CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
57.Siap, Bunda


__ADS_3

Gala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bukannya apa, Gala bisa saja langsung menolak tawaran Asti, namun Gala tetap harus mencari alasan yang sopan agar tidak menyinggung perasaan Asti dan juga agar Asti tetap merasa dihargai oleh Gala.


"Eee-"


"Pasti bisa dong. Bunda tunggu ya siang ini? Gimana?"


Gala memejamkan mata lalu mejawab dengan mantap setelah ia pertimbangkan baik dan buruknya keputusan


yang akan ia ambil. "Iya, Bun Gala bisa."


"Aduh, kamu baik banget. Bunda jadi makin kagum


sama kamu. Ya udah Bunda tunggu kamu dateng ke panti ya. Nanti Amora sama Dio pasti seneng liat kamu main ke sini."


Gala menghela napas. "Iya, Bunda. Saya bakal dateng sama Riri."


"Riri?" Suara Asti terdengar seperti kaget. "Riri siapa?"


"Tunangan saya."


"Oh, em-tunangan kamu? Ah, iya boleh-boleh."


Senyum Gala mengembang lebar. Tangan besarnya terulur


ke samping untuk mengacak rambut Riri. Sementara Riri, gadis itu masih sama seperti tadi. Diam karena badmood.


"Bunda gak keberatan kan kalo saya bawa tunangan


saya ke sana?"


"Enggak, dong. Boleh banget. Ya udah Bunda tutup dulu ya. Bikin kuenya belum selesai."


"Siap, Bunda."


"Jangan ngambek, kan ke sananya gue ngajak lo."


Gala mencubit hidung Riri gemas.


Riri bersidekap dada. Tatapannya menatap lurus ke depan karena tidak mau melihat Gala. "Gala nyebelin! Udah dateng ke wali kelas Riri buat pindahin Riri ke kelompok lain! Sekarang, Gala malah mau ke panti! Padahal Riri gak mau!"


Gala menganggukkan kepalanya. "Oh, gak mau ikut?


Ya udah deh gue anter lo pulang. Biar gue ke panti sendiri. Terus bisa berduaan sama Am--" "AAAAAA GALA NAKAL!" Riri menghadiahi pukulan bertubi-tubi di tubuh Gala.


"HUAAA GALA MAU JADIIN RIRI JANDA, YA?!"


Gala menahan tangan Riri agar tidak bisa memukulnya lagi. "Janda, janda muka lo penyot! Nikah aja belom!"


Mata Riri yang tadinya hanya berkaca-kaca kini sudah berlinang air mata. "Tapi Gala mau sama Amora hiks, kalo Gala sama Amora dan ninggalin Riri, Riri jadi janda dong?! HUAAAAAA!!!!"


"Gue gak bakal ninggalin lo demi Amora atau yang


lainnya. Udah. Jangan nangis," tenang Gala lembut.


Riri hanya diam saat Gala mengelap air mata dan


ingusnya dengan kaos hitam yang cowok itu kenakan.

__ADS_1


"Hem, mana gak ada tisu lagi. Kaos gue terus yang jadi korban."


"Gala ..."


"Hem?" Jawab Gala tanpa menoleh karena ia


sibuk mencari sisa tisu di jok belakang.


"Gala ih!" Kesal Riri menarik-narik ujung baju Gala


hingga cowok itu menghadap ke dirinya.


"Apa, sayang?" Tanya Gala gemas.


"Riri mau ikut ke panti, tapi habis dari panti kita


beli makanan buat Joko ya?"


Gala mendengus kasar. "Dalam keadaan kaya gini,


masih aja lo inget sama ikan Koi sialan itu. Gak penting banget!"


"Gak usah dibeliin makanan, biar aja mati!"


"HUAAAA TUH KAN GALA BOONG!" Jerit Riri dengan


kaki menendang-nendang ke depan.


Mengusap wajahnya kasar, Gala menatap Riri kesal. "Boong apaan? Gue boong apaan sama lo, hah?" Tanya Gala tidak habis pikir.


"KATANYA GALA SAYANG SAMA RIRI?!


"JOKO KAN UDAH RIRI ANGGEP KAYA ANAK


SENDIRI! UDAH RIRI BESARIN DENGAN SEPENUH


HATI HUUUUAAAA!!!"


"KALO GALA JAHAT NANTI RIRI JADI JANDA ANAK SATU!!! RIRI GAK MAU!!!"


