CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
108.Suara Dengkuran Pelan


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


"Cih! Jangan dilama-lamakan! Setelah itu cepat pergi!" peringat o Gala tidak suka. "Muak gue liat cewek hobi drama kaya lo!"


Amora hanya mengangguk sedih sebagai jawaban. Setelah selesai, Amora pergi ke kamar mandi untuk untuk mengembalikan alat pel. Namun baru beberapa detik di dalam kamar mandi, Amora berteriak meminta tolong hingga membuat Gala bangkit dari duduknya.


"****! Itu cewek kenapa sih bangsat?!"


"Kenap--"


"Tolong, Kak. Aku gak bisa berdiri. Kaki aku sakit...sshhh," rintih Amora dalam posisi setengah berbaring.


"Bodoh! Bangun sendiri!"


Gala yang hendak keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya mendengar ucapan Amora.


"Kalau Kak Gala gak bantu aku, aku bakal tetep di sini terus


karena kaki aku sakit. Kak Gala gak mau aku pulang, ya?"


"Cih!"


Gala berbalik badan. Menghampiri Amora lalu menarik kasar Amora agar berdiri. Namun bukannya berhasil Gala justru terjatuh tepat di atas Amora. Entah apa penyebabnya. Sepertinya Amora memang sengaja menyusun rencana.


"Anjin*!" umpat Gala lalu segera bangun. Jika yang ada dalam keadaan seperti ini adalah dirinya dan Riri, sudah dipastikan itu adalah keberuntungan bagi Gala. Namun karena ini Amora, Gala merasa menjadi orang tersial di dunia.


"Lo sengaja narik gue?" tuduh Gala tepat sasaran.


Amora menggeleng dengan wajah polos. "Enggak, Kak. Ak.."


"Cepat bangun dan pergi!" Gala menarik tangan Amora kasar. Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali. Untungnya kali ini langsung berhasil hingga membuat gadis itu berdiri.


"Maka--"


Amora melunturkan senyumnya saat Gala pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Mata Amora langsung menatap ke ponsel yang ia letakkan di wastafel. Senyum miring gadis itupun terpampang jelas. "Berhasil."


"Hoooamm ngantuk..."


Berkali-kali Riri mencoba membuka matanya lebar-lebar, namun berkali-kali juga ia gagal. Kedua matanya terasa begitu berat. Seolah hanya ingin terpejam dan pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


Riri menatap ke depan tanpa minat. "Ish, bicara apa sih? Riri gak paham. Masa dari tadi disuruh bilang hidup mahasiswa, hidup mahasiswa terus? Emang selama ini mahasiswa gak hidup?" celoteh Riri tak karuan mendengar salah satu panitia ospek melakukan pidatonya di atas podium.


Sementara itu, Nenda, gadis cantik berwajah kalem yang selama ini didamba-dambakan oleh Ilham dan Dewa itu menoleh ke samping setelah samar-samar mendengar ocehan Riri.


Benar saja dugaan Nenda. Sekarang Riri sudah memejamkan kedua matanya dengan tangan di atas meja yang ia jadikan bantal. Tidurnya terlihat begitu nyenyak dan tidak tahu diri.


Tentu saja tidak tahu diri. Tidak masalah jika Riri tidur di waktu dan tempat yang tepat, sayangnya gadis itu benar-benar keterlaluan. Tidur di saat mereka tengah mengikuti salah satu kegiatan ospek Fakultas di kampus baru mereka.


Nenda dan Riri memang mengambil jurusan yang sama, yaitu sastra Indonesia dan kebetulan mereka juga satu kelompok ospek. Sementara Choline, seperti ucapannya saat hari pengumuman kelulusan, Choline mengambil kuliah di luar negeri. Tepatnya di Swiss.


"Rii," panggil Nenda berbisik. Namun tak ada respon apapun yang Riri berikan. Selain suara dengkuran pelan.


Nenda mendengus pelan. Kemarin, kemarin nya lagi, bahkan


Setiap hari sejak hari pertama mereka mengikuti ospek, Riri selalu tidur di sesi kegiatan ini.


