CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Bogeman Dewa


__ADS_3

FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?


Vote Dan Komen lebih banyak dari


Chapter sebelumnya, baru update yađź’–


Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.


.


.


******


Gala membuka selimut Riri hingga berhasil. Cowok itu menahan selimutnya agar Riri tidak bisa menutupi wajahnya lagi.


"Maafin gue, yaa?" Ujar Gala dengan wajah menyesal. Gala meraih dagu Riri agar mau menghadapnya. Pasalnya sejak selimut Riri berhasil dibuka paksa oleh Gala, Riri langsung memalingkan muka. Tidak mau menatap wajah Gala barang sedetikpun.


"Gue tau gue salah karena ingkar janji. Gue juga salah karena minum sampe mabuk. Maafin gue, Ri. Maaf."


Setelah Riri amati, sepertinya Gala tadi malam hanya tidur sebentar. Terlihat dari kantong mata dan tatapan Gala yang sayu layaknya orang kurang istirahat.


"Maaf ya?" Tanya Gala lagi. Gala memiringkan kepalanya hendak mencium pipi Riri. Namun dengan cepat gadis itu menghindar.


"Gak mau! Gala bau alkohol!" Tolaknya.


Riri mendorong wajah Gala lalu kembali menutup wajahnya menggunakan selimut. Riri memang tidak suka didekati Gala ketika cowok itu selesai mabuk. Karena bau alkoholnya pasti akan berbekas dan menyengat.


"Iya-iya, enggak. Maafin gue ya, Cil? Nanti gue beliin es krim dua. Mau gak?"


"Riri bukan Cil!"


Gala terkekeh pelan, meski ia tidak bisa melihat wajah Riri karena tertutupi oleh selimut. Namun Gala sudah bisa membayangkan betapa imut dan menggemaskannya wajah Riri saat sedang kesal seperti sekarang.


"Lo kan bocil," balas Gala mengusap-usap kepala Riri dari balik selimut. Begitu melihat ada celah, Gala langsung ikut memasukkan kepalanya ke dalam selimut.


Riri tidak bisa melakukan apa-apa selain melotot kaget. Gadis itu hendak memberontak tapi dengan cepat Gala menahannya.


"Lo kan emang bocil," bisik Gala tepat di telinga Riri. Cowok itu tersenyum licik. "Bocil yang bisa bikin bocil bareng gue."


Sempat loading untuk beberapa saat. Namun


akhirnya setelah paham apa yang Gala maksud. Riri segera membuka selimut yang menutupi kepala mereka berdua dan berteriak cukup kencang.


"AAAA RIRI GAK BOCIL! RIRI JUGA GAK BISA BIKIN BOCIL! RIRI GAK MAU HUAAAA....!!!!"


Riri berdiri diikuti Gala. Kedua tangan mungil Riri langsung melayangkan pukulan demi pukulan pada dada bidang Gala.

__ADS_1


Sementara Gala, cowok itu masih tampak santai meski semakin lama pukulan Riri semakin membuat dadanya terasa sedikit nyeri.


"Riri bukan bocil hua!!! Riri juga gak bisa bikin bocil! Kata Bunda itu gak boleh hua ....!!!"


"Eh, eh, kok nangis?" Panik Gala begitu melihat


tangisan Riri semakin kencang.


"Eh kampret lo apain adek gue, hah!" Tanya Dewa sengit. Entah sejak kapan, cowok dengan kaos oblong itu kini sudah berdiri di ambang pintu kamar Riri. Yang sedari tadi memang terbuka.


"ABANG...!!!" Riri berlari menuju Dewa. Gadis dengan piyama dan rambut acak-acakan itu memeluk kakaknya begitu erat. Seolah ketakutan.


"Kenapa? Lo diapain sama dia, hem?" Tanya Dewa lembut seraya membalas pelukan Riri.


"Hem! Ri! Lo jangan peluk-peluk dia di depan gue dong!" Gala mengacak rambutnya frustasi. Meskipun Dewa itu abangnya Riri. Tapi tetap saja Gala tidak bisa jika melihat Riri dan Dewa berpelukan di depannya seperti ini.


"Berisik!" Semprot Dewa. "Lo apain adek gue sampe nangis kaya gini?!"


"Hem! Apaan sih!" Gala hendak maju untuk melepas pelukan Riri dan Dewa. Tapi pergerakannya itu terhenti begitu mendengar ancaman dari Dewa.


"Lo maju, gue bakal teriak panggil bokap!"


Ancam Dewa membuat Gala kembali mundur..


"Argghhhh!!!"


