CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
74.


__ADS_3

Selamat siang bestie, semoga harimu siang terus


Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


Selamat membaca!


....


"Riri gak suka sama foto ini!" Riri menatap Gala dengan perasaan kesal setengah mati. "Riri mau ganti lagi!"


"Berani ganti lagi, gue banting hape lo," ancam Gala. Meski datar, namun ancaman Gala kali ini terdengar tidak main-main.


Sebenarnya, sedari tadi, air mata Riri juga memaksa ingin menerobos keluar. Namun gadis itu berusaha menahannya sekuat yang ia bisa. Riri tidak mau terlihat terlalu lemah seperti biasanya.


Kali ini, Riri ingin mempertahankan keinginannya. Karena selama ini, semua hal yang ia lakukan, harus berdasarkan persetujuan Gala. Sekali-kali Riri ingin merasakan melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri.


Riri duduk di tepi ranjang. Gadis itu diam. Tidak mau menatap ke arah Gala yang berdiri di hadapannya. Riri benar-benar kesal karena Gala selalu ingin menang sendiri.


"Cepat siap-siap. Nanti kesiangan," ucap Gala seraya berjalan


ke arah sofa yang ada di dekat tempat tidur Riri.


Riri tetap diam. Ia menatap ponselnya dengan pandangan kosong. Bingung harus melakukan apa. Takut jika dirinya mengganti profil, Gala benar-benar akan membanting ponsel miliknya.


Meski Riri tahu, setelah itu Gala pasti akan menggantinya dengan ponsel yang baru, namun tetap saja, Riri tidak mau terjadi keributan di dalam kamarnya yang memungkinkan semua orang rumah akan tahu pertengkaran mereka dan berujung menyebabkan masalah baru lagi.


"Ri, lo gak budek, kan?"


Riri menunduk sembari menautkan kedua tangan. Itu semua ia lakukan untuk mengurangi rasa takut dalam dirinya saat menghadapi Gala yang sedang dalam mode menyeramkan seperti sekarang.


"Riri gak mau sarapan di luar. Riri sarapan di rumah aja,"


jawab Riri pada akhirnya.


"Cepet siap-siap, apa gue seret lo?"


Riri memberanikan diri menatap ke arah Gala. "Seret aja! Emang Gala berani? Di rumah ada Papa, Mama, Bang Dewa sama Bang Danis."


"Gala pasti bakal dimarahin sama mereka!"


Gala tertawa tidak habis pikir. "Bener, sekarang lo emang udah punya mereka. Makanya makin berani dan gak mau nurut sama gue."


"Coba dulu, lo paling takut kalo gue tinggalin karena gak punya siapa-siapa lagi selain gue."


"Kenapa Gala jadi bahas soal itu?" tanya Riri tidak suka.

__ADS_1


"Kenapa?" satu alis Gala terangkat. "Kenyataannya emang gitu, kan? Sekarang posisinya terbalik. Kalo dulu lo yang gak punya siapa-siapa dan sekarang gue yang gak punya siapa-siapa, selain lo. Makanya lo berubah. Lo berani sama gue. Lo gak takut lagi kalo gue tinggal. Karena lo udah punya keluarga lengkap."


Riri diam. Ia bingung harus menanggapi kemarahan Gala yang semakin merembet kemana-mana dengan cara apa.


"Kenapa diem?"


"Terserah Gala. Pokoknya Riri gak mau sarapan di luar. Riri mau tidur aja."


Gala berjalan ke arah Riri. Pandangan matanya tertuju ke leher Riri. Entah bodoh atau bagaimana, Gala baru menyadari, saat ini, Riri sedang memakai kalung berliontin bunga matahari pemberian Danis. Sementara tangannya, kosong. Riri tidak memakai gelang pemberiannya.


Hal itu tentu saja membuat Gala merasa kecewa. Sangat


kecewa. Padahal ia sudah susah payah membuat gelang itu hingga tidak tidur semalaman. Namun Riri justru lebih memilih memakai kalung pemberian Danis daripada gelang pemberiannya.


