CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Menuju Panti Asuhan


__ADS_3

"Paan?"


"Paan, paan. Basa-basi dulu kek. Lo emang--"


"Lo udah basi. Cepet apaan?!"


"Gue cuma mau ingetin lo, jangan lupa nanti kumpul dulu di markas jam tiga. Satu jam lagi."


"Gue gak pikun."


"Ya kali aja, gue sebagai anak buah yang baik kan cuma ngingetin. Oh iya, lo jadi bawa Riri?"


"Jadi. Kenapa? Masalah?"


"Buset, gue cuma nanya. Kalo lo bawa Riri ntar biar si Alan bawa ceweknya. Biar Riri gak kesepian."


"Kesepian mata lo! Riri udah sama gue. Gak bakal kesepian. Lo tuh yang kesepian. Dasar jomblo karatan!"


"Ya maksudnya biar ada temen ceweknya. Lo lama-lama ngeselin pengen gue ban-"


Tut. Sengaja Gala mematikan sambungan telfon Ilham secara sepihak. Telinganya sudah panas mendengar ocehan Ilham yang sangat tidak berfaedah. Lebih baik sekarang dirinya juga bersiap-siap.


"Lama amat, tuh bocil mandi apa nguras wc sih?!" Dumel Gala setelah selesai siap-siap dan kini mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


Untuk siap-siap Gala hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Sementara Riri yang sudah lebih dulu mandi, hingga kini belum terlihat juga batang hidungnya.


"Lama amat lo!" Semprot Gala begitu Riri keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. "Lo mandi apa nguras wc, hah?!"


"Gala jangan marah-marah ih! Tadi Riri eek dulu!"


"Hem! Punya cewek hobi berak!" Ledek Gala. "Udah lo semprot belom?!"


"Apa?"


"Ya berak lo. Entar lupa lagi kaya kemarin. Terus si kuning pada nimbul-nimbul bikin mata gue sepet!"


"liiiihhh jorok!"


"Lo yang jorok! Berak gak disiram!"


"Gala jangan marah-marah!" Teriak Riri cukup kencang.


Karena kesal Gala balas berteriak. "Ya lo lama! ENtar telat. Besok-besok gue aja yang mandiin!"


"Gak mau! Riri bukan orang mat--aaaaaa!!!"


Gala menarik tangan Riri hingga gadis itu terjatuh


tepat di sampingnya. "Bacot banget. Sini gue sisirin."

__ADS_1


"Apanya?" Mata Riri mengerjap polos. Memang


dasarnya otak Riri ini terlalu polos dan...bego.


"Rambut lo lah. Emang apa lagi yang bisa disisir?


Bulu ketek lo panjang? Hah?"


Meski kesal, Riri tetap memberikan sisirnya pada Gala. "Nih, pelan-pelan kalo nyisir. Ntar rambut Riri nyangkut lagi di sisir kaya kemarin."


"Itu karena lo. Disisirin bukannya diem malah heboh kaya reog!"


Riri hanya diam, tidak lagi menanggapi ucapan Gala yang meledeknya habis-habisan dan membiarkan Gala menyisir rambut sepunggungnya dengan begitu telaten.


Jujur, Gala lebih suka rambut Riri yang sekarang. Karena menurutnya rambut pendek Riri seperti dulu hanya akan memperlihatkan leher mulus Riri yang bisa mengundang perhatian buaya-buaya bermata keranjang di luaran sana.


"Gue kepang dua, ya?"


Jelas saja Riri langsung menolak tawaran Gala. Memangnya dia ini anak TK apa? Gala memang suka mengada-ada.


"Gak mau! Nanti Riri kaya bocil!"


Terkekeh, Gala menghirup aroma wangi stroberi di rambut Riri dengan rakus. "Tapi lo kan bocil gue, lupa hm?"


******


"Kakak ini yang namanya kak Gala, ya?"


sempat melanjutkan ucapannya gadis di depan Gala


itu langsung menerjangnya dengan pelukan erat.


"Makasih kak! Makasih karena kak Gala udah nolongin aku! Makasih kak Gala udah bawa ke kantor polisi orang yang jahat sama aku! Pokonya makasih banyak!"


Gala menatap teman-temannya bingung. Seolah meminta penjelasan. Namun semua anak Drax juga terlihat kebingungan dan tidak tahu jawaban atas pertanyaan Gala.