Gala menutup kedua telinganya. "Iya-iya, kita beli makanan buat Joko! Puas lo?!" Final Gala. Daripada mendengar teriakan Riri yang super duper cempreng, lebih baik Gala iyakan saja semua permintaan Riri.


Gadis dengan wajah sembab itu mengelap air matanya


lalu mengerjapkan mata polos. "Beneran?"


"Iyaa."


"Awas aja Gala boong!" Ancam Riri.


Gala menghela napas, berusaha mengontrol emosinya.


"Iya, sayang. Gak boong," jawabnya sambil mengacak poni Riri.


Riri tersenyum lebar. Akhirnya Gala mau peduli juga dengan Joko. Riri merasa sangat bahagia jika Gala seperti ini. Namun senyum Riri perlahan memudar kala melihat senyum penuh makna yang mulai Gala tampakkan.


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?" Ekspresi Riri menjadi muram begitu saja.

__ADS_1


Riri takut Gala akan memberi syarat yang aneh-aneh.


Gala merentangkan kedua tangannya ke depan.


"Sini, peluk gue dulu."


"Peluk gue terus, sampai kita nyampe panti." Gala menahan tubuh Riri saat gadis itu hendak menyudahi pelukan mereka.


"Tapikan Gala nyetir!" Protes Riri.


"Gue nyetir, lo meluk gue." Gala mengangkat bahu santai.


"Kalo gak mau ya udah, gak usah beli makan buat Joko. Biar dia mati. Terus gue bakal ke panti sendiri buat ketemu Am--"


"Iya Riri mau!"


Sudut bibir Gala terangkat sebelah. Gala mengeratkan pelukan mereka. Merasa gemas dengan Riri yang tampak begitu kesal saat dirinya menyebut nama Amora.


"Bocil gue cemburu, hem?"


"HUAAAA JOKO KEMANA??!!"


"KOK ILANG???!!"


"MAMA!!! JOKO DICULIK!!!"


Gadis dengan rambut acak-acakan yang mengenakan baju tidur bergambar Spongebob itu menangis sejadi-jadinya di depan akuarium tempat ikan koi kesayangannya berada-Joko.


"Hem, kenapa, Riri?"


Bukan, itu bukan suara Vina, mama Riri yang sejak tadi


Riri panggil. Melainkan suara Dewa. Cowok itu berjalan menghampiri Riri dengan tatapan sedikit kesal. Pagi-pagi begini adik perempuan satu-satunya itu sudah heboh. Tidak tahu apa yang sedang ditangisi hingga tangisnya terdengar begitu histeris.


"Bang Dewa culik Joko ya?!" Tuduh Riri langsung


sambil mengusap air matanya.


Dewa mengernyit tidak habis pikir. "Dih, asal nuduh aja lo! Lagian ngapain juga gue menyulik Joko?! Kurang kerjaan banget!"


"Kan selama ini cuma Bang Dewa yang gak suka sama Joko!"


"Gak cuma gue aja. Gala kan juga gak suka sama Joko," bantah Dewa. "Gala kali yang Nyulik," tuduh Dewa asal.


Karena faktanya memang begitu. Selama ini bukan hanya Dewa saja yang tidak suka dengan Joko, melainkan Gala. Cowok itu juga selalu cemburu jika Riri lebih mengutamakan Joko dibanding dirinya.


Riri berkacak pinggang. "Gak mungkin! Gala itu sebenernya sayang sama Joko! Dulu aja Gala mau kasih napas buatan buat Joko! Jadi Gala gak mungkin culik Joko lah!"


"Hem, ya udah! Gue juga mana tau."


"HUAAAAA TERUS JOKO KEMANA??!!! KOK GAK ADA DI SINI?!!!"


Riri kembali menangis membuat Dewa mau tak mau harus menenangkannya. "Ssttt, jangan kenceng-kenceng, Riri. Suara lo itu kek petir cempreng."


"Eh!!! Bang Dewa!!! Riri sedih, Joko ilang!!!" Riri memukul pundak Dewa bertubi-tubi. "Kalo sampe Joko diculik dan disekap sama penculiknya gimana?!"


Dewa menghela napas lelah. "Gak bakal disekap, Riri!


Ada-ada aja sih pikiran random lo ini."

__ADS_1


Mata Riri mengerjap polos. "Terus?"


__ADS_2