
FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?
Vote Dan Komen lebih banyak dari
Chapter sebelumnya, baru update yađź’–
Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.
.
******
.
"RI GAK GIT--"
Tut. Riri mematikan sambungan telepon mereka tanpa mau mendengar penjelasan dari Ilham.
"Riri lagi mager dengerin kabar yang gak baik," dengusnya.
"OMG, KALIAN UDAH TAU BELOM BERITA YANG LAGI VIRAL ITU???!!" Heboh Choline memasuki ruang kelasnya.
"Paan sih, Lin. Alay banget lo. Pake teriak-teriak," decak Nenda. Masalahnya kelas mereka ini sedang ramai. Nenda jadi tidak enak dengan teman kelasnya yang lain kalau Choline terlalu berisik. Takut mengganggu.
"Ri, lo udah tau belom?!"
Riri di sebelah Nenda menggeleng polos. "Gak tau."
"Lo, Nen?" Choline beralih menatap Nenda.
"Tau apa?" Nenda mengangkat sebelah alisnya bingung. Pasalnya Choline jika bicara hanya setengah-setengah.
Choline duduk di bangkunya dan mulai bercerita panjang lebar mengenai berita yang saat ini sedang heboh di media sosial.
"Jadi yang nangkep pelaku pelecehan itu Gala dkk?"
Choline mengangguk mantap. "Iya, tumben anak Drax keren."
Nenda mendengus pelan. "Dari dulu kali. Lo aja yang gak suka sama mereka."
Sejak dulu Choline memang kurang menyukai geng-geng motor seperti Drax. Karena menurutnya, aktifitas dalam geng itu tidak ada yang berguna. Nyatanya, Choline saja yang belum tahu.
"Gue salut banget sama Gala. Gue juga merasa bersalah karena dulu sempet gak suka sama geng mereka."
"Makanya jangan nilai orang dari covernya, Lin."
Choline mengangguk setuju. Gadis itu menatap Riri heran. "Kok lo biasa aja sih, Ri?" Heran Choline. "Lo gak bangga sama Gala?"
Riri menatap Choline dengan wajah cemberut. "Riri lagi marahan sama Gala."
"Masalah apa?" Sekarang giliran Nenda yang bertanya. Karena Nenda juga penasaran. Selama ini penyebab pertengkaran Riri dan Gala itu selalu kurang masuk akal. Tapi hal itulah yang justru membuat Nenda juga Choline seketika mood untuk mendengarkan cerita dari Riri.
"Jadi kemaren Gal--"
Drrtttt....drttt...drttt...
"Ih, Ilham telfon terus. Riri bosen," keluh Riri saat tahu siapa orang yang meneleponnya.
__ADS_1
"Angkat dulu. Siapa tau penting," saran Nenda membuat Choline juga mengangguk setuju.
"Halo?"
"Ri, please! Jangan dimatiin lagi, Ini penting."
Riri menghela napas pelan. "Penting kenapa?
Kabar gak baiknya udah jadi baik, ya?"
"Bukan, Ri. Astaga!"
"Ya ud--"
"Gala ngamuk, Ri! Lo harus ke apartemen Gala sekarang!"
Riri sedikit terkejut dan bingung. "N-ngamuk?"
"Iya, dia ngamuk. Cuma Lo doang yang bisa ngendaliin dia. Lo kan pawangnya, Lo disekolah kan? Gue jemput sekarang."
"Emang Gala ngamuk gimana?" Tanya Riri masih belum paham.
"Pokoknya ngamuk.Lo tau Barongsai, kuda lumping, terus Reok ponorogo, gak?"
Riri tetap menganggukkan kepala meski Ilham tidak akan bisa melihatnya. "Tau. Emang mirip kaya gitu ngamuknya Gala?"
"Gak sih, Gue cuma iseng nanyak. Gue jemput Lo sekarang, ya."
Sekarang Riri dan Ilham sudah berdiri tepat di depan pintu kamar apartemen Gala. Dari tempat mereka berdiri sekarang, keduanya bisa mendengar dengan jelas suara-suara berisik dari dalam kamar seperti suara barang yang sengaja dibanting atau dipecahkan.
"Riri takut."
"Gak, Ri. Lo gak boleh takut. Gue yakin Gala bakal berhenti ngamuk kalo lo yang masuk."
"Ilham?" Panggil Riri pelan.
"Kenapa?"
"Gala ngamuk kaya gini dari kapan?"
