
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
.
Selamat membaca!
.
....
Karena penasaran, Gala melihat dan membaca chat mereka dengan seksama. Sampai akhirnya emosi Gala kembali meluap ketika membaca salah satu pesan dari Riri untuk Rafa.
Riri
Rafa, kalo Rafa suka dan punya perasaan lebih ke Riri, Rafa jujur aja yaa. Jangan dipendam.
Gala tertawa tidak percaya. Bukan. Itu pasti bukan Riri.
Riri tidak mungkin seperti itu, kan?
Ya, tidak mungkin.
"Ngarang lo!" Gala menatap Rafa remeh. "Itu pasti bukan cewek gue yang ngi--"
Bugh!
Bugh!
"Kak Raf--"
"Lo gak usah ikut campur," peringat Rafa kemudian beralih menatap Gala yang hampir terhuyung karena serangan tiba-tiba yang ia berikan.
"Satu sama," ucap Rafa setelah puas membalas pukulan Gala di tempat yang sama. Rahang kiri dan rahang kanan.
Memegangi wajahnya yang terasa panas, Gala berusaha menyembunyikan rasa kecewanya pada Riri jika benar pesan itu Riri sendiri yang mengirimkan pada Rafa.
"Gue gak suka keributan. Tapi kalo lo nantangin. Ya gue jabanin," tawa Rafa pelan kemudian masuk ke dalam panti.
"Kak, biar aku obatin." Amora berusaha menyentuh luka di
wajah Gala selepas kepergian Rafa.
Lagi, lagi dan lagi Gala menghempaskan tangan Amora dari wajahnya dengan tatapan jijik. "Gak perlu. Gue punya cewek yang bisa ngobatin luka gue."
"Gue gak butuh bantuan lo," tambahnya seraya berbalik badan pergi.
"Kak Gala yakin cewek Kak Gala itu peduli sama Kak Gala? Buktinya dia juga masih caper ke Kak Rafa. Sadar Kak, Kak Riri gak sepolos itu!" teriak Amora membuat Gala yang sudah melangkah lima langkah dari hadapan Amora memilih untuk berhenti dan berbalik badan. Kembali menghadap Amora.
"Kalo Kak Gala nganggep aku cewek gak bener, cewek gatel
yang suka ngejar cowok, terus apa bedanya sama Kak Riri?
Dia juga gatel ke Kak Raf--"
"SHUT UP!" potong Gala menatap Amora penuh amarah. Gala tidak suka Riri-nya direndahkan seperti itu.
Melihat Amora ketakutan di tempatnya, Gala justru sengaja berjalan mendekati gadis itu. Lalu berbisik lirih tepat di telinga Amora. "Gue gak butuh pendapat lo! Gak ada yang boleh ngatain cewek gue. Terutama lo. Sekali lagi gue denger lo jelekin cewek gue, habis lo!"
"Rafa bangsat!"
"Auh!"
"Anji*g sakit!"
Gala melempar asal handuk kecil yang tadinya ia gunakan untuk mengompres lukanya. Lantas menyandarkan punggungnya di sofa.
__ADS_1
"Udah lama gak tawuran, sekalinya kena pukul sakit banget bangsat," keluhnya.
Dengan mata terpejam, Gala memikirkan berbagai kemungkinan yang ada di dalam kepalanya. Apa benar Riri sendiri yang mengirim pesan itu pada Rafa? Apa mungkin mereka tengah diadu domba? Atau....
"ARRRGGHH!"
Gala mengacak rambutnya frustasi. Penampilannya yang acak-acakan, semakin berantakan karena ulahnya barusan. Gala bingung harus melakukan apa dan bagaimana sekarang. Ia takut salah bertindak seperti kejadian yang sudah-sudah. Maka dari itu untuk masalah kali ini Gala tidak mau tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Gala ingin mencari tahu dulu yang sebenarnya.....
"Kenapa?"
Membuka mata, Gala menemukan Agam sudah duduk di sofa sebelahnya. Tidak heran, sepupunya itu memang suka muncul tiba-tiba seperti titisan setan.