"Saking gak berharganya gue di mata lo sekarang, lo bahkan


gak mau make gelang pemberian gue dan lebih milih make


kalung pemberian Danis."


Gala menertawakan nasibnya sendiri. "Oh iya, Danis kan Abang lo, keluarga lo. Sementara gue? Gak tau, untuk sekarang gue apaan di mata lo."


Riri terkejut. Dia baru sadar bahwa sejak kemarin, dia belum melepas kalung itu.


"Ini--"


Alan menatap Gala jengah. Entah sudah berapa kali Alan meminta Gala untuk masuk ke dalam markas karena di luar hujan lebat. Sementara Gala, cowok itu tetap asyik melamun di teras sambil menghisap rokok. Tidak menghiraukan percikan demi percikan air hujan yang membasahi tubuhnya.


"Gal," panggil Alan untuk kesekian kalinya. Entahlah Alan bingung, sejak pertama kali datang ke markas tadi, Gala terlihat berbeda. Lebih banyak diam dan tampak begitu murung.


Berdecak pelan, Alan kembali memanggil nama Gala. "Gal!"


Untungnya kali ini Gala mau menoleh meski dengan ekspresi datar. "Hm?" gumamnya malas.


Alan mengarahkan dagunya ke depan. "Baju lo basah.


Lo ngapain? Udah tau hujan deres, angin kenceng, malah duduk di sini."


Gala mengalihkan tatapannya ke arah lain sembari


meniupkan asap rokoknya ke atas. "Gue pengen di sini.


Lo gak usah ngurusin gue."


Setelah mendengar jawaban Gala, Alan kembali masuk ke dalam. Meninggalkan cowok keras kepala itu tetap di luar. Percuma jika dirinya harus berdebat dengan Gala yang sepertinya memang tidak mau diganggu.

__ADS_1


"Galau kali tuh anak," ceplos Ilham begitu Alan duduk di sofa sebelahnya.


"Kayanya lagi ada masalah sama Riri," tambah Akbar.


Ilham berdecak kasar. Lagipula sejak kapan masalah Gala bukan bersangkutan dengan Riri? Sudah pasti hanya Riri yang bisa membuat Gala segalau itu.


"Sejak kapan masalah Gala bukan soal Riri, Bar? Udah jelas dan udah pasti, kalo Gala kelihatan galau kaya gitu, ya karena Riri."


Akbar mengangguk membenarkan ucapan Ilham. "Iya juga sih, Ham. Cuma kan bisa aja Gala galau gara-gara mikirin di mana nyokap kandungnya sekarang."


Sementara Alan, sejak tadi cowok itu hanya diam.


Alan Memang lebih suka berpikir sendiri daripada mengeluarkan argumennya pada orang lain.


Ilham celingukan sebentar untuk emastikan bahwa Gala belum ada niatan masuk ke dalam. "Eh iya, akhir-akhir ini dia emang sering nyari info soal nyokap kandungnya. Waktu itu gue sempet mergokin dia mandangin buku nikah nyokap kandungnya sama bokap nya. Pas ada gue, langsung dikantongin. Padahal gue udah sempet liat."


Alan menatap Ilham serius. "Kapan?"


Ilham berusaha mengingat-ingat kejadian itu. "Kapan ya? Duh gue lupa. Seinget gue, pokonya setelah kejadian Riri diculik Virgo itu. Entah sehari, dua hari, atau tiga hari setelahnya, gue gak inget pasti."


******


.


.


Huhuuuu rumitttt bestieee seperti cintaku pada Alan yang terhalang oleh dimensi yang berbeda


Pesan buat Riri?


Pesan buat Gala!


Pesan buat Alan?


Pesan buat Ilham dan Akbar?


Pesan buat Asti, bunda pantinya Amora?


Pesan buat siapa aja?


Penulis buat Author juga boleh:


-


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.

__ADS_1


Spam datang pake emoji :


__ADS_2