
"Ya."
"Ya apa?"
"Gue gak bakal coret-coret baju.
Coret-coret muka Ilham doang."
"Ish!"
Gala terkekeh lalu meraup wajah Riri menggunakan
telapak tangan besarnya. "Bawel lo. Ayo gue anter ke' kelas."
"Riri bisa sendiri." Riri berdiri dari atas pangkuan Gala.
Gala ikut berdiri di samping Riri. "Gak bisa."
"Ih Gala! Riri itu-"
Belum sempat Riri melanjutkan ucapannya.
Gala sudah lebih dulu membungkuk di depan Riri.
"Naik. Gue gendong."
BRAK!!!
"Mana cewek gue?"
"MANA CEWEK GUE?!" Ulang Gala. Kali ini suaranya
terdengar begitu marah. Hingga Gala tidak segan-segan menarik kerah baju Rafa.
"Maksud lo?" Tanya Rafa bingung. Ia tidak paham. Datang-datang kenapa Gala langsung menyodori nya dengan pertanyaan yang Rafa sendiri bahkan tidak tahu jawabannya.
"JANGAN PURA-PURA BEGO!!!" Gala tersenyum miring. Cengkraman di kerah baju Rafa ia eratkan. "Ada yang bilang
ke gue kalo tadi lo ajak Riri ngobrol berdua! Lo sembunyiin di mana dia sekarang?!"
"Gue cuma--"
"Nih!" Gala menyodorkan ponsel ke hadapan Rafa.
Layar ponsel Gala menampilkan sebuah foto di mana Rafa dan Riri terlihat asyik mengobrol berdua di pojokan kantin.
"Itu cuma--"
"Cuma ngobrol?! Bangsa-! Gue gak peduli! Udah gue bilang berapa kali, gak usah deket-deket sama cewek gue! Lo gak kapok pernah gue hajar habis-habisan di gudang beberapa waktu yang lalu, hah?!"
Rafa memejamkan mata sejenak untuk menahan emosinya. Menghadapi orang tempramen seperti Gala, ia harus lebih banyak bersabar. Karena jika tidak, emosi Gala akan semakin meledak-ledak.
"Gue beneran gak tau Riri ada di mana. Tadi gue emang ngobrol sama Riri. Tapi gue cuma balikin buku catatan dia doang yang sempet gue pinjem dan lupa gue balikin. Gak ada-"
Bugh!
Bugh!
"GAL!"
Saat Gala hendak melayangkan pukulan ke tiga kalinya
ke wajah Rafa, suara dari Alan itu membuat kepalan tangan Gala menggantung di udara. Gala melepaskan Rafa dan beralih menatap Alan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Gal, Riri di bawa Virgo."
"Virgo?" Gala mengernyit tak paham.
__ADS_1
"Virgo abangnya Leo. Virgo pernah dateng ke WBS buat ngancem kita. Kalo kita gak bebasin Leo, dia bakal bales dendam dan-"
"Anjin-!" Umpat Gala. "Jadi maksudnya dia bales
dendam dengan cara bawa Riri?!"
"Sorry, Gal. Kemungkinan besar, iya."
******
"Rafa ngapain manggil lo?" Tanya Choline setelah
Riri kembali ke meja kantin yang mereka tempati.
Riri menunjukkan buku catatan miliknya pada Choline.
"Rafa balikin ini," jawabnya.
Choline mengangguk lalu kembali menikmati makanannya. Disusul Riri yang duduk di sebelah Nenda.
"Riri, makan gih. Bakso lo keburu dingin," peringat Nenda.
Mata Riri mengerjap polos. "Emang bakso bisa dingin?
Kan gak dimasukin ke kulkas?"
Choline menyahut kesal. "Hem, gak gitu, Riri."
"Ih! Gimana sih, yang namanya dingin, berarti harus dimasukin kulkas dulu dong! Es atau air aja kalo gak dimasukin kulkas gak bakal bisa dingin kan? Masa bakso bisa dingin sendiri? Kan aneh, ih!"
"Em, iya udah. Mending lo cepat makan. Keburu Gala dateng, entar lo diomelin gara-gara belum makan."
Nenda memilih menyudahi perdebatan mereka.
Karena kalau masih dilanjutkan, yang ada Nenda
"Kenapa?"
