
FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?
Vote Dan Komen lebih banyak dari
Chapter sebelumnya, baru update yađź’–
Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.
.
.
******
Riri merasa terharu dengan ucapan Vina. Ia pikir, tadi Vina akan marah saat Riri salah sebut. Tapi ternyata dugaan Riri salah. vina justru tidak marah sama sekali. Sekarang wanita itu malah meminta Riri untuk menganggap dirinya sebagai Desi, bunda Riri.
Riri bersyukur. Sangat bersyukur, setelah Tuhan mengambil bundanya. Tuhan memberinya pengganti dengan keluarga baru yang juga sangat menyayanginya tanpa syarat.
Ya, tepat satu bulan setelah Desi meninggal. Riri berhasil menemukan ayah kandungnya yang selama ini ia cari dan belum pernah ia temui seumur hidup. Meski saat itu kondisi ayahnya tidak sendiri. Melainkan sudah mempunyai istri dan dua anak yang lebih tua dari Riri. Riri tetap merasa tidak pernah diasingkan berada dalam keluarga ini. Justru Riri selalu merasa diperlakukan bak tuan puteri.
"Mama, bolehkah Riri bertanya?"
Vina mengangguk. "Oke sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan, hem?"
"Riri masih bingung kenapa dulu papa bisa sama bunda sampe punya anak Riri. Padahal sebelumnya papa udah sama mama dan punya anak bang Dewa sama bang Danis."
Sudah dari lama Riri ingin menanyakan hal ini. Tapi belum menemukan waktu yang tepat. Hingga malam ini ia memberanikan diri. Meski dirinya itu tergolong gadis polos yang kadang berotak lemot. Namun untuk hal-hal seperti ini, Riri masih bisa mencernanya dengan baik.
Vina sedikit terkejut dengan pertanyaan Riri ini. Rasanya ingin sekali Vina menceritakan semua pada Riri. Namun menurut Vina, lebih baik Eza, suaminya itulah yang lebih pantas menceritakan semua ke Riri.
"Sayang." Vina mengusap rambut Riri dengan penuh kasih sayang. "Maaf, mama gak bisa ceritain. Nanti biar papa aja ya, yang ceritain ke Riri. Gak papa kan?"
"Kenapa gitu, ma?" Riri merasa sedikit kecewa dengan jawaban Vina.
Vina tersenyum lembut. "Nanti papa aja yang bakal jelasin ya, cantik."
"Mengetuk..."
"RI! JOKO PINGSAN!!!"
Mendengar teriakan Dewa, Riri dan Vina berjingkrak kaget.
"Hah? Kok bisa?" Balas Riri berteriak.
"Cepet, RI! Cepet! BIAR LO BISA NGELIHAT JOKO DI DETIK-DETIK TERAKHIRNYA!!" Teriak Dewa semakin histeris.
"Joko hiks..."
Riri menangis tersedu-sedu melihat ikan koi kesayangannya hampir tewas kalau saja Dewa tidak menyelamatkannya.
__ADS_1
"Udah, Ri. Jangan nangis, kan Joko nya gak jadi mati," tukas Danis duduk di sebelah mamanya yang sedang menenangkan Riri.
"Bang Dewa..." Tatapan Riri jatuh pada Dewa.
Cowok dengan wajah datar yang duduk di seberang Riri itu mengangkat satu alisnya. Seolah bertanya, kenapa?
"Terima kasih ya. Kakak Dewa telah menyelamatkan nyawa Joko. Joko berutang budi pada Pak Dewa."
Dewa mengangguk. "Ya udah nanti Joko gue goreng aja, biar hutang budinya lunas."
"Hua ....jangan ...." Riri kembali menangis histeris mendengar ucapan Dewa. Padahal cowok itu hanya berniat bercanda. Tapi ternyata Riri menganggapnya serius.
"Hem! Gue tampol ya mulut lo, Wa!" Marah Danis menatap Dewa penuh peringatan.
"Dewa, kamu ini bukannya bantu nenangin, malah ngejahilin terus," tambah Vina sedikit kesal dengan tingkah jahil Dewa.
"Iya-iya," Gumam Dewa. "Maaf, Ri. Gue cuma bercanda doang."
"Huaa bang Dewa jahat!" Jerit Riri menendang-nendang meja yang ada di depannya.
"Ri, nanti kakinya sakit," nasihat Danis. Danis sampai jongkok di hadapan Riri untuk memegangi kedua kaki Riri. "Jangan nendang-nendang meja gitu."