"Ada masalah? Cewek lo?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang Agam lontarkan, setelah membenarkan posisi duduknya, Gala justru bertanya balik. "Kenapa ke sini? Mau nambahin kerjaan lagi?"
Agam menatap Gala datar. "Emang lo berharap apa dari kedatangan gue ke sini selain bahas soal pekerjaan?"
Gala menghembuskan napasnya kasar. Agam selalu
menyebalkan. "Surat itu. Gue belom berani baca."
"Gue tau."
Alis Gala terangkat sebelah. Sepupunya ini lama-lama seperti cenayang. Tahu segala hal tanpa ia beri tahu.
"Gak usah bingung. Gue tau gimana lo. Jadi gue juga udah
feeling kalo lo pasti belum berani baca isi surat itu."
"Ntar gue baca."
"Lebih cepat lebih baik."
Agam menggeleng. "Belum ada. Tapi--"
Mendengar Agam yang sepertinya sengaja menggantungkan kalimatnya, Gala berdecak sebal.
"Tapi apa? Emosi gue sama lo. Kalo ngomong selalu
setengah-setengah. Pantes jomblo mulu."
Agam berusaha sabar dengan hinaan Gala. Sudah biasa, Gala memang melekat dengan omongan pedasnya. "Lo inget waktu gue bilang kalo gue tau di rumah sakit mana nyokap lo ngelahirin lo?"
"Ingat, kenapa?"
"Orang kepercayaan gue nemuin dua data ibu melahirkan atas nama Namira Anzani di rumah sakit itu, atas nama nyokap lo. Itu artinya nyokap lo pernah melahirkan dua kali."
"Maksudnya selain ngelahirin gue, nyokap gue juga pernah
ngelahirin anak lain gitu?" Agam mengangguk. "Satu tahun setelah melahirkan lo.
Nyokap lo melahirkan anak lagi di rumah sakit yang sama.
Anak perempuan."
"Jadi gue punya saudara?"
"Maybe. Tapi ayah kalian beda. Karena waktu itu posisinya nyokap lo udah ninggalin lo dan almarhum bokap lo." Agam menghela napas. "Cuma itu yang gue tau. Soal siapa dan di mana anak itu sekarang, gue juga belum tau."
Gala memejamkan mata sejenak. Jantungnya berdebar kian cepat. Entahlah, kenapa hidupnya serumit ini. Fakta baru apa lagi ini Tuhan?
Agam berdiri dari duduknya. "File yang gue kirim ke email lo
tadi harus selesai besok siang."
__ADS_1
"Ya," jawab Gala malas. Agam memang selalu seperti itu.
Hobi memberinya deadline mendadak.
"Kenapa lagi?" tanya Gala melihat langkah Agam terhenti
dan kembali berbalik badan menatap Gala.
"Gak semua masalah bisa selesai pakai kekerasan. Rafa, panti asuhan kasih bunda, tiga jam yang lalu. Gue tau semua."
"Dukun, lo?"
"Mandi. Penampilan lo sekarang lebih kaya gembel daripada anak tunggal kaya raya," balas Agam langsung pergi.
"Cek! Jangan-jangan tuh jomblo karatan mata-matain gue lagi. Makanya tahu semua."
Gala mengusap wajahnya kasar. Daripada pusing memikirkan banyak masalah, lebih baik ia segera mandi untuk mendinginkan kepalanya yang terasa begitu panas.
"****! Kolor Spongebob gue kan udah dibakar Riri," celetuk Gala saat beranjak ke kamarnya untuk mencari kolor Spongebob lalu ingat jika kolor kesayangannya itu sudah hangus menjadi abu karena dibakar oleh Riri beberapa waktu yang lalu.
Mendudukkan diri di tepi tempat tidur, tangan Gala berusaha
menggapai ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. "Gak masalah, gue bisa beli kolor Spongebob yang lebih cute
lagi, selusin," ujarnya sambil tersenyum bahagia.
....
.
Bersambung
.
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Akbar?
Pesan buat Alan?
Pesan buat Dewa?
Pesan buat Danis?
Pesan buat Amora?
Pesan buat Nenda?
Pesan buat Choline?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1