CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
64.Tersenyum Lega


__ADS_3

"Lo yakin?" Cegah Alan saat Gala akan memasuki mobil. "Kepala lo tadi sempet berdarah, Gal. Biar gue temenin lo."


"Gak usah. Gue gak-sshhhh." Gala memegang bagian


belakang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Tuh kan, mending kita ikut lo aja, Bos.


Kalo ada apa-apa biar kita hadepin bareng-bareng."


"Gak usah, Ham. Gue sendiri aja," kekeh Gala.


Gala masuk ke dalam mobil. Menancap gas dengan tujuan lokasi yang sudah Riri kirimkan barusan. Meski kepalanya masih terasa sakit, bahkan semakin terasa sakit. Namun untuk Riri, Gala bisa menahannya.


Sekitar lima belas menit, Gala sampai di depan gang kecil yang membuatnya mau tak mau harus turun dari mobil karena jalannya tidak mungkin bisa dilalui oleh mobil.


Gala sempat bingung harus masuk ke gang yang mana. Sampai akhirnya dari ujung sana ia melihat seorang gadis berlari ke arahnya. Gala tersenyum lega menyadari bahwa


itu adalah Riri.


"Galaaa!!!" Teriak Riri. Secepat kilat gadis itu langsung menerjang Gala dengan pelukan erat. Seolah Riri merasa aman setelah melihat keberadaan Gala.


Gala membalas pelukan Riri tak kalah erat. Gala merasa


lega sekaligus tenang mengetahui keadaan Riri baik-baik saja. Gala tidak bisa membayangkan bagaimana kalutnya ia jika Riri sampai kenapa-kenapa. Mungkin Gala tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidup.




Menunduk, Gala menopang kan kepalanya di salah satu sisi pundak Riri. Cowok itu berbisik pelan. "Lo gak papa, hem?"


Riri menggeleng lalu kedua tangannya memeluk leher Gala. "Gak papa. Gala juga gak papa?"


Gala mengusap-usap belakang kepala Riri dengan


usapan lembut. "Gue akan selalu baik-baik aja selama


lo juga baik-baik aja."


Riri tersenyum senang. "Gala, Riri ditolong sama Tante Merry."


"Tante Mer-"


"Itu!" Riri melepaskan pelukan mereka dan menunjuk


ke belakang, di mana masih ada Merry yang sejak tadi menyaksikan mereka berdua.


"Makasih," ucap Gala menatap wanita bermasker


hitam yang berdiri beberapa langkah dari hadapannya.


Merry mendengus pelan. "Jagain adek kamu.


Biar lain kali gak ngerepotin orang."


"Ini pacar saya, bukan adek saya," koreksi Gala.


Gala merasa sedikit aneh saat menatap mata wanita itu.


Merry mengangguk. "Ya, apapun itu jagain dia yang bener. Untung ketemunya sama saya. Coba ketemu sama temen-temen saya yang lain. Dijual tuh pacar kamu."


Gala mengernyit tidak paham dengan ucapan Merry,


namun detik berikutnya Merry yang peka akan hal itu


langsung menampik rasa penasaran Gala.


"Udah, sana pulang. Jangan sampai anak ingusan kaya

__ADS_1


kalian menginjakkan kaki di tempat kotor kaya gini lagi."


"Makasih Tante Merry! Riri pulang dulu ya!


Riri bakal selalu ing*a***t sama-"


Merry memotong ucapan Riri dengan nada ketus.


"Gak perlu. Kamu gak perlu ingat dengan bantuan saya. Apapun itu, lupakan pertemuan kita hari ini. Saya bukan orang baik. Cepat pergi."


Mengetahui jika wanita paruh baya itu tak menyukai kehadirannya dan Riri, Gala merangkul bahu Riri untuk mengajaknya segera pergi.


"Ayo pulang!"


"Tap--"


"Hem, ayo, Riri!" Geram Gala.


Mau tak mau Riri menuruti ucapan Gala. Gadis itu hanya


diam saja saat Gala menariknya pergi. Namun baru beberapa langkah, Merry kembali bersuara yang membuat langkah Gala dan Riri terhenti.


"Tunggu!"


Gala dan Riri membalikkan badan mereka. Menghadap


ke arah Merry yang masih tampak diam di tempat semula. Seperti ingin mengutarakan sesuatu namun ragu.


"Hapus nomor saya di hape kamu. Jangan pernah


simpan dan ingat apapun tentang saya," ucapnya.


Gala mengangguk setuju. "Oke."


