CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Gala Frustasi


__ADS_3

Bagaimana tidak buruk, sejak tadi sore Gala sudah mencoba menghubungi Riri. Namun tidak ada jawaban apapun dari gadis kesayangannya itu. Gala jadi kesal dan ingin uring-uringan sendiri sejak tadi.


Sebenarnya Gala berniat langsung datang ke rumah Riri. Tapi kata Alan, hal itu justru akan memperkeruh keadaan. Alan menyarankan, Gala lebih baik menunggu sampai Riri mau membalas dan mengangkat telfon darinya. Setelah itu, barulah Gala bisa menemui Riri.


"Gal, Wulan itu beneran kangen sama Joko. Gue yakin Joko juga kangen sama Wul--"


"Ngomong sekali lagi, gue geprek tuh ikan koi sialan!" Potong Gala terdengar tidak main-main.


Ilham, cowok itu menelan ludahnya kasar dan langsung terdiam untuk beberapa detik ke depan. Ilham tidak bisa membayangkan jika ikan koi kesayangannya, Wulan dan Joko akan benar-benar digeprek oleh Gala. Ilham tidak tega.


Wulan dan Joko yang Ilham maksud sedari tadi memang ikan koi peliharaannya dan Riri. Wulan ikan koi milik Ilham dan Joko ikan koi milik Riri. Mereka berdua sengaja membeli ikan koi berbeda gender, agar bisa dijodohkan dan dijadikan couple.


"Ya elah, Gal. Lo baru didiemin Riri beberapa jam, udah sefrustasi ini. Apalagi kalo selam--"


BRAK


Belum sempat Ilham melanjutkan ucapannya, Gala sudah berdiri lalu menendang kursi yang tadi sempat ia duduki. Cukup kencang, hingga beberapa anak Drax lain yang juga sedang duduk bersantai di teras markas ikut mengalihkan fokus mereka pada Gala. Sayangnya mereka hanya berani menatap Gala sepersekian detik saja. Karena setelah sadar, saat ini Gala sedang ada di dalam mode iblis nya, dengan cepat mereka pura-pura tidak melihat. Mereka masih cukup waras untuk tidak menyerahkan nyawa secara cuma-cuma pada Gala.


Anak-anak Drax sudah sangat hafal bagaimana tabiat leader mereka. Jangankan, ditatap oleh orang lain, jika sedang uring-uringan lalu ada semut lewat pun, Gala akan marah dan semakin uring-uringan tidak jelas.


Mata berapi Gala menatap Ilham begitu tajam dan menusuk. Seolah ia bisa membuat Ilham mati hanya dengan menatapnya seperti itu. "Maksud lo apa?!"


"Sorry, sorry, Gal. Gue gak maksud sumpah!" Ucap Ilham merasa bersalah. Ralat, sebenarnya Ilham lebih merasa takut daripada merasa bersalah.


"Udah, Gal." Alan ikut berdiri. Cowok pendiam itu menepuk-nepuk punggung Gala. Mencoba menenangkan Gala yang kapan saja bisa melayangkan bogeman mentah pada Ilham. Alan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Akbar yang sejak tadi fokus bermain game di ponselnya ikut melerai setelah memutuskan keluar dari aplikasi game. "Udah, Gal. Tenangin diri lo. Jangan lampiasin emosi lo ke orang lain."


Akbar beralih menatap Ilham jengah. "Heran gue sama lo, Ham. Pekara ikan koi doang dibuat ribet. Mancing emosi orang aja. Mending mancing janda sana."


"Kemana?" Tanya Alan pada Gala.


"Kobam."


"Ck. Inget Gal. Lo itu lagi berusaha buat luluhin hati Riri. Jadi gak usah aneh-aneh dulu. Bukannya Riri luluh dan mau maafin lo. Yang ada Riri malah makin kesel sama lo."

__ADS_1


Gala menghentikan langkahnya mendengar ucapan Akbar. Sebenarnya, apa yang Akbar katakan memang ada benarnya juga. Sayangnya untuk saat ini Gala terlalu keras kepala dan tidak ingin mendengar nasihat dari siapapun. Yang Gala inginkan sekarang hanya Riri. Ya, hanya Riri. Tidak ada yang lain.


"Bodo amat! Gue gak peduli!"


