CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
73.Mandi Lo lama


__ADS_3

Mata Riri membulat sempurna melihat Gala sudah ada di kamarnya. Cowok itu terlihat sedang asyik berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap sambil mengotak-atik ponsel, sampai tidak menyadari kehadiran Riri.


"Gala kok udah di sini? Udah dari tadi?" tanya Riri mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Tepat di samping Gala berbaring.


"Iya. Mandi lo lama," komentar Gala. Gala mengubah posisinya menjadi terlentang lalu menarik tangan Riri dan mengecupnya lembut. "Coba sini, wangi gak bocil gue yang habis mandi?"


"Wangi lah!" jawab Riri percaya diri.


Gala tertawa pelan. "Iya, makanya coba sini deketan dulu. Beneran wangi apa enggak?"


"Kalo enggak kenapa emangnya?


Gala mau cari cewek lain?"


Kepala Gala menggeleng lalu menaikturunkan sebelah alisnya. "Mau gue mandiin lagi."


"Th! Gak boleh!" Gadis yang rambutnya masih terbalut


handuk itu memukul lengan Gala. "Riri bukan bayi!"


"Ya udah ntar aja deh kalo udah halal. Kita mandi bareng tiap saat. Wajib pokoknya. Lo gak boleh nolak."


Riri tidak menanggapi ucapan Gala. Gadis itu berusaha menarik tangannya karena ingin mengeringkan rambut. "Gala lepasin tangan Riri ih! Riri mau keringin rambut dulu."


"Gak mau," geleng Gala lucu. Gala menampakkan ekspresi menggemaskan seperti anak kecil yang akan ditinggal oleh ibunya.


"Nanti kita kesiangan.Katanya mau ngajak Riri sarapan diluar?"


"Sini duluuu," pinta Gala sedikit merengek. "Mau ciummm wanginyaaaa."


Menghela napas, Riri menurut. Gadis itu mendekatkan dirinya ke Gala dan langsung ditarik paksa oleh cowok itu hingga kepala Riri terjatuh tepat di atas dada bidang Gala.


"Hummmm," Gala menghirup dalam-dalam aroma wangi dari kepala dan badan Riri. "Wangi banget. Gue suka. Lo masih pake sabun sama shampo wangi stroberi, itukan, Cil?"


Riri mengangguk meski kepalanya susah bergerak karena pelukan Gala terlalu kencang. "Iya dong."


Gala kembali menghirup aroma tubuh Riri. Kali ini semakin rakus hingga membuat Riri merasa geli.


"Aarrrrggghhhh wangi banget anjing!" umpat Gala tanpa sadar dengan kedua mata terpejam. Menikmati sensasi wangi tubuh Riri yang begitu ia suka hingga membuatnya candu setengah mati.


Rasanya Gala ingin memeluk dan membawa Riri bersamanya terus-menerus tanpa jeda waktu sedikitpun.


"****! Enak banget! Huhhhh!!!"


"Gala gak boleh ngomong kasar ih!"


Mata Gala terbuka lalu menatap Riri yang terlihat begitu mungil dalam pelukannya. "Sorry sayang, kelepasan."


"Udah, ih. Riri mau siap-siap."


"Gue bantu keringin rambut lo ya?" tawar Gala.


Riri mengangguk. "Iyaa. Tapi lepasin Riri dulu.

__ADS_1


Riri gak bisa napas."


Gala melepaskan Riri. Membiarkan gadis itu berjalan


ke depan meja Rias. Tak lama kemudian, Gala terkekeh


gemas melihat Riri kesusahan mengambil kotak hairdryer yang terletak di lemari bagian atas. "Dasar boncel," ejek Gala mengacak puncak kepala Riri. "Gue ambilin. Nih."


"Eitsss!" Gala mengangkat hairdryer itu tinggi-tinggi saat Riri ingin mengambil alih hairdryer dari tangannya. Hal itu tentu saja membuat Riri mencebik kesal.


"Ini dulu," ucap Gala membungkukkan badan


dan mengarahkan satu pipinya ke hadapan Riri.


Riri yang paham akan permintaan Gala, langsung melakukannya tanpa banyak bicara.


Cup


"Udah! Siniin!" pinta Riri setelah memberikan satu kecupan di pipi Gala.


"Kurang, harusnya dua."


"Gak mau! Gala banyak mau ih! Ngelunjak!"


Gala menatap Riri kesal. "Tinggal kecup doang apa susahnya. sih?! Cepat satu lagi!" paksa Gala tak mau dibantah.


