
Gala menelan ludahnya susah payah. Mampus. Kenapa urusannya jadi semakin panjang? Gala yakin, untuk ke depannya, hal ini bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Karena apa yang Asti minta sangat berpotensi membuat hubungannya dengan Riri bermasalah. Pasalnya, citra Amora di mata Riri pun sudah buruk sejak kemarin -kemarin. Apalagi jika nanti Gala masuk terlalu jauh ke dalam urusan yang bersangkutan dengan Amora. Bisa-bisa Riri akan semakin salah paham.
"Bunda, bukannya saya gak mau bantu. Tapi saya udah
punya tunangan. Takutnya kalo saya sering ikut campur masalah Amora, nanti timbul masalah baru dalam hubungan saya dan tunangan saya," jelas Gala jujur.
Asti mengangguk-anggukan kepala paham. Mata wanita itu menyorotkan sedikit kekecewaan atas penolakan yang Gala berikan. "Bunda gak bisa maksa juga sih. Bunda paham, kamu juga pasti sedikit keberatan dengan hal ini. Tapi Bunda harap, kalo Bunda lagi terdesak banget, gak papa ya, Bunda minta tolong ke kamu?"
"Sa--*
"Kak Gala."
Gala dan Asti menoleh bersamaan. Amora, gadis itu
berdiri di samping Asti dengan keadaan yang sudah jauh
lebih baik dibanding tadi saat Gala membawanya pulang.
"Kak Gala belum pulang? Amora kira Kak Gala udah
pulang," ujar Amora sambil tersenyum tipis ke arah Gala.
"Sini duduk, Bunda lagi ngobrol sama Kak Gala.
Pantes ya, kamu nurut sama dia, ternyata Kak Gala baik banget orangnya." Asti menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Mengisyaratkan agar Amora duduk di sana.
"Iya, Bunda. Kak Gala emang baik banget. Udah banyak bantuin Amora."
Asti mengusap-usap kepala Amora saat gadis itu sudah mendudukkan diri di sampingnya. "Jangan kaya tadi ya, sayang. Jangan pergi diem-diem. Bunda sama yang lain khawatir sama kamu."
"Untung kamu ketemunya sama Kak Gala. Coba kalo sama orang jahat?"
Amora mengangguk. "Iya Bunda, Amora beruntung ketemu sama Kak Gala. Amora juga gak nyangka bisa ketemu Kak Gala lagi. Ini udah yang kedua kalinya. Amora merasa, kayanya Kak Gala emang malaikat penolong yang dikirim buat Amora," ucap Amora senang.
"Iya sayang." Asti kembali menatap Gala. "Tuh nak Gala, kamu bisa lihat sendiri, kan? Amora memang bahagia banget bisa ditolong sama kamu."
"Iya, Bun. Em, Bun, Amora, kayanya saya harus pamit soalnya "
"Aduh, di makan dulu dong kue keringnya. Ini buatan Bunda loh," potong Asti cepat.
Amora menyahut. "Amora juga bantuin buat kuenya waktu itu. Iya kan, Bun?"
"Oh iya, kamu bantuin Bunda ya waktu itu," angguk Asti teringat saat membuat kue kering itu, memang Amora lah yang membantunya. Karena Amora satu-satunya anak panti yang mempunyai hobi memasak atau membuat kue sama seperti Asti.
"Nak, Gala, Amora ini pinter masak loh. Nanti kapan-kapan
biar kamu dimasakin sama Amora, ya?" Asti mengusap kepala Amora, lalu bertanya. "Kamu mau masakin buat Kak Gala kan, sayang?"
"Mau dong, Bun. Mau banget. Ya anggap saja, itu ucapan terima kasih dari Amora buat Kak Gala yang selalu baik ke Amora."
Asti mengangguk senang. Melihat Amora bahagia adalah segalanya bagi Asti. "Gimana nak Gala? Mau kan?"
"Nak Gala?"
__ADS_1
Amora terlihat sedikit kesal mendapati Gala hanya
diam saja karena sibuk melamun. "Kak Gala?" Panggil Amora.
"Kak?" Ulangnya lebih keras.
Asti mengusap-usap bahu Amora seolah
meminta gadis itu untuk bersabar.