Riri menatap Choline yang tampak kebingungan melihat gelagat anehnya. "Botol minum Riri ketinggalan di kelas.
Mau Riri ambil dulu deh."
"Gak usah, beli air mineral di sini aja," cegah Nenda.
"Mau gue beliin gak?"
"Eh, gak usah, nanti Gala marah kalo tau Riri gak abisin minuman di botol minum Riri. Riri ambil aja deh. Kalian
tunggu Riri di sini. Bentar aja kok."
Tanpa menunggu persetujuan dari Choline dan Nenda, Riri, gadis itu sudah beranjak pergi meninggalkan kantin.
"Lo Riri?"
Riri menghentikan langkahnya saat ada satu cowok yang
tidak ia kenal menghentikan dirinya tepat di pertengahan koridor dekat kelas.
Hari ini hanya kelas dua belas saja yang masuk sekolah, namun sepertinya Riri sama sekali tidak pernah melihat cowok yang sekarang berdiri di hadapannya ini. Setidak kenal-kenalnya Riri dengan teman satu angkatannya, Riri tetap bisa membedakan, mana orang asing dan mana orang yang memang sekolah di SMA Cakrawala.
"Lo Riri?" Ulang cowok berseragam putih abu-abu persis
sama seperti seragam yang Riri kenakan sekarang.
Riri menatap sinis ke arah cowok itu. Riri mengingat satu pesan Gala. Kata Gala, Riri tidak boleh bersikap terlalu baik pada orang asing. Apalagi jika orang itu terlihat mencurigakan. Karena bisa saja orang itu akan membahayakan dirinya.
"Hei? Lo Riri, kan? Pacarnya Gala?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Bukan. Aku Siti. Kenapa?!" Jawab Riri dengan kedua
tangan berkacak pinggang.
Bukannya terlihat galak, Riri justru lebih mirip seperti anak TK yang sedang marah-marah karena mainannya direbut oleh temannya.
Kecurigaan Riri semakin bertambah saat melihat cowok
di hadapannya itu tersenyum simpul. Seperti ada maksud tersembunyi.
"Serina Kalila," ucapnya membaca nama Riri yang ada di baju. "Oke, berarti bener lo ceweknya Gala."
"Mau ngapain ih?!" Protes Riri saat cowok itu tiba-tiba memegang lengannya.
"Eh, sorry-sorry. Gue cuma mau ngajak lo ke depan.
Disuruh Gala."
"Boong!" Bantah Riri. "Emang kamu siapanya Gala?"
Tanya Riri penuh selidik.
"Gue anak Drax. Tapi masih kelas sebelas,
jadi wajar kalo lo gak pernah liat gue."
"Lagian, gue emang anak baru di Drax,"
tambahnya berusaha membuat Riri percaya.
"Riri gak mau ikut!" Tolak Riri menghempaskan
tangan cowok itu kasar.
"Jangan gitu, entar gue dimarahin sama Gala.
Ayok ikut gue cepat."
"Ih! Riri gak mau!"
Kepala Riri menoleh ke kiri dan kanan saat cowok itu kembali memegang lengannya. Namun entah kenapa keadaan koridor memang sedang sepi. Kebanyakan siswa dan siswi kelas dua belas sedang berada di kantin.
"Sumpah gue gak boong. Gala yang nyuruh gue
ngajak lo ke depan. entar lo bakal dibeliin es krim."
"Emang iya?"
Cowok itu mengangguk dengan cepat. "Iya.
Makanya ayo ikut gue."
Dengan hati yang sedikit bimbang, akhirnya Riri memutuskan untuk percaya. Riri berjalan di belakang cowok itu. Mengikuti langkahnya, menuju ke gerbang depan.
Sesampainya di gerbang depan, Riri sama sekali tidak melihat keberadaan Gala atau anak Drax lain yang biasa ia kenal. Hanya ada satu mobil berwarna hitam yang terparkir tepat di hadapan. Riri dan cowok itu berdiri sekarang. Riri juga tidak mengetahui siapa pemilik mobil itu dan kenapa berhenti di sana.
"Mana Gala? Boong, ya?!" Ketus Riri.
Cowok di samping Riri itu tersenyum miring.
"Ayo masuk dulu."
"Gak ih! Riri gak ma-"
"Diem lo!" Bentaknya.
"Bantuin cepet!" Ucap cowok itu pada satu cowok lainnya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
__ADS_1