
Alan mengangguk pelan sembari menepuk pundak
Gala beberapa kali, seolah meyakinkan. "Lo bisa pegang omongan gue. Tapi mulai sekarang, kalo ada apa-apa,
lo harus kasih tau gue. Lo gak boleh hadepin semua sendiri. Lo punya temen."
"Hm."
Mata Alan memincing curiga, ia kembali ingat dengan kejadian tadi. "Kenapa barusan lo mau minum obat ini? Lo lagi--"
"Gue tadi ke kelas Riri. Gue liat Riri lagi duduk satu bangku sama Rafa. Temen sekelas Riri yang anak baru itu. Gue pengen marah tapi gak bisa, karena setelah gue cari tau, itu bukan kemauan Riri tapi guru di kelas mereka yang nentuin kelompoknya. Akhirnya gue jadi uring-uringan sendiri. Gue gak mau marah-marah pas ketemu Riri nanti. Jadi gue mau minum obat itu buat nenangin diri gue."
"Cuma karena itu?"
Gala tersenyum masam. "Lo gak tau gimana rasanya jadi gue. Gue punya banyak kenangan buruk di masa lalu. Itu kenapa gue takut banget Riri ninggalin gue. Sekarang, cuma Riri yang gue punya. Lo bisa bayangin gimana hancurnya gue, kalo sampe Riri pergi dari hidup gue? Hancur banget."
"Sorry, Gal."
"Mungkin bagi orang lain, sikap gue ini terlalu berlebihan, Tapi gue gak peduli. Gue cuma mau mempertahankan apa yang gue punya."
"Tapi cara lo salah. Harusnya--"
"Lo bilang gitu karena lo gak pernah ada di posisi gue, Lan. Hidup lo lebih beruntung dari gue. Lo punya keluarga yang baik-baik aja. Bahkan gue kadang merasa iri sama keluarga lo." Gala tertawa pelan, Menertawakan nasibnya yang kurang beruntung. Apalagi dalam urusan keluarga.
"Jadi, gak semua hal yang terlihat biasa aja di mata lo itu juga biasa aja di mata orang lain. Kadang hal itu bisa jadi hal yang buruk bagi sebagian orang yang punya trauma."
"Gue paham," kata Alan merasa tidak enak. "Gue gak maksud buat ngentengin masalah lo. Tap--"
"GALAAAAA!!!!"
"GALA KENAPA LAMA IH?! RIRI CAPEK TAU NUNGGUIN GALA DI KELAS!"
Riri berjalan menghampiri Gala dengan kedua tangan berkacak pinggang. Wajahnya yang imut semakin terlihat imut saat cemberut seperti sekarang.
"Gue balik," pamit Alan kembali memberikan kotak kecil itu pada Gala.
"Itu apa? Permen ya? Riri ma--"
"Ini racun! Kalo lo minum ini bisa mati!" Potong Gala ketus. Gala memasukkan kotak kecil itu ke dalam saku bajunya sebelum Riri semakin banyak bertanya.
"Emang iya?"
"Hem, banyak nanya. Ayo pulang!" Gala menarik tangan Riri keluar kelas. Tidak peduli dengan ekspresi wajah Riri yang semakin muram.
"Riri mau es krim," kata Riri dengan nada merajuk.
"Gak!"
__ADS_1
"Riri mau es krim! Gala bilang kalo Gala ada salah,
Riri boleh minta es krim!"
"Emang gue ada salah apa sama lo?" Tanya Gala tidak habis pikir.
"Riri nungguin Gala lama di kelas! Sampe semua temen kelas Riri pulang, Gala tetep gak dateng!"
"Gue lagi ngobrol sama Alan. Penting."
"Penting mana sama Riri?"
Gala menghentikan langkahnya tepat di area parkiran. "Jangan mulai. Gue lagi males ribut."
"Riri cuma nanya. Penting mana sama Riri?"
Cowok dengan baju berantakan namun justru terlihat semakin ber-damage itu merapihkan rambutnya ke belakang. "Gak ada yang lebih penting dari lo! Puas?!"
Riri menunduk. "Tapi Gala malah ngobrol sama Alan sampe lupa sama Riri."
"Hem! Terus gue salah gitu?"
"Iya! Gala tetep salah!" Kekeh Riri tak mau kalah.
"Jadi Gala harus izinin Riri makan es krim!"