"Nak Gala?" Asti menaikan suaranya satu oktaf
sampai berhasil membuat Gala gelagapan.
Gala membuyarkan lamunannya yang sedari tadi
memikirkan tentang Riri. "Ah iya, maaf, Bun. Kenapa?"
Asti berusaha tetap tersenyum. Sementara Amora, gadis
itu sudah menampakkan wajah cemberut karena kesal Gala tidak memedulikan ocehannya sedari tadi.
"Amora mau masakin kamu. Kamu mau kan?"
"Gak usah repot-repot, Bun," tolak Gala cepat.
"Kak Gala jangan gitu dong. Nanti Amora masakin ya,
Gala menghela napas pelan. Mungkin untuk saat ini lebih baik ia iyakan saja agar dirinya bisa cepat pergi. "Em, boleh-boleh. Nanti titipin ke Dio aja gak papa."
Senyum Amora merekah. Amora merasa sangat bahagia karena Gala mau menerima tawaran baiknya. "Nah gitu dong! Amora jadi seneng kalo Kak Gala mau."
"Bunda, maaf banget, kayanya saya memang harus cepat-cepat pulang. Udah ada janji sama tunangan saya
dan inipun saya udah telat lama. Saya takut nanti dia marah."
"Loh? Tunangan kamu suka marah-marah toh?"
Tanya Asti dengan nada kaget.
Amora ikut menyahut. "Padahal Kak Gala baik banget.
Kok bis-"
"Amora, Bunda, biarin Gala pulang. Kasian Gala, dia masih punya urusan lain," potong Dio yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Oh, ya udah, kalo nak Gala mau pulang," ucap Asti pada akhirnya. Meskipun sebenarnya wanita itu tampak tidak
rela jika Gala pulang terlalu cepat.
Gala berdiri dari duduknya untuk berpamitan pada Asti. "Bunda, saya pamit ya."
"Kapan-kapan main ke sini lagi, ya nak Gala."
__ADS_1
"Iya, Bunda," angguk Gala. Gala menatap Amora
dan Dio bergantian. "Mor, Yo, gue pulang dulu."
Dio mengangguk lalu ikut mengantarkan Gala sampai ke teras.
"Maaf ya, Gal. Amora sama Bunda udah buat lo gak nyaman."
Dio merasa tidak enak. Cowok itu bisa menangkap raut kegelisahan di wajah Gala saat mengobrol dengan Asti dan Amora tadi.
Gala balas menepuk-nepuk punggung Dio. "Santai aja,
gue balik dulu."
"Salam buat Riri."
"Oke."
"Kak Dio!"
Dio menoleh ke belakang. "Kenapa?" Tanya Dio pada
gadis yang berdiri di depan pintu dengan wajah kesal.
"Kak Dio kenapa sih?! Malah nyuruh Kak Gala pulang?! Padahal Amora masih pengen ngobrol banyak sama Kak Gala!"
Dio mendengus pelan. "Gala bukan kaya Rafa yang bebas
lo apain aja. Gala udah punya cewek. Lo gak boleh kaya gini, Mor."
"Dio, Amora itu cuma pengen temenan sama Gala.
Gak ada maksud lain," sahut Asti membela Amora.
"Bunda juga, jangan selalu belain Amora. Kalo Amora salah atau melakukan hal yang kurang tepat, harusnya Bunda nasehatin. Biar gak egois. Amora harus mulai belajar untuk menghargai orang lain."
Amora menghentakkan kakinya ke lantai. "Selalu aja aku yang salah!" Kesal Amora. Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan Asti dan Dio.
Asti menatap kepergian Amora kemudian beralih mendekati Dio untuk mengusap-usap pundak cowok itu dengan gerakan lembut. "Yo, Amora itu-"
"Stop, Bunda. Biar bagaimana pun alasannya, cara
Amora buat dapetin apa yang dia pengen itu salah."
"Yo, Am-"
Sebelum Asti menyelesaikan ucapannya. Dio, cowok
itu lebih memilih untuk pergi. Meninggalkan Asti yang
masih mematung di ambang pintu.
Asti menggelengkan kepala pelan. "Bunda janji bakal lakuin apapun demi kebahagiaan kamu, Amora. Bunda bakal jaga amanah itu."
__ADS_1