CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Om Abraham Dan Tante Anita Meninggal


__ADS_3

"Ikut gue!"


"Kemana?!" Riri berusaha menarik tangannya yang sudah Gala cengkram.


"Nurut aja bisa gak sih?!"


Mata Riri berkaca-kaca, baru saja Gala meminta maaf dan bersikap lembut. Tapi sekarang cowok itu kembali kasar dan egois. Secepat itu memang perubahan Gala. Membuat Riri bingung sekaligus heran. Ya, meskipun sebenarnya Riri sendirilah yang telah memancing amarah Gala.


Menyadari Riri akan menangis, Gala menghela napas, memilih mengalah. Ia sadar di sini dirinya lah yang salah. Selalu gagal mengontrol emosi dengan baik. "Maaf," ucap Gala lembut sambil mengusap kedua pipi Riri.


Riri menghempaskan tangan Gala sedikit kasar. "Riri gak suka kalo Gala kasar! Riri gak suka Gala marah-marah hiks! Padahal Riri cuma mau bilang kalo Rafa ajakin Riri kerja kelompok di kafe tapi Riri tolak. Karena Riri gak mau buat Gala marah!"


Berbeda dengan Riri yang menggebu-gebu, Gala justru tampak tenang. "Iya, maafin gue."


"Nanti kasar lagi!"


"Enggak sayang," geleng Gala dengan wajah serius.


"Gue janji gak kasar lagi. Asal lo mau ikut gue. Oke?"


Perlahan tangis Riri mereda. Mata berair mengerjap beberapa kali. "Kemana?" nya


"Ke Apart."


"Ngapain?"


Gala berdecak sebal. Ceweknya ini banyak bertanya seperti Dora. "Ngerante lo," jawab Gala enteng sambil menarik tangan Riri. "Biar si Rafa burik itu gak bisa modus ke lo lagi."


Setelah berhasil membawa Riri ke apartemen, meski tadi Gala juga harus adu mulut terlebih dahulu dengan kedua abang Riri, kini Gala dan Riri sudah berada di kamar yang tadi Riri bereskan dibantu Gala.


"Mau kemana?" Suara serak Gala membuat Riri menghentikan pergerakannya. Gadis itu kembali duduk di tepi ranjang. Membiarkan kedua tangan kekar Gala melingkari perutnya.


"Riri pengen pipis. Gala mau ikut?" Tanya Riri sembari memainkan rambut Gala.


"Mau!" Gala yang semula malas membuka mata


karena masih mengantuk, kini kedua matanya langsung terbuka begitu lebar hanya karena mendengar penawaran menarik dari Riri.

__ADS_1


"Tapi boong!" Cengir Riri dengan senyum menyebalkan dan wajah tidak berdosa.


"Hem! Sana-sana gue ngantuk!" Usir Gala menenggelamkan wajahnya di bantal dan membiarkan Riri pergi ke kamar mandi.


Tidak membutuhkan waktu lama, lima menit kemudian Riri kembali duduk di tepi ranjang. Sementara Gala, cowok itu sengaja diam saja. Pura-pura tidak sadar dengan kehadiran Riri.


"Gala..."


"Hem?"


Meski menjawab, Gala masih tetap di posisi semula. Belum ada niatan untuk mengubah posisi menghadap Riri.


"Gala, ini ada telfon dari bang Agam."


"Bang Agam?!" Dengan cepat Gala membalikkan badan. Gala buru-buru meraih ponsel yang Riri sodorkan setelah mengubah posisinya menjadi duduk.


"Halo?"


"Gal, gue ada kabar buruk.'


"Kabar b-buruk gimana, bang?" Rasanya jantung Gala berdegup lebih cepat dari biasanya mendengar ucapan Agam barusan.


Gala tertawa tidak percaya. "Bang, lo jangan bercanda. Tadi lo bilang nanti malem bakal susulin mereka ke Singapur, tapi..."


"Gal, tadi mereka masih ada. Gue juga baru dapet kabar barusan. Gue tau lo kuat. Sabar ya. Lo di mana? Gue ke sana sekarang."