"Nanti aja!"


"Gak mau!"


Gala mengacak rambutnya kesal. "AARRRRGGGHHH!!! RIRI AYO CEPAT CI--"


"Gala jangan teriak-teriak!" peringat Riri cepat. Takut orang tua atau kakak-kakaknya mendengar teriakan Gala.


Bibir Gala berkedut. "Makanya ciuuuuummm dulu!"


"Udah, kan?"


Senyum Gala mengembang lebar. Cowok itu langsung terlihat seperti singa jinak. "Duduk. Sekarang gue bantu keringin rambut lo."


Riri duduk di depan meja rias. Sementara Gala, cowok itu berdiri di belakang Riri sambil memegang hairdryer untuk mengeringkan rambut Riri yang basah. Di sela-sela kegiatannya, Gala menyanyikan lagu favoritnya.


"Oh, sayang, aku akan membawamu ke langit"


"Selamanya kau dan aku, Kau dan aku, Kau dan aku."


"Dan kita akan bersama sampai kita mati."


"Cinta kita akan bertahan selamanya dan selamanya, kamu akan menjadi milikku."


"Kau akan menjadi milikku. Oh-ooh, oh-ooh."


Gala berhenti bernyanyi saat dirasa rambut Riri sudah mengering.

__ADS_1


"Udah kering," ujar Gala memberitahu sembari mencubit pipi


chubby Riri dengan gemas.


"Makasih Gala!"


"Pegel juga tangan gue."


"Nanti kalo di mobil, Riri pijit. Mau gak?"


"Gak deh," geleng Gala menolak. "Mending botakin aja rambut lo. Biar gak usah repot-repot ngeringin rambut tiap habis mandi."


Mata Riri melotot dengan kedua tangan berkacak pinggang. Gadis itu tidak terima dengan saran ngawur yang Gala berikan. "Enak aja!"


"Gaya baru, Riri. Biar kepala lo yang bulet, kecil, makin mirip sama onde-onde. Udah kecil, botak lagi. Hahahahaha," tawa Gala sambil membayangkan jika kepala Riri benar-benar botak. Lucu mungkin.


"Gak!" tolak Riri galak. "Riri mau ke kamar mandi bentar. Mau pipis. Gala gak usah ketawa terus ya! Nanti Riri gak mau cium lagi!"


Seketika tawa Gala tadi, kini sirna entah kemana. Cowok itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bisa bahaya kalau sampai Riri tidak mau menciumnya lagi. "Hem, bocil main ngancem."


Sambil menunggu Riri keluar dari kamar mandi, Gala kembali rebahan di atas tempat tidur. Namun kali ini Gala iseng membuka dan memainkan ponsel Riri yang tergeletak di atas atas.


Tiba-tiba ekspresi Gala berubah seperti orang marah


saat melihat sesuatu di ponsel Riri. "****!" umpatnya.


"Gala! Itu hape Riri!"


Dengan cepat Gala menjauhkan ponsel Riri dari jangkauan gadis itu. "Kenapa gue gak boleh liat?" tanya Gala sedikit ngegas. "Nyembunyiin sesuatu dari gue?"


Riri menggeleng cepat. "Enggak! Tapi kan--"


"Tapi kan apa?" sela Gala cepat. Gala mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang. Menatap Riri datar. "Dulu lo biasa aja kalo gue liat hape lo. Kok sekarang jadi gini?"


"Terus kenapa profil Whatsapp lo bukan foto kita lagi? Kenapa diganti jadi foto lo sendiri? Chat-an sama siapa lo sampe niat ganti profil?" tanya Gala beruntun. Tatapan datarnya tadi, kini berubah menjadi tatapan tajam.


Riri menatap Gala kesal. "Riri cuma pengen ganti.


Emangnya salah? Itukan punya Riri. Terserah Riri dong."


"Salah!" nyolot Gala. "Gue gak suka. Udah gue ganti sama foto kita, barusan."


Riri menghentakkan kakinya kesal. "Gala kenapa sih?! Gitu aja dipermasalahin!"


"Biar lo gak ngelunjak!" Gala berdiri lalu menoyor kepala Riri hingga gadis itu sedikit terhuyung ke belakang. "Lo makin gue bebasin makin berani ngelawan ternyata."


Riri merebut ponselnya yang ada di tangan Gala. Gadis itu


merasa kesal karena Gala memang benar-benar mengubah


profil Whatsapp-nya menjadi foto mereka berdua lagi.


__ADS_1


__ADS_2