"Dari kemaren. Gue awalnya gak tau. Akbar yang pertama tau. Dia niatnya mau ambil jaketnya yang ketinggalan di sini. Eh malah denger Gala ngamuk banting-banting barang kaya gitu. Tapi Akbar ngasih tau ke gue tadi pagi. Pas gue cek kesini, ternyata beneran, Gala ngamuk."
Apa yang Ilham katakan memang benar. Akbar lah orang pertama yang tahu jika Gala sedang mengamuk. Kemarin Akbar sudah berusaha mengetuk pintu kamar Gala. Namun tidak mendapat respon apa-apa dari cowok itu. Karena Akbar kira Gala hanya ngamuk biasa, Akbar langsung pulang karena buru-buru harus menjaga adik sepupunya yang sedang sakit.
Tadi pagi, perasaan Akbar tidak enak, ia menghubungi Ilham dan meminta Ilham untuk mengecek keadaan Gala. Dan benar, sesuai dugaannya, Gala memang masih mengamuk di dalam kamar seperti kemarin.
Baik Ilham atau yang lainnya, mereka tidak memusingkan cara masuk ke apartemen Gala, karena keempat sahabat Gala, Alan, Ilham dan Akbar memang mempunyai akses untuk keluar masuk unit apartemen Gala sesuka hati mereka.
"Lo lagi ada masalah sama Gala, Ri?"
Pertanyaan dari Ilham itu membuyarkan lamunan Riri. "Emm, iya Riri lagi berantem sama Gala."
PIYARRR
PIYARRR
PIYARRR
__ADS_1
"Ri, lo buruan deh coba ketuk pintunya. Gue tunggu di ruang tengah, ya? Gue takut Gala kenapa-kenapa kalo dibiarin."
Ilham sudah pergi tanpa menunggu jawaban dari Riri. Sedangkan Riri, gadis itu masih tampak diam di depan pintu sambil memilin seragam sekolah yang ia kenakan sekarang. Antara bingung, takut, khawatir, semua bercampur aduk menjadi satu.
Dengan mengumpulkan segala keberanian. Akhirnya Riri mengangkat tangannya perlahan-lahan. Gadis itu mulai mencoba mengetuk pintu kamar Gala yang di dominasi oleh warna hitam.
Tok...tok...tok...
Hening.
Tok...tok...tok...
"Gala, ini Riri."
Hening. Masih tidak ada jawaban apa-apa dari dalam. Bahkan suara benda pecah seperti tadi pun ikut berhenti. Hal itu membuat jantung Riri berdetak tiga kali lipat lebih cepat dari normalnya.
Bukannya apa, Riri hanya takut Gala tiba-tiba membuka pintu. Menyeret Riri masuk ke dalam kamar lalu marah-marah. Meskipun Riri tahu, marahnya Gala ke dirinya hanya sebatas omelan, tidak pernah sampai main tangan. Tapi tetap saja Riri was-was karena saat ini kondisi Gala sedang tidak baik-baik saja. Kemungkinan Gala juga bisa khilaf, kan?
"Gala, ini Riri. Gala di dalem kan? Riri mau minta maaf sama Gala."
Riri menarik napasnya dalam-dalam. "Gala,
Ri--"
Ceklek
Hal pertama yang Riri lihat setelah Gala membuka pintu adalah gelap. Ya, kamar Gala terlihat gelap karena tidak ada pencahayaan dari apapun. Dan Gala, penampilan cowok itu terlihat sangat berantakan. Jauh berbeda dengan yang biasa Riri lihat.
Kaos dan celana pendek yang Gala kenakan terlihat begitu kusut. Rambut berantakan. Ekspresi wajah tidak bersahabat dan yang paling jelas adalah kantong mata Gala terlihat seperti orang tidak tidur berhari-hari.
"Gal--"
"Ngapain?"
Riri gelagapan saat Gala menatapnya begitu datar. Tanpa ekspresi apapun. Tidak ada tatapan penuh cinta dan kasih sayang seperti biasanya.
Kepala Riri tertunduk. Tidak berani membalas tatapan Gala. "Riri mau minta maaf. Gala jangan marah-marah. Jangan banting-banting barang kaya gitu. Riri takut."
"Lo sama siapa kesini? Lo bolos?"
.
.
******
.
Btw kalo kolor ijo dijodohin sama Joko, anaknya jadi apa yaa??
Kiww racunin temen kalian buat baca cerita ini, biar makin rameee
Lanjut gak nih?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Gala?
__ADS_1
Atau untuk siapa saja, untuk penulis juga bisa :
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cpt juga up nya.