"Lo di apain sama dia, hem?" Dewa beralih menatap


Tangan Dewa tidak berhenti mengusap kepala hingga punggung Riri untuk memberi ketenangan. Otomatis, hal itu membuat Gala semakin kebakaran jenggot. Namun tak ada yang bisa Gala lakukan sekarang. Kecuali menahan emosinya.


Riri mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Mata berair nya itu mengerjap beberapa kali sebelum mengadu pada Dewa. "Gala nakal hiks! Gala mau ajak Riri bikin bocil, Bang! Riri kan gak bisa hiks!"


Riri kembali menangis sesenggukan dalam pelukan Dewa. "Riri juga gak mau huaaa...!! Kata Bunda sama Mama itu gak boleh huaaa...!!!"


Dewa yang mengerti apa maksud Riri, segera menenangkan adiknya itu. "Ssstttt, enggak-enggak. Lo tenang aja, biar gue marahin dia."


Tatapan tajam Dewa menghunus ke arah Gala. "Gila lo, Lo mau rusak adek gue hah?!" Sengit Dewa tidak tahan untuk segera membogem wajah Gala yang tampak begitu menyebalkan di matanya.


Gala balas menatap Dewa jengah. Dalam hati, Gala sudah menahan mati-matian rasa cemburunya melihat Riri dan Dewa masih berpelukan erat seperti sekarang. Sumpah demi apapun. Gala itu paling tidak bisa melihat Riri disentuh oleh cowok lain selain dirinya. Mau itu keluarga Riri sekalipun.


"Paan sih lo!" Ketus Gala. "Kalo gue niat rusak Riri. Udah gue rusak dari dulu sebelum ada lo!"


Benar juga, jika Gala memang mempunyai niat untuk merusak Riri, sudah pasti hal itu terjadi sejak lama. Karena sebelum Riri tinggal bersama keluarganya yang sekarang, Riri hanya memiliki Bunda Desi dan Gala saja. Bahkan setelah Desi meninggal, Gala selalu menjaga Riri dengan begitu baik. Tidak ada niat sekecil apapun untuk merusak Riri dengan melakukan hal itu.


"Gak usah sok keras lo!" Semprot Gala. Sementara Dewa masih betah dalam mode diam. "Lagian gue sama Riri udah tunangan. Kalopun kebobolan, ya udah tinggal nikah. Apa susahnya sih?"


Bugh

__ADS_1


Bugh


Bugh


"Bajingan!" Umpat Dewa marah setelah mendaratkan tiga bogeman mentah di wajah Gala.


"Bang Dewa jangan!" Cegah Riri saat Dewa


hendak membogem Gala untuk ke empat kalinya. "Ada apa ini?" Tanya Eza, papa Riri. Pria paruh baya itu tidak datang sendiri, melainkan datang bersama Vina dan juga Danis.


"Ya ampun Dewa! Kamu apain Gala?!" Vina mendekati Gala. Membantu cowok itu berdiri. Wajahnya sudah lebam dan sedikit berdarah karena pukulan Dewa cukup keras.


Gala meringis pelan sambil memegangi sudut bibirnya. "Makasih tante," ucapnya yang diangguki oleh Vina.


"Ini kenapa?" Bingung Eza menatap Dewa, Gala dan Riri bergantian. Namun ketiganya tidak ada yang mau membuka suara. Hingga akhirnya Gala berujar begitu lirih.


"Ini salah Gala, Om. Maafin Gala. Saya permisi dulu." Gala menunduk lalu melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan rasa bingung di benak semua orang.


Kali ini Gala terlihat sedikit...berbeda?


Melihat kepergian Gala. Riri sebenarnya merasa bersalah juga. Riri memang sedang kesal dengan cowok itu, namun Riri tidak membenarkan tindakan Dewa yang gegabah.


"GALA...!!!"


"GALA TUNGGUIN RIRI!!!"


"Ri, lo..."


"Riri mau ngejar Gala!" Sentak Riri menghempaskan tangan Dewa yang berniat menghalanginya.


"Gala tungguin Riri!"


Riri berhasil menghadang cowok itu tepat di depan pintu utama, setelah berlari cukup kencang dan hampir tersandung saat di anak tangga terakhir. Beruntung tadi Riri masih bisa menyeimbangkan langkahnya hingga tidak terjatuh.


******


Btw kalo kolor ijo dijodohin sama Joko, anaknya jadi apa yaa??


Kiww racunin temen kalian buat baca cerita ini, biar makin rameee


Lanjut gak nih?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Gala?


Pesan buat Dewa ?

__ADS_1


Atau untuk siapa saja, untuk penulis juga bisa :


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cpt juga up nya.


__ADS_2