Gala benar-benar pergi meninggalkan markas Drax. Sementara ketiga sahabat Gala tidak bisa berbuat apa-apa selain menggeleng heran.


"Keras kepala banget," gumam Alan.


"Gak papa Lan, cuma keras kepala doang. Daripada keras anu. Bisa bahava." kekeh Ilham.


Akbar mendengus. "Ya Tuhan, otak gue traveling denger ucapan lo, Lot. Siapapun tolong selamatkan gue!"


******


BRAKKK


BRAKKK


PYARRR


KLONTANG


"GUE KANGEN SAMA LO, RI!"


"GUE MAU PELUK LO!"


"ARRRGGHHH BANGSAT LO DEWA!"


Gala, cowok itu kembali melakukan kebiasaan buruknya. Membanting, melempar dan menghancurkan semua benda yang ada di kamar sama seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang ujungnya ia harus memanggil bibi di rumahnya untuk membantu membersihkan apartemen yang ia buat berantakan persis seperti sekarang.


"Arrggghhh! Gue pengen peluk lo, anjing!"


"Ayo maafin gue! Gue capek lo diemin terus!"


"Arrrghhh!!!"

__ADS_1


Gala terduduk lemas di lantai dengan bersandar pada lemari baju yang ada di kamarnya. Kedua tangan kekarnya tidak berhenti menjambak-jambak rambutnya yang tampak begitu berantakan dan kusut.


Sudah dua hari ini Gala dan Riri tidak saling bertemu. Sudah dua hari ini juga Gala tidak tahu kabar mengenai Riri. Hal itu karena sudah dua hari ini Riri tidak masuk sekolah. Saat Gala datang ke rumahnya pun, Gala tidak bisa menemui Riri karena diusir oleh Dewa.


Rentetan kejadian itulah yang membuat Gala jadi sefrustasi sekarang. Mungkin orang lain akan mengatakan Gala itu lebay atau terlalu berlebihan. Namun Gala sama sekali tidak peduli. Sekarang ia hanya butuh Riri, Riri dan Riri.


Drtt...drtt...drtt....


Tanpa melihat siapa yang menelfon dirinya, Gala segera meletakkan ponsel yang ia ambil dari saku celananya di telinga. Gala duga, yang menghubunginya sekarang pasti papanya, Abraham. Pasalnya sudah beberapa hari terakhir ini Abraham selalu menelfon Gala untuk meminta sesuatu yang sama. Sesuatu yang membuat Gala sangat enggan dan mustahil untuk mewujudkannya.


"Halo, kenapa? Papa mau maksa Gala lagi? Gala gak mau, Pa. Gala gak--"


"Gal, ini gue Agam."


Gala sedikit terkejut dan berusaha menetralkan suaranya. "Oh, bang Agam? Kenapa bang? Tumben lo telfon?"


"Lo ada di mana sekarang?"


"Di apart."


"Oke, gue takutnya lo lagi di jalan. Gal, gue mau ngasih tahu kabar gak mengenakan. Gue harap lo tenang dulu, ya.'


"Maksud lo apa bang?" Gala tidak paham.


"Om Abraham sama tante Anita kecelakaan. Tadi pagi jadwalnya mereka pulang ke Indonesia, tapi sayangnya mobil yang mengantar mereka ke bandara mengalami kecelakaan."


Tidak langsung menyahuti penjelasan dari Agam. Gala membeku untuk beberapa detik. "Lo lagi becanda bang?" Tanya Gala tidak percaya. Tapi setelah Gala pikir-pikir lagi, untuk apa Agam, abang sepupunya itu bercanda atau berbohong. Tidak ada untungnya juga. Lagipula setahu Gala, Agam memang bukan tipe cowok yang suka bercanda seperti si Jenglot Ilham.


"Gue serius, Gal. Gue barusan dapet kabar dari sekertaris bokap lo."


Gala mengusap wajahnya kasar. "Jadi lo serius? Papa sama tante Anita beneran kecelakaan?" Tanya Gala mulai panik. "Terus gimana keadaan mereka?"


"Gue belum tahu gimana keadaan pastinya. Tapi dari kabar yang gue dapet, bokap sama nyokap lo sekarang ada di rumah sakit."


"Gue harus ke sana."

__ADS_1


__ADS_2