embel sayang. Jarang sekali Gala memanggilnya seperti itu.


"Kenapa, hem?" Tanya Gala menaik turunkan alisnya. Sengaja menggoda Riri yang blushing.

__ADS_1


Gala hanya terkekeh saat mendapati Riri diam saja. Rupanya gadis itu tak menjawab karena masih salting.


"Ya udah, ayo gue anterin lo ke kelas." Gala melepaskan pelukan mereka saat dirasa cukup. Satu tangannya beralih mengandeng tangan kiri Riri.


"Riri bisa balik sendiri," tolak Riri hati-hati.


Gala menggeleng tegas. "Gak! Gue anter lo! Awas aja lo nyamper-nyamperin gue kaya gini lagi. Habis lo! Bakal gue caci maki. Lo tau kan? Kalo lagi marah, mulut gue pedesnya bisa melebihi lambe turah?!"


"Iya-iya!"


Meski kesal, Riri tetap berjalan membuntuti langkah Gala. "Kenapa sih gak boleh balik sendiri? Riri kan udah gede!" Dumel Riri pelan namun Gala tetap bisa mendengarnya.


"Hem! Ambigu. Gede apanya?! Badan gepeng gitu!"


"Ih! Riri gak gepeng! Riri udah gede!" Balas Riri ngotot. "Riri bisa balik ke kelas sendiri. Gak bakal nyasar. Gak bakal ilang juga."


Langkah Gala terhenti. Cowok berwajah sangar itu berbalik badan. Matanya menatap Riri begitu intens lalu berkata. "Kalo lo ilang atau kenapa-kenapa, gue bisa gila. Lo itu segalanya bagi gue. Jadi gak usah banyak bacot. Paham?!"


*****


"Lo ngapain?"


Pertanyaan dari Alan itu membuat Gala kembali memasukkan kotak kecil yang sempat ia ambil dari saku baju. Tadi ia pikir keadaan kelas aman, karena kelas sudah sepi. Teman-teman sekelasnya juga sudah pulang semua.


Alan mendengus. Tadinya ia kembali ke kelas karena ingin mengambil kunci motor yang ketinggalan di laci meja, namun sekarang ia justru memergoki Gala yang gelagatnya mencurigakan.


"Gue gak bego, Gal," ucap Alan duduk di samping Gala.


"Lo minum...obat apa?" Tanya Alan datar namun berhasil membuat Gala merasa terintimidasi.


Menghembuskan napas pasrah, Gala melempar


kotak kecil itu pada Alan. Untung saja Alan bisa menangkapnya dengan sigap. Kalau tidak, barang


yang Gala lemparkan itu pasti akan jatuh.


"Hem!" Decak Alan.


Butuh waktu beberapa detik, sampai Alan menyadari obat apa yang kini ada di tangannya. "Obat antidepresan? Sejak kapan lo minum obat ini?" Alan menatap Gala bingung sekaligus penasaran.


Sementara Gala, ia mengusap wajahnya kasar lalu memalingkan muka ke arah lain. Sepertinya mau berbohong pun percuma. Jadi Gala lebih memilih untuk menjawab jujur. "Satu bulan yang lalu," jawabnya.

__ADS_1


"Lo...ada masalah?"


"Ada."


"Apa?"


"Gue didiagnosa mengidap..." Gala sengaja menggantung ucapannya karena masih ragu untuk berkata jujur.


"Apa?"


"OLD."


"OLD?" Alan tampak terkejut.


Gala mengangguk. "Obsessive love disorder, itu semacam kondisi di mana gue jadi terobsesi sama seseorang yang gue cintai."


Alan berusaha mencerna baik-baik penjelasan Gala. "Maksudnya, lo terobsesi sama...Riri?"


"Bisa dibilang kaya gitu. Karena gue punya trauma masa lalu dan karena gue takut Riri bakal ninggalin gue, gue jadi ngerasain rasa cemas dan panik yang berlebihan setiap kali emosi gue gak stabil."


"Itu alasan kenapa lo posesif dan cemburuan


banget sama Riri?"


Gala mengangguk. "Hem, kalo emosi gue lagi gak


stabil dan gue panik, kepala gue langsung pusing.


Sakit banget. Jadi gue harus minum obat itu buat nenangin diri gue."


"Kenapa lo baru cerita sekarang?"


"Sengaja. Gue gak mau orang-orang tau kelemahan gue. Bahkan sampai meninggal, bokap gue juga gak tau. Cuma tante Anita yang tau masalah ini." Gala menjeda ucapannya lalu menghela napas panjang.


"Dulu tante Anita sempet mergokin gue mukul-mukul kepala di apartemen. Dari situlah, tante Anita mulai membujuk gue buat pergi ke Psikolog. Awalnya gue nolak karena gue rasa, gue baik-baik aja. Sampai akhirnya gue iyain dengan syarat cuma dia yang tau. Gue gak mau orang lain tau kondisi, gue."


"Tante Anita bawa gue ke temennya yang jadi Psikolog. Di sana gue malah disaranin buat konsul ke Psikiater aja, karena kondisi gue sekarang udah di tahap di mana gue butuh obat buat nenangin diri pas lagi kambuh."


"Obat ini bisa buat lo sembuh?" Alan mengangkat kotak kecil yang ada pada hadapan Gala yang ia pegang"Obat itu kerjanya cuma sementara. Buat nenangin diri gue sesaat doang. Soal sembuh, itu datangnya dari diri gue dan pikiran gue sendiri."


Alan dan Gala saling terdiam. Alan diam dengan keterkejutannya karena tidak menyangka dengan rahasia yang selama ini Gala tutupi. Sementara Gala diam dengan pikiran khawatir.

__ADS_1


"Lan, jangan bilang ke siapa-siapa soal ini. Cukup gue sama lo aja. Apalagi Riri, jangan sampe dia tau," ucap Gala mewanti-wanti. Gala tidak mau ada orang lain yang tahu masalah ini. Cukup Alan saja.


__ADS_2