
Akbar tertawa keras. "Anjrit serius lo Ham? Ada daster ibuk-ibuk di lemari Alan?"
"Sumpah! Kali ini gue gak boong, Bar. Liat aja kalo gak percaya."
Alan mengusap wajahnya kasar. Ia lupa kemarin. Bibi di rumahnya memang salah meletakkan daster itu di lemari pakaiannya. Padahal daster itu milik mama Alan. Alan belum sempat mengembalikan ke mamanya karena ia juga lupa.
"Wah Alan, gak nyangka gue," geleng Akbar sok serius.
"Btw kalo malem mangkal di mana, Lan?" Tanya Akbar kembali tertawa kencang.
"Hem, itu punya nyokap gue. Bibi gue salah tarok."
"Masa sih?" Goda Ilham pura-pura tidak percaya.
"Serah lo!" Decak Alan kesal lalu masuk ke dalam rumah.
"Hahahaha ngambek!" Tawa Akbar menggelegar.
Ilham memegangi perutnya yang kram karena kebanyakan tertawa. "Siang jadi tembok, malem jadi Mbok-Mbok! Hahahahaha!!!"
Sementara itu, di lain tempat, Gala sedang mengemudikan mobilnya sambil mengangkat telfon dari Riri.
"Riri capek tau nunggu Gala!"
"Iya-iya, ini gue lagi di jalan. Kan gue udah minta maaf.
Gue gak sengaja ketiduran, Cil."
"Gala lama banget! Nanti make up Riri luntur! Riri jadi
tanda-tanda!"
"Lo pake make up?" Nada suara Gala yang tadinya lembut
dan manis kini berubah menjadi lebih datar dan tajam. Seolah sedang mengintimidasi Riri dengan pertanyaannya.
"Dikit kok, biar nanti pas mau foto-foto sama Nen Nen
sama Choli, Riri keliatan cantik." "hapus! Apa-apaan sih, makai-makai make-up segala!"
Omel Gala. "Mau mangkal lo?"
"Boccil paling laku!"
"I! Gal-"
"Cepat hapus! Atau gue yang bakal hapus entar?!"
Ancam Gala tidak main-main.
"Iya-iya! Riri **h**apus! Nyebelin banget!"
Gala tersenyum tipis. "Good. Lo tuh bocil, gak usah
aneh-aneh. Lagian lo kalo make up jadi jelek. Gue gak suka."
Bohong. Sebenarnya, Gala hanya tidak mau orang
lain melihat kecantikan Riri yang lebih dari biasanya.
"Emang iya?"
"Iya, makanya jangan make up. Lo gak mau gue
sama cewek lain kan?"
"Thhh**hhh! Jangan donngggg!!!"
__ADS_1
Gala langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara ocehan Riri di seberang sana terdengar sangat cempreng
dan berpotensi bisa merusak gendang telinganya.
"Makanya, nurut. Cepat hapus! Pokonya gue nyampe, wajah
Lo gak boleh ada sisa make up sedikitpun!" Tuntut Gala tidak mau dibantah.
"Iya! Riri matiin telfonnya ya?"
"Jangan!" Cegah Gala cepat.
"Entah, kok jangan sih?!"
"Bilang dulu kalo lo sayang sama gue pake suara manja,"
pinta Gala.
"Gimana, ih?! Riri gak tau!"
"Hem, kalo ngomong tuh jangan ngegas. Yang lembut napa. Cepat bilang!" Paksa Gala.
"Riri sayaaaaaaaaanggggggg bangetttttt sama Galaaaaaaa. Sayang banyak banyak banyak banyak pake emot sekebon. Muahhh!!!"
Gala menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar-debar.
"Gala?"
"Gala kok diem?"
"Gala masih hidup kan?"
"Galaaa?"
"Hem? Gue matiin dulu. Gue lagi nyetir."
Tut. Gala mematikan sambungan telfon mereka
secara sepihak.
Cowok itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangan ambil menahan senyum. Telinga hingga pipinya pun memerah karena salah tingkah. "****! Gue baper sama bocil!"
Di sepanjang perjalanan ke rumah Riri, Gala masih terngiang-ngiang ucapan Riri tadi. Hal itu membuatnya senyum-senyum sendiri, mirip seperti
orang gila. "Loh?" Gala terkejut saat mobilnya
mendadak memelan dan berhenti.