Saat Gala dan Riri hendak pergi. Lagi-lagi Merry kembali mengucapkan sesuatu.


Itu bisa menimbulkan infeksi yang serius."


*****


"Bego banget jadi cewek!" Toyor Gala.


"Mau-mauan aja dibawa cowok burik kaya mereka!"


Riri menggeser duduknya, menjauh dari Gala. Mengusap-usap kepalanya, Riri memprotes dengan bibir mencebik kesal. "Ih! Jangan ditoyor dong! Riri pinter tau! Bisa kabur!"


"Pinter apaan?! Lo kabur dari kandang singa


malah masuk kandang harimau!"


Mata Riri mengerjap beberapa kali. "Emang tadi itu kandang?" Tanya Riri tak paham dengan perumpamaan yang Gala jabarkan.


Gala memejamkan mata sejenak. Berbicara dengan Riri memang harus penuh dengan kesabaran. "Yang pasti tadi itu bukan tempat baik-baik dan orang yang nolong lo juga bukan orang baik-baik. Jangan sampai lo ke sana lagi."


"Kalo bukan orang baik-baik, kenapa Riri ditolong?"


"Serah lo! Gue-ssshhhh." Gala memegang belakang


kepalanya yang terasa sakit.


"Gala kenapa?" Tanya Riri panik melihat ekspresi Gala


yang sepertinya sedang menahan rasa sakit.


Saat mengetahui telapak tangannya terdapat bercak darah, Gala langsung berusaha menyembunyikan hal itu dari Riri.


"Ham!" Panggil Gala pada Ilham yang duduk tak jauh


dari mereka. Ilham, Alan dan Akbar yang baru saja selesai mengobati luka lebam di wajah dan badan mereka menoleh serempak ke arah Gala dan Riri.

__ADS_1


"Paan, Bos?!" Jawab Ilham sedikit berteriak.


"Hem, sini cepat!"


Ilham berlari kecil menghampiri Gala.


"Kenapa?" Tanya Ilham berdiri di hadapan Gala dan Riri.


"Temenin cewek gue. Jangan lo apa-apain! Gue mau keluar bentar."


"Emangnya lo mau ke--"


"Bacot!"


Setelah menyemprot Ilham dengan perkataan kasar,


Gala berdiri. Cowok itu segera memakai jaket dan helmnya. Membuat Riri kebingungan sendiri.


"Gala mau ke--" Bibir Riri mengatup rapat begitu


Gala melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Bocil gak usah banyak nanya!"


Menyadari ketakutan di wajah Riri, Gala menghela napas pelan. Tangan cowok itu terulur untuk mengusap-usap puncak kepala Riri.


"Di sini aja. Gue ada urusan bentar. entar gue beliin lo es krim."


"Berapa?"


"Dua."


Senyum Riri mengembang lebar mendengar jumlah


es krim yang Gala sebutkan. "Oke," angguk Riri semangat.


Tatapan lembut Gala seketika kembali datar saat menatap


ke arah Ilham. "Jagain cewek gue. Awas lo ajarin yang enggak-enggak!" Peringat Gala.


Ilham mengangguk. "Iye, Bos. Gak bakal gue ajarin


yang enggak-enggak. Gue ajarin yang iya-iy-auhhhh!"


"Gue gak becanda!" Bentak Gala setelah memberi


Ilham pukulan kecil di bagian punggungnya.


"IYA BOS GUE YANG BERCANDA HEHE."


Selepas kepergian Gala dari markas Drax,


Ilham duduk di kursi yang tadi Gala tempati.


"Ilham kenapa senyum-senyum?" Tanya Riri keheranan.


"Gue punya video tik-tok bagus, mau liat gak?" Tawar Ilham. Ilham menggerakkan kedua alisnya, berusaha menggoda Riri agar gadis itu tertarik dengan tawarannya.


Riri menggeleng, menolak. "Gak deh, nanti Gala marah."


"Ya elah, Riri. Gak ada Gala. Nih liat bagus, kan?"


Ilham menyodorkan ponselnya ke hadapan Riri.


Membuat gadis itu mau tak mau akhirnya melihat video yang Ilham putar di ponsel. Beberapa detik kemudian Riri cecikikan kegirangan.


"Om! Om! Culik aku dong!" Nyari Riri menirukan lagu di video yang Ilham putar.


Ilham mengangguk puas. "Nah, bagus, Riri. entar nyanyiin lagu itu di depan Gala, ya. Dia tuh suka banget sama lagu ini. Cuma gengsi aja buat ngaku."

__ADS_1


__ADS_2