CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
48. Gala Keluar Kelas Lebih Awal


__ADS_3

Pernah suatu malam, Gala hampir menjalankan rencana gilanya untuk menculik kucing milik Dewa -Kolor Ijo. Namun rencana itu gagal berkat nasihat dari Alan. Waktu itu Alan memberitahu, jika Gala benar-benar akan melakukan hal itu, maka bukan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru. Lebih parahnya lagi, bisa saja hal itu membuat Gala akan semakin sulit untuk bertemu dengan Riri. Akhirnya Gala mencoba berpikir lebih waras dan membatalkan rencana gilanya malam itu.


"Buset, lo udah selesai, Bos?" Tanya Ilham kaget. Pasalnya waktu untuk mengerjakan soal ujian masih tersisa cukup lama, tapi Gala terlihat sudah selesai mengerjakan soal ujiannya.


"Hem," angguk Gala pelan. "Biar gue bisa cepet-cepet ke kelas Riri."


Ilham menggeleng kagum. "Kekuatan bucin emang luar biasa."


"Bucin nya udah mendarah daging. Nembus dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar sampe an-"


"Berisik banget."


Ilham mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil mengelus dadanya dramatis. Ilham memaklumi, akhir-akhir ini, Gala memang lebih sensitif dan lebih mudah tersulut emosi. Jadi Ilham dan yang lainnya, harus banyak-banyak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi sikap Gala.


"Sabar, Ham. Orang sabar jodohnya Nenda," gumam Ilham sembari menghela napas pelan.


Sementara itu, Gala langsung maju ke depan untuk mengkonfirmasikan kepada pengawas ujian bahwa dirinya sudah selesai mengerjakan soal ujian.


Setelah mendapat izin dari pengawas ujian untuk keluar dari ruang kelas, seperti biasa, dengan semangat empat lima Gala berjalan menyusuri koridor menuju ke kelas Riri.


"Gue beliin susu sama roti coklat dulu deh. Biar bocil gue seneng."


Gala berputar arah menuju kantin. Sepanjang perjalanan menuju kantin, senyum sumringah pun tak lupa Gala tampakkan. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluk Riri.


Hal itu membuat beberapa siswa dan siswi yang tidak sengaja melihat senyum Gala, merasa aneh. Tumben sekali leader Drax yang mereka kenal dengan sikap galak dan juteknya itu kini wajahnya tampak begitu ramah dan hangat. Bukan seperti Gala yang biasanya mereka lihat.


"Itu Gala? Ngapain anjir senyum-senyum mulu."


"Gue liatin dari ujung sana sampe sini, emang senyum terus. Ketempelan apa ya?"


"Ditempelin setan humoris kali."


"Apaan lo liat-liat?!"


Ketiga siswi itu segera menundukkan kepala saat Gala menatap galak ke arah mereka. Lagi pula, siapa yang mau berurusan dengan Gala. Si leader Drax yang hobi baku hantam.


"M-maaf kita-"


"Hem, untung lo cewek!" Decak Gala merasa risih. Karena sedari tadi ia sadar, orang-orang terus menatapnya dengan tatapan...aneh?


Menghela napas kasar. Gala memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya lalu kembali berjalan sesuai dengan tujuan awal. Ke kantin.

__ADS_1


Setelah mendapat apa yang ia cari, roti coklat dan susu kotak rasa stroberi, tujuan Gala sekarang adalah kelas Riri. Tepat sekali, saat Gala sampai di depan kelas Riri, terlihat ada beberapa teman satu kelas Riri yang sudah berhamburan keluar kelas.


Ada satu orang yang menarik perhatian Gala. Rafa. Begitu keluar kelas, cowok itu langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Gala. Membuat Gala jadi kesal sendiri.


"Apa lo liat-liat?!"


"Punya mata," jawab Rafa sambil berlalu.


"Hem! Sok cakep! Cakepan juga si Joko!" Gerutu Gala menatap kepergian Rafa.


"Kemana sih nih bocil?! Temen-temennya udah pada


keluar, dia malah bertelur di dalem!"