Untungnya Riri selalu beruntung, karena saat tertidur, Riri tidak pernah ketahuan oleh komisi disiplin atau yang biasa disebut komdis. Mereka adalah salah satu panitia ospek yang bertugas untuk mengawasi seluruh mahasiswa dan mahasiswi baru agar mengikuti semua kegiatan ospek dengan tertib dan taat peraturan. Kalau tidak, sudah pasti pelanggaran sekecil apapun yang maba lakukan akan mendapat hukuman.


Sialnya, hal yang Riri tengah lakukan saat ini bisa masuk kategori pelanggan berat. Kalau sampai ketahuan, hukumannya pasti tidak main-main. Maka dari itu Nenda khawatir. Selain itu, Nenda juga sudah dimintai tolong oleh Gala dan Dewa untuk menjaga Riri. Jika Riri dihukum, selain kasihan, Nenda juga akan merasa tidak enak pada Gala dan Dewa.


Jantung Nenda berdebar kian kencang saat melihat salah satu komdis berjalan ke arah mereka. Dengan sisa keberanian, Nenda sedikit mengguncang pundak Riri. Membuat gadis itu melenguh pelan karena merasa tidurnya terganggu.


"Emm, apa sih? Riri ngantuk Gala..." racau Riri dengan mata yang masih terpejam sempurna.


"Kenapa, Nen?"


Cowok yang duduk di belakang Nenda itu bertanya penasaran setelah menyadari gelagat Nenda yang tampaknya sedang gelisah.


"Ya Tuhan, tuh bocah tidur lagi?" heran Rafa.


Persis seperti kekhawatiran Gala beberapa waktu yang lalu, Rafa--sabahat kecil Riri yang waktu itu menjadi murid baru di kelas Riri--sekarang memang kuliah di jurusan yang sama dengan Riri dan Nenda. Entah hanya sebuah kebetulan lagi atau bagaimana, Rafa juga satu kelompok ospek dengan Riri dan Nenda.


Gala sudah mengetahui hal itu dari Riri beberapa hari yang lalu. Pertama kali tahu Gala memang tidak marah. Namun cowok itu sempat mendiamkan Riri dan malas membicarakan apapun yang bersangkutan dengan kuliah. Karena otomatis Gala akan teringat Rafa yang satu jurusan dengan Riri dan berpotensi merebut Riri darinya jika membahas soal kuliah.


Sampai akhirnya Gala kembali luluh setelah mendengar beribu janji yang Riri ikrar kan untuk membuatnya tenang.


Janji-janji Riri seperti, Riri tidak akan mengobrol dengan Rafa, Riri tidak akan duduk berdekatan dengan Rafa, Riri tidak akan menanggapi ketika Rafa berusaha mendekat dan masih banyak lagi janji yang harus Riri ikrar kan atas permintaan Gala waktu itu.


"Jangan dibangunin. Biarin aja."


"Loh? Tapi itu ada Kakak komdis yang mau jalan ke sini, Raf. Kalo mereka tahu Riri tidur, bisa habis Riri. Bakal kena marah plus dapet hukuman."


"Udah tenang aja. Aman kok. Biar gue yang awasin. Kasihan


kalo dibangunin. Mungkin Riri emang lagi ngantuk banget."


Nenda memilih mengikuti kata Rafa. Semoga saja apa yang ia takutkan tidak akan terjadi. Ya semog--

__ADS_1


"Enak ya tidur. Padahal bukan waktunya istirahat."


Glek!


Nenda menelan ludahnya kasar. Itu adalah suara cowok anggota komdis yang tiba-tiba berdiri tepat di belakang Rafa.


"Bangunin temennya," katanya menyuruh Nenda. "Temennya tidur bukannya dibangunin malah dibiarin. Mau saya hukum satu kelompok?"


"Jangan Nen!"


Pergerakan Nenda terhenti saat mendapat interupsi dari Rafa yang melarangnya membangunkan Riri.


"Kenapa? Kamu mau saya hukum sebagai gantinya?"


....


.


Bersambung


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala Arsenio Abraham?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Dewa?


Pesan buat Danis?


Pesan buat Amora?


Pesan buat Nenda?


Pesan buat Choline?

__ADS_1


Pesan buat siapa aja?


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2