
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
Gala mendengus kasar. Cowok itu langsung membawa Riri ke dalam pelukannya karena tidak tega melihat Riri menangis. Sepertinya, gadis itu benar-benar takut padanya.
Gala tidak suka Riri menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan seperti itu. Gala lebih suka Riri menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang seperti biasanya.
Tangan Gala bergerak mengusap kepala hingga punggung kecil Riri dengan gerakan teratur. Gala berusaha menenangkan Riri yang kini sedang sesenggukan dalam pelukannya.
"Gue marah ke lo karena lo gak jujur. Tapi gue lebih marah ke Rafa karena gue gak suka ada cowok lain yang seolah rela berkorban demi lo."
"T-tapikan sekarang R-Riri udah jujur," balas Riri setelah sesenggukan nya sedikit berkurang karena usapan Gala berhasil membuatnya lebih tenang.
"Lo jujur karena ketahuan. Bukan jujur karena pengen jujur."
Riri mendongak. Menatap Gala dengan mata berkaca-kaca
dan bibir melengkung ke bawah.
"Shitt!" umpat Gala dalam hati.
Jika tidak sedang marah, sudah dipastikan Gala akan menciumi wajah Riri karena tidak kuat menahan rasa gemas. Sayangnya kali ini Gala harus jual mahal agar Riri menyesali kebohongannya.
"Maaf, Riri bohong karena takut Gala marah," aku Riri
sembari mempererat pegangan tangannya di kedua sisi baju
Gala.
Lagi-lagi Gala menghembuskan napas kasar sambil menunduk menatap Riri yang terlihat begitu mungil dalam dekapannya.
"Terus lo pikir kalo lo bohong, gue gak bakal marah?"
Riri diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Intinya tadi Riri memilih berbohong karena tidak mau menambah masalah. Sayangnya sekarang pilihannya itu justru menambah masalah baru. Semua tidak sesuai dengan prediksinya.
Gala melepaskan pelukannya karena merasa tangis Riri sudah mereda. Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil sambil memejamkan mata sejenak. Sumpah demi apapun, perasaan Gala selalu tidak enak jika melihat Riri berdekatan dengan Rafa. Selain cemburu, Gala juga mempunyai firasat buruk pada Rafa. Entah apa sebabnya, yang jelas Gala tidak mau terjadi apa-apa pada Riri nantinya. Gala tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk pada Riri.
Namun untuk sekarang, Gala tidak bisa melakukan banyak hal selain memberi Riri banyak larangan untuk tidak terlalu dekat atau berhubungan terlalu jauh dengan Rafa. Mereka satu jurusan, bahkan mungkin nanti bisa satu kelas, hal itu membuat Gala tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan tetap waspada.
"Maaf Gala," cicit Riri meremas ujung bajunya sendiri.
Riri menatap Gala penuh ketakutan. Riri sadar kali ini dirinya yang salah. Maka dari itu ia harus meminta maaf sampai Gala mau memaafkan dirinya. Riri tidak mau hubungannya dengan Gala kembali merenggang seperti masalah kemarin-kemarin. Masalah mereka sekarang harus cepat selesai.
Tangan gadis itu berusaha menggapai tangan Gala yang terlipat di belakang kepala cowok itu. Namun usaha Riri untuk menggapainya gagal karena Gala justru semakin menjauhkan tangannya.
__ADS_1
Melihat penolakan yang Gala berikan secara terang-terangan, tangis Riri kembali pecah. Entahlah, bagi Riri menangis memang menjadi jalan satu-satunya saat ia sudah tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa kali Riri mengatakan bahwa dirinya ingin belajar menjadi gadis yang lebih dewasa. Namun nyatanya hal itu tidak berlaku jika ia ada di hadapan Gala. Di depan Gala, Riri tetap menjadi Riri yang cengeng. Riri yang selalu menyelesaikan segala permasalahannya dengan menangis.
Ssshhh arrrggghhh!" Gala menjambak rambutnya sendiri. Membuat kepala Riri yang tadinya tertunduk kini terangkat. Tangisannya juga mendadak berhenti karena takut.
Setelah meyakinkan dirinya berkali-kali, Riri mencoba menatap Gala dengan perasaan bersalah yang menumpuk.