Ponsel Gala terjatuh sebelum ia sempat menjawab pertanyaan dari Agam. "Papa? Papa pergi?" Ucap Gala masih tidak percaya. Ia sangat berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Abraham, tidak mungkin papanya itu meninggalkan dirinya secepat inikan? Tidak. Ini semua pasti hanya mimpi buruk. Ini semua tidak nyata.


"Papa pergi?" Gala menggeleng cepat lalu tertawa pelan. "Enggak. Ini semua gak nyata. Ini pasti cuma mimpi buruk."


"Gala, kenapa?" Riri bingung melihat Gala yang tiba-tiba menangis. Tidak histeris, namun Riri bisa merasakan kali ini tangis Gala terdengar begitu pilu.


"Papa, Ri." Gala mengangkat kepala. Kedua matanya terlihat begitu merah dan penuh genangan air mata. "Papa pergi ninggalin gue. Tante Anita juga. Semua ninggalin gue, Ri. Semua pergi. Gue gak punya siapa-siapa lagi."


"Maksud Gala apa? Riri gak paham."


Gala memeluk Riri erat. Sangat erat. "Papa sama tante Anita kecelakaan di Singapur. Mereka meninggal, Ri. Mereka gak selamat. Mereka ninggalin gue. Mereka ninggalin gue."

__ADS_1


"Gala..." Riri tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan mendengarkan setiap racauan yang keluar dari bibir Gala. Cowok itu terus menangis dan mengucapkan kata-kata yang membuat hati Riri ikut teriris.


"Mama pergi ninggalin gue. Dulu lo juga hampir pergi ninggalin gue. Sekarang papa sama tante Anita yang ninggalin gue. Kenapa? Kenapa semua orang ninggalin gue? Apa salah gue?"


"Kenapa harus gue? Kenapa harus gue yang selalu ditinggalin?!" Teriak Gala melepaskan pelukan Riri dan berakhir menjambak rambutnya sendiri.


******


"Jadi lo Riri?"


Riri mengangguk polos. "Iya."


Agam tersenyum hangat. "Gue Agam, abang sepupunya Gala. Gue pernah denger dari om Abraham kalo lo tunangannya Gala. Sorry, waktu lo sama Gala tunangan, gue emang gak bisa dateng karena lagi gak di Indo."


"Ini temen-temennya Gala?" Agam beralih menatap


tiga cowok di samping Riri.


Dengan cepat Ilham menyahut. "Gue Ilham, bang. Terus itu yang dari tadi bengong doang kek orang bego namanya Akbar," kekeh Ilham melirik Akbar sekilas. Untung saja Akbar sedang malas ribut karena tahu situasi, jadi cowok itu tidak mau meladeni ucapan Ilham.


"Nah kalo yang paling ganteng mirip gue itu Alan."


Agam mengangguk dan menyalami mereka satu persatu. "Hem, gue salut sama solidaritas pertemanan kalian. Denger Gala lagi gak baik-baik aja, kalian langsung kompak dateng ke sini."


Sebenarnya tadi Riri yang menghubungi mereka.


Karena Riri bingung menghadapi Gala sendirian, akhirnya ia memutuskan untuk meminta Ilham,


Akbar dan Alan datang ke apartemen Gala. Sekalian untuk menyampaikan berita duka. Beberapa menit kemudian barulah Agam yang datang.


"Gala juga gitu ke kita. Jadi wajar aja kalo kita kaya gini, bang," timpal Akbar. "Bang, maaf. Jenazah om Abraham sama tante Anita kapan dipulangkan ke Indonesia?"


Agam menghela napas. "Besok. Gak bisa langsung karena sekarang masih diurus prosesnya sama anak buah gue."


Tatapan Agam beralih pada Riri yang sejak tadi menunduk dan menautkan jari-jemarinya. Sepertinya gadis itu bingung dan tidak tahu harus melakukan apa sekarang. "Ri, lo tetep temenin Gala terus, ya. Gue liat, Gala cuma bisa tenang kalo ada lo."


Riri mengangguk pelan. "Tapi Riri takut."

__ADS_1


"Takut kenapa?" Tanya Alan. Cowok yang sejak tadi diam dengan ekspresi datar itu akhirnya membuka suara.


__ADS_2