"Hua....Riri kesel sama bang Dewa! Dia jahat hua ...!!!"
Dewa membelalakkan mata. Tidak terima dengan perkataan Riri barusan. Apa katanya? Jahat? Padahal Dewa lah tadi yang menyelamatkan hidup Joko. Kalau seandainya Dewa tidak datang tepat waktu. Sudah pasti saat ini Joko sudah menjadi santapan lezat Kolor Ijo. Kolor Ijo itu nama kucing peliharaan milik Dewa.
"Jahat-jahat gini, gue penyelamat hidup Joko.
Kalo gak ada gue si Joko udah pasti habis dimakan sama Kolor Ijo!" Bantah Dewa tak mau kalah.
Riri yang masih menangis sesenggukan dalam pelukan mamanya, menatap Dewa sengit. "Pokonya Riri sebel sama bang Dewa! Sama Kolor Ijo juga!"
"Liat aja! Nanti Riri bakal kasih racun ke Kolor Ijo!" Lanjutnya mengancam.
Saat Dewa kembali ingin membuka suara, kode dari Vina langsung membuat Dewa mengurungkan niatnya. Wanita paruh baya itu tidak mau melihat tangis Riri semakin histeris. Kalau Dewa terus menanggapinya, bisa-bisa perdebatan mereka tidak ada ujungnya.
"Ngalah kek, Wa! Gue sumpal juga mulut lo pake kaos kaki kalo masih banyak bacot!" Ancam Danis membuat mulut Dewa menggumamkan kata nyenyenye tanpa suara. "Sekarang kita ke kamar, ya. Bobok lagi," ajak Vina setelah merasa Riri agak tenang.
Riri masih melirik sinis ke arah Dewa yang sekarang berkacak pinggang dengan wajah songong. Rasanya, Riri ingin menonjok muka Dewa.
"Bang Dewa jahat!" Sembur Riri sebelum menuruti ajakan Vina.
"Bing Diwi jihit!" Tiru Dewa kesal. Namun beruntung tak terdengar oleh Riri. Karena gadis itu sudah melangkah jauh. "Gue sate juga tuh ikan koi sialan lo!"
Entah lah, rasanya Dewa memang mempunyai dendam pribadi pada Joko, ikan koi kesayangan Riri itu. Karena dari dulu, Riri lebih sering memprioritaskan Joko dari pada memprioritaskan dirinya, yang jelas kedudukannya jauh lebih tinggi karena ia adalah abangnya Riri. Sementara Joko hanya sebatas hewan peliharaan.
Dewa merasa cemburu karena posisinya di hidup Riri masih berada jauh di bawah Joko.
Ya, sesimpel itu kenapa Dewa kurang menyukai
__ADS_1
Joko dan ingin melenyapkan Joko.
Hati-hati, Jok.
Setelah asyik men-scroll beranda Instagramnya, Choline menemukan sesuatu yang menarik. Gadis itu segera memutar badannya, menghadap Nenda dan Riri yang duduk di belakang.
"Liat deh, ada kafe baru nih yang lagi viral." Tunjuk Choline pada dua sahabatnya sambil menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan mereka.
"Wah bagus banget tempatnya," angguk Nenda kagum. "Ke sana yuk?" Ajak gadis berwajah kalem itu.
Choline langsung mengangguk semangat tanpa banyak berpikir. "Hayuuk! Ntar pulang sekolah gimana?"
Nenda mengangguk setuju. "Boleh, gue bisa kok."
"Ri? Lo gimana?" Tanya Choline menyenggol lengan Riri. Sejak tadi, gadis itu tidak memberi tanggapan apa-apa karena asyik melamun.
"Ri?" Kali ini Nenda lah yang memanggil Riri. Nihil. Riri masih melamun tidak kunjung menyahut.
******
Udahlah emang yg paling bener tuh harusnya aku
gak usah nulis, kalo aku baper gini siapa yg tanggung jawab?
Btw aku gak mau ya punya cowok galak tapi kalo kaya Gala bisa dibicarakan baik-baik gak sih?
Lanjut gak nih?
Pesan buat Gala?
Pesan buat Riri?
Pesan buat mama Vina (ibu sambung Riri)?
Pesan Buat papa Eza (papa Riri}?
Pesan Buat Joko (ikan koi Riri)?
Pesan Buat Dewa dan Danis?
Atau buat siapa aja, buat author juga boleh :
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
Spam komen pake emoji ❤️ :
See yoouu🤎🤎
:
__ADS_1