Sementara Riri, gadis itu merasa jealous melihat Gala dipeluk cewek lain seperti sekarang "Lepas ih! Kok kamu peluk-peluk Gala!" Riri memaksa gadis itu melepaskan pelukannya hingga benar-benar terlepas.


"Mor, yang sopan."


Semua orang lantas menoleh pada sumber suara.


Dio, cowok itu baru saja keluar dari dalam panti.


"Aduh, sorry Gal. Ini Amora adek panti gue. Dia yang pernah gue ceritain ke lo. Dia korban pel---"


Gala mengangguk cepat setelah ingat ternyata gadis yang bernama Amora ini adalah korban pelecehan yang pelakunya sudah Gala dan anak Drax lainnya tangkap dan bawa ke kantor polisi beberapa waktu yang lalu.


"Gue udah inget, Yo."

__ADS_1


"Sorry banget, ya." Dio menarik Amora mendekat ke arahnya. Cowok itu merasa tidak enak pada Gala karena tingkah Amora yang kurang sopan. Amora sudah 16 tahun. Harusnya gadis itu bisa menjaga sikap lebih baik. Tidak kekanakan seperti tadi.


"Minta maaf sama mereka, Mor. Lo tadi gak sopan karena main peluk aja."


"Kak Gala, aku minta maaf."


"Hm," angguk Gala. "Gak masalah."


"Sama--" Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena lupa siapa nama gadis yang ada di samping Gala.


"Riri," sahut Gala terkekeh pelan. Tangannya langsung merangkul pundak Riri. "Udah gak papa, Yo. Ini acaranya langsung mulai apa gimana?"


Gala sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka karena tidak mau masalah tadi semakin runyam. Ia juga peka kalau Riri pasti cemburu dengan tingkah Amora tadi.


"Kalian masuk aja dulu, adek-adek panti gue yang lainnya udah nunggu di dalem. Tinggal nunggu pengurus panti sama Ibu panti gue yang masih siap-siap."


"Ya udah kalian masuk dulu gue mau nyebat bentar," suruh Gala pada semua anak Drax dan mereka langsung menuruti perintah dari Gala tanpa bantahan.


Gala mengalihkan tatapannya pada Riri. Meraup bibir manyun Riri dengan tangannya. "Manyun mulu, mau gue cium, hem?"


"Gak!" Jawab Riri ketus. Riri masih berdiri di hadapan Gala dengan tangan bersidekap dada. Sementara Gala, cowok itu sudah duduk di kursi yang ada di teras panti asuhan ini dan mulai menyalakan rokok yang ia ambil dari saku jaket.


"Sini duduk."


"Kursinya cuma ada satu! Masa Riri mau lesehan?!"


Gala berdecak. "Apa gunanya paha gue. Sini cepet!"


Gala menepuk satu pahanya. Mengisyaratkan agar Riri segera duduk di sana.


"Gak mau, Riri malu ih."


"Halah, sok-sokan malu. Kalo lagi berdua, ketek gue


aja lo endus-endus."


Riri menatap kepulan asap rokok di wajah Gala sambil menghentakkan kakinya kesal. "Riri gak suka bau rokok!" Gala terkekeh pelan. "Ya, lo kan sukanya bau ketek gue."


"Enggak!"


"Sini, Entar gue kasih permen lolipop."


Mendengar tawaran menarik dari Gala, kedua mata


Riri langsung berbinar. "Permen lolipop?" Tanya Riri sumringah.


Kapan lagi Gala memperbolehkan makan permen. Biasanya Riri harus makan permen sembunyi-sembunyi terlebih dahulu atau harus merengek agar Gala memperbolehkannya memakan permen. Itupun hanya diperbolehkan seminggu sekali.


"Duduk sini." Gala menarik Riri sampai gadis itu terduduk di satu pahanya dengan posisi menyamping.

__ADS_1


"Mana permennya?!"


Gala membuang dan mematikan sisa rokoknya dengan sepatu. Tangannya kemudian merogoh saku jaket untuk mengambil apa yang Riri minta. "Nih, dasar mata permenan," ejek Gala sambil meraup wajah Riri dengan tangannya karena terlalu gemas.


__ADS_2