"Riri salah. Riri minta maaf. Riri harus apa biar Gala gak marah-marah lagi hiks... Riri takut. Gala jangan kaya gini."
Riri sibuk mengusap air matanya karena mengira Gala semakin marah gara-gara mendengar tangisannya yang tak kunjung reda.
"Maaf Gala, maaf..."
Detik berikutnya setelah Riri kembali menggumamkan kata maaf dengan suara bergetar ketakutan, Gala menoleh ke Riri dengan pandangan tak terbaca.
"Gue gak rela, Ri. Gue gak rela!"
Riri yang tidak tahu maksud dari ucapan Gala hanya diam saat tiba-tiba cowok itu memeluknya erat lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Riri.
"Gue gak rela! Gue gak rela kalo ada cowok lain yang berkorban demi lo!" aku Gala lebih terdengar seperti sebuah rengekan.
"Gue gak suka!" tambahnya semakin menenggelamkan
dirinya dalam pelukan sepihak nya.
Gala mengangkat kepala dan menatap Riri dengan tatapan protes. Tidak memedulikan wajah sembab Riri yang sedari tadi menatapnya penuh rasa takut. "Peluk gue! Jangan diem doang!"
"CK! CEPAT PELUK GUE!" teriak Gala. Bukannya terdengar seperti bentakan, teriakan Gala barusan justru lebih terdengar seperti sebuah rengekan.
"Usap-usap!" Gala mengarahkan tangan Riri untuk mengusap e belakang kepalanya.
Sekitar sepuluh menit mereka bertahan dalam keadaan itu dengan Riri yang hanya pasrah dan mengikuti semua permintaan Gala, kini Gala menjauhkan dirinya. Menyudahi pelukan mereka.
"Gue masih marah sama lo!" ujar Gala dengan wajah cemberut. Wajah yang bahkan tidak pernah Gala tampakkan di depan orang lain selain Riri. "Tapi gue gak mau kita berantem. Soalnya nanti..."
Gala menjeda ucapannya lalu membenarkan posisi duduknya. Cowok itu sibuk menatap ke arah lain. "Gue gak bisa meluk lo kalo kita berantem," lanjutnya.
Senyum lebar kini menghiasi wajah sembab Riri mendengar
pengakuan Gala barusan. Riri lega, ternyata Gala tidak
semarah yang ia bayangkan. Riri memberanikan diri untuk meraih dan memeluk lengan Gala lalu menyandarkan kepalanya di pundak kekar cowok
itu. "Riri minta maaf."
Gala tetap diam.
"Dari tadi Gala gak jawab permintaan maaf Riri. Gala gak mau maafin Riri, ya?"
"Riri sayang sama Gala tauuu! Riri bohong bukan bermaksud ngelindungin Rafa atau seneng karena Rafa udah berkorban buat Riri. Riri bohong justru karena Riri gak mau kita berantem. Nanti Riri juga gak bisa peluk Gala banyak-banyak kaya sekarang."
__ADS_1
Sementara Gala, cowok itu semakin mengalihkan tatapannya ke arah lain sembari menahan kedutan di kedua sudut bibirnya yang memaksa untuk tertarik ke atas.
"Gala maafin Riri kan? Kita gak jadi berantem kan?" tanya Riri beruntut. Riri semakin cemberut karena Gala tidak kunjung membalas ocehannya. "Kalo Gala diem terus, nanti Riri gigit nih!"
"Gigit cepat." Gala menoleh cepat dan semakin menyodorkan lengannya ke depan bibir Riri.
"Auhhh! Anjrit!" pekik Gala kaget saat Riri benar-benar
mengigit lengannya. "Kok digigit beneran sih?!"
"Katanya suruh gigit? Gimana sih?" balas Riri tanpa rasa bersalah.
"Cih! Ntar kempes tangan gue. Jangan digigitin." Gala mengusap-usap bekas gigitan Riri lalu menatap Riri dengan senyuman jahil. "Mending lo gigit ini daripada gigit tangan gue. Mau gak?" tunjuk Gala ke bibir bawahnya.*
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Pesan buat Author nya juga boleh:
__ADS_1
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.