"Gak!"
"Gak, Ri!" Bentak Gala. "Lo kenapa bandel banget sih?!"
Deg!
Nyali Riri langsung menciut mendengar suara bentakan dari Gala. Riri sangat tidak suka dibentak. Apalagi dibentak oleh orang terdekatnya, terutama Gala. "Iya enggak usah. Gak papa. Ayo pulang aja," putus Riri mengalah.
"Marah?" Gala menarik tangan Riri hingga gadis itu kembali berhadapan dengannya.
Riri tersenyum lebar meski sebenarnya air matanya sudah mendesak ingin keluar. Namun karena tidak mau membuat Gala semakin murka dan berujung membentaknya lagi, Riri harus bisa menyembunyikan rasa sesaknya dari Gala.
"Gak, Riri gak marah. Riri ngantuk, pengen bobo siang. Ayo pulang cepet."
*****
"Gak ah, entar lo dimarahin Gala. Gue lagi yang kena," tolak Dewa terang-terangan. Dewa sedang asyik memandikan Kolor Ijo kucing kesayangannya di halaman belakang, tiba-tiba Riri datang minta dibelikan es krim Spongebob.
Riri cemberut mendengar penolakan Dewa.
"Ih bang Dewa jahat! Sama aja kaya Gala! Pelit!"
__ADS_1
"Gala itu bener, lo kemaren udah makan es krim banyak. Makanya sekarang gak dibolehin. Nanti lo sakit tenggorokan. Nyusahin."
Riri mendengus. Tumben sekali, abangnya ini satu pendapat dengan Gala. Biasanya juga selalu bertentangan.
"Eh! Eh! Lo mau apain dia?!" Panik Dewa melihat Riri merebut Kolor Ijo lalu mencekiknya tanpa rasa bersalah.
"Anjir, lo psikopat?! Kucing gue gak salah apa-apa tiba-tiba lo cekek," ujar Dewa setelah berhasil merebut kucingnya kembali.
"Salah sendiri! Bang Dewa lebih sayang ke Kolor Ijo daripada ke Riri!"
Dewa tidak menanggapi ucapan Riri. Cowok itu lebih memilih mengusap-usap kepala Kolor Ijo yang masih tampak shock dengan perlakuan Riri barusan.
"Udah ya, tenang, ada lembut pada Kolor Ijo. gue di sini," ucap Dewa
"Dasar kucing jelek!" Ledek Riri menjulurkan lidah. Awalnya Kolor Ijo masih terlihat biasa saja sampai akhirnya kucing itu kembali shock saat melihat Riri mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seperti ingin memukul.
"MEOOOOOONGGGGGGG!!!" Jerit Kolor Ijo begitu panik.
Riri terbahak. "Huh! Cemen! Gitu doang takut wekkk!!!"
"Udah-udah, sana masuk. Gue belom selesai mandiin dia, lo ganggu aja," usir Dewa. Dewa merasa frustasi dengan tingkah Riri dan Kolor Ijo yang sama-sama menyebalkan.
Dewa kembali mengalihkan pandangannya ke Kolor Ijo. "Lo juga! Diem napa! Lebay banget! Mangap-mangap kaya orang kesurupan aja!"
"Meeeonggggg!!
"Diem atau gue cium?!" Ancam Dewa membuat Kolor Ijo langsung terdiam.
"KOLOR IJO JELEK!!! MUKANYA PENYOT! WEKKKKK!!!"
Mendengar teriakan itu, Dewa dan Kolor Ijo sama-sama menoleh ke arah Riri muncul dari balik pintu. yang kembali
"Hem! Muncul lagi tuh bocil!"
"Meooonggg...."
Riri menjulurkan lidah ke arah Kolor Ijo dengan wajah songong. "KOLOR IJO KUCING BURIK! MUKANYA PENYOT!"
"MEOOOONGGGGG!!!!"
"Udah, Ri! Hem!"
"DANIS!!! NIH ADEK LO BANDEL!" Teriak Dewa. Tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada Danis. Kalau tidak, pertengkaran Riri dan Kolor Ijo tidak akan berakhir.
Tidak lama kemudian, Danis muncul dan berdiri
tepat di belakang Riri. Cowok dengan earphone di satu telinganya itu mengarahkan dagunya pada Dewa. Seolah bertanya, kenapa?
__ADS_1