"Bang**, pake mogok segala!" Umpatnya.
Dengan terpaksa Gala turun dari mobil untuk mengecek keadaan mobilnya. Namun saat turun dari mobil, mata Gala tidak sengaja melihat ke arah seberang jalan. Di seberang jalan sana, gadis yang sepertinya ia kenal, sedang berdiri sambil menangis.
"Amora?"
"Mau kemana lo?"
Riri mendongak. Menatap Dewa yang baru saja
pulang entah dari mana.
"Pacaran dong! Emang Bang Dewa, jomblo. Gak bisa
keluar bareng pacar. Huh!" "Belagu lo bocil." Dewa mendudukkan dirinya di kursi sebelah Riri. Sebenarnya,
Dewa ingin menunjukkan sesuatu pada Riri. Tapi Dewa masih.
tampak ragu untuk melakukannya.
__ADS_1
"Gue tanya beneran, lo mau ke mana? Udah ijin ke Mama?"
"Udah ih! Riri mau keluar sama Gala. Bang Dewa gak boleh larang-larang. Riri sama Gala udah selesai ujian!"
"Yakin mau keluar sama Gala?"
Riri menatap Dewa kesal. "Yakin dong! Bang Dewa kenapa sih?"
Dewa menyodorkan ponselnya ke hadapan Riri. Mungkin
lebih baik Riri memang harus tahu secepatnya. "Liat kelakuan cowok lo."
Mata Riri melotot melihat foto yang Dewa tunjukkan.
Untuk beberapa saat, gadis itu masih terdiam dalam keterkejutannya.
Riri masih tidak percaya jika yang ada di dalam foto itu
adalah Gala. Gala, cowoknya yang bucin itu tidak mungkin mengkhianati dirinya bukan? Ya, Riri sangat percaya, jika Gala tidak mungkin sejahat itu.
"Gak tau siapa yang ngirim foto itu ke gue. Gue dapet dari nomor baru." Dewa menatap Riri lekat. "Jangan terlalu percaya juga karena bisa aja itu cuma akal-akalan dari orang yang gak suka liat lo sama Gala."
Dewa menghembuskan napasnya. Dewa memang tidak suka dengan Gala, namun bukan berarti ini menjadi kesempatannya untuk menjelekkan Gala di depan Riri. Biar bagaimanapun, Dewa percaya jika selama ini Gala sangat-sangat menyayangi Riri dan tidak mungkin Gala tega melakukan hal serendah itu. Mengkhianati Riri.
"Kita tunggu aja, Gala bakal dateng atau gak malem ini.
Kalo foto itu bener, gue rasa Gala gak mungkin dateng ke
sini karena kejadian di foto itu terjadi barusan."
Mata Riri tampak berkaca-kaca. "Gala gak bales chat Riri lagi."
"Terakhir dia bilang apa sama lo?"
"Telfon, nyuruh Riri nunggu. Gala masih di jalan katanya."
"Ya udah, tunggu dulu."
Riri mengusap air matanya yang perlahan jatuh. Mau sekuat apapun Riri menahan untuk tidak menangis. Nyatanya dirinya memang secengeng itu untuk urusan Gala.
"Gak usah nangis."
"Kalo Gala beneran pelukan sama cewek lain.
Berarti Gala gak sayang lagi sama Riri hiks..."
Riri mulai menangis. Membuat Dewa menyesal telah memberitahu hal itu pada Riri sebelum tahu pasti kejadiannya. Ia lupa, kalau adiknya ini memang sangat cengeng.
"Kenapa?"
Dewa menoleh ke Danis yang menampakkan
wajah kaget melihat Riri menangis sesenggukan.
"Dari tadi Gala belom ke sini?" Tanya Danis heran.
Ia pikir Riri sudah dijemput oleh Gala sedari tadi.
"Bukannya tadi lo keluar juga?" Kali ini Dewa yang bertanya pada Danis. "Kok tiba-tiba udah di rumah. aja lo?"
Danis berdecak. "Gue cuma keluar beliin Mama Vina
nasi goreng di depan. Gue kira setelah gue pulang tadi
Riri langsung dijemput Gala. Soalnya dari tadi Riri udah
duduk di sini nungguin Gala."
__ADS_1
"Oh," angguk Dewa paham.