"Lin, cewek gue mana?"


Choline menatap Gala terkejut. "Oh, Riri di dalem, Gal, sama Nenda."


"Tuh bocil jamet udah selesai ujian kan?"


"Udah, tapi dia masih ngobrol sama Nenda."


"Oke, thanks."


Gala: P


Gala: Jamet!


Gala: Cepet keluar! Gue capek nungguin lo!


Sri Jamet: Ini siapa?


Gala: Anjir, ngartis banget lo. Cepet keluar apa gue obrak-abrik kelas lo?!


Sri Jamet: Riri salah apa ya?


"Eh, Nen, bocil gue mana?"


"Di kelas, Gal. Dia lagi ditagih uang kas sama bendahara," jawab Nenda.


"Emang dia nunggak berapa?"

__ADS_1


"Setahun."


"Setahun?" Tanya Gala shock. Bocilnya itu memang benar-benar kelewatan. Bisa-bisanya nunggak uang kas sampai satu tahun. Gala meskipun sikapnya bandel dan urak-urakan, tapi kalau masalah uang kas selalu rajin membayar dan tidak pernah sampai nunggak.


"Iya hampir setahun, dari awal kelas dua belas, sampai sekarang mau lulus, Riri gak pernah mau bayar uang kas," jelas Nenda. "Gue duluan ya Gal, soalnya udah dijemput."


"Gak bareng Ilham lagi, Nen?" Tanya Gala.


Nenda mendadak gugup. "E-enggak kok. Gue duluan."


"Woi!" Gala menarik tas bagian belakang Riri saat gadis itu hendak melewatinya begitu saja. "Ck! Belagu amat muka lo! Gue nungguin lo, lo malah main nyelonong gitu aja!" Semprot Gala.


Riri berhenti. Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali karena kesal. "Ih! Gala kenapa nyapa Riri sih?! Riri itu mau pura-pura gak liat Gala loh!"


"Oh lo mau pura-pura gak liat gue? Siapa yang nyuruh lo kaya gitu? Si Dewa burik itu? Iya?" Belum sempat menjawab pertanyaan Gala, tiba-tiba ada satu cewek yang muncul dari dalam kelas dan berjalan menghampiri Riri.


"Ri, jadi kapan mau bayar uang kas?" Tagih Risa temen satu kelas Riri yang menjadi bendahara.


Riri menatap Risa kesal. "Ih! Kan tadi Riri bilang besok! Risa budek ya telinganya?"


Risa menghela napas sabar. "Lo kalo gak gue ingetin, suka lupa, terus banyak alesan."


"Namanya juga lupa," dengus Riri. "Jangan salahin


Riri dong! Salahin aja, kenapa di dunia ini ada lupa."


"Berapa total yang harus Riri bayar?"


Risa menoleh ke arah Gala. "Empat ratus delapan puluh ribu."


"Gue bayar. Nih isi nomor rekening lo. Gue gak ada uang cash."


Tanpa ragu Risa mengambil ponsel yang Gala ulurkan lalu mengetikkan nomor rekening pribadinya. Setelah selesai, Risa mengembalikan ponselnya ke Gala. "Nih, lunas ya." Gala menunjukkan bukti transfernya pada Risa.


Risa tersenyum lebar. "Nah gini kan enak, gue gak perlu capek-capek nagih. Makasih ya, Gal."


Gala mengangguk. "Kalo ada keperluan yang harus Riri bayar lagi, langsung kabari gue aja. Dia bocil mana ngerti gituan. Ngerti nya cuma nangis doang."


"Oke. Makasih Riri! Makasih Gala!" Seru Risa sebelum melenggang pergi.


"Ih! Kenapa Gala bilang Riri bocil?! Riri bukan boci"

__ADS_1


"Sssttt, bocil dilarang banyak protes." Gala meletakkan satu jari telunjuknya di atas bibir Riri yang manyun karena kesal. "Urusan kita yang tadi belom selesai. Jadi, tadi lo sengaja pura-pura gak liat gue, hem?"


__ADS_2