
Dengan cepat Amora langsung berdiri di dekat Gala.
Sementara Gala yang masih bingung kenapa bisa ada
Amora dan Riri di teras markas Drax hanya diam
karena kehabisan kata-kata.
"Kak Gala, liat deh, masa Kak Riri buang masakan aku. Padahal aku masaknya susah payah, khusus buat Kak Gala." Adu Amora. Amora hendak memegang lengan Gala, namun tidak jadi karena Gala sudah lebih dulu melangkah ke arah Riri.
"Kok lo ada di sini sih? Kan tadi gue chat, gue mau
kerumah lo." Gala mengusap-usap puncak kepala Riri.
Amora yang melihat hal itu jadi kelabakan sendiri.
Kesal sekaligus sakit hati, karena Gala tidak memedulikan dirinya sama sekali.
"Gak usah pegang-pegang deh! Riri masih marah sama Gala!" Riri menghempaskan tangan Gala kasar lalu kembali menatap Amora. "Tuh, Gala dimasakin sama Amora."
Gala menatap nasi goreng yang berserakan di lantai.
Belum sempat Gala mengeluarkan kata-kata, Amora
sudah lebih dulu bersuara.
"Kalo Kak Riri buang gini, jadinya mubazir.
Padahal niat Amora baik, Kak."
Gala menghembuskan napas pelan. Tatapannya mengarah pada Amora yang wajahnya tampak menyedihkan. "Lain kali gak usah masakin gue. Lo liat sendiri kan? Cewek gue gak suka kalo lo bawa makanan buat gue."
Deg!
Mata Amora memanas. Ia kira tadi Gala akan memarahi
Riri karena telah membuang masakannya. Ternyata Gala
justru tampak biasa saja dan berada di pihak Riri.
"Aku buat ini cuma sebagai tanda terima kasih, Kak.
Waktu itu Bunda juga udah bilang kan? Kak Gala lupa?"
Gala menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya. Demi Tuhan, Gala tidak pernah mengharapkan
ada dalam keadaan serba salah seperti ini.
"Amora, lo boleh ngasih gue apapun. Asal cewek gue Mengijinkan. Kalo cewek gue gak Mengijinkan, mau seribu
kali lo sama Bunda memaksa, gue tetep gak bakal nerima."
__ADS_1
"Waktu itu gue iya-iya saja, karena gue gak enak sama Bunda. Gue menghargai niat baik Bunda dan lo. Tapi kalo apa yang lo lakuin itu buat cewek gue gak nyaman, gue juga berhak nolak."
Riri menyahut sambil berkacak pinggang.
"Dengerin tuh!"
Gala menoleh pada Riri. Meletakkan satu jari
telunjuknya di depan bibir Riri. "Ssstt, bocil diem dulu."
"Amora? Kok lo ada di sini?" Tanya Dio bingung.
Dio teringat sesuatu. Cowok itu mengangguk-anggukan kepala. "Oh, gue paham sekarang. Jadi tadi lo nanya-nanya
ke gue karena mau nyusul ke sini?"
Setengah jam yang lalu, Amora memang menghubungi Dio untuk menanyakan di mana keberadaan cowok itu. Setelah Dio menjawab jika dirinya sedang ada di markas Drax, Amora juga menanyakan ada siapa saja di sana. Karena Dio mengira Amora hanya iseng bertanya, Dio pun menjawab jujur jika di markas Drax banyak teman-temannya, termasuk Gala.
Sekarang Dio paham, kenapa tadi Amora menanyakan hal itu. Ternyata karena Amora memang ingin datang ke markas Drax untuk bertemu dengan Gala.
"Amora!" Teriak Dio saat Amora pergi meninggalkannya
begitu saja.
Sementara itu, Gala dan Riri masih terlihat saling diam.
Sedari tadi mereka berdua sibuk memerhatikan pertengkaran antara Amora dan Dio. Ralat, sebenarnya hanya Riri yang sibuk memerhatikan pertengkaran Amora dan Dio. Karena Gala justru lebih sibuk memerhatikan wajah Riri yang tertekuk cemberut karena merajuk.
"Kenapa lihat-lihat?!" Sewot Riri begitu ia berbalik badan menatap Gala. "Riri mau pulang! Bye!"
gadis itu menubruk dada bidangnya. "Sini, dulu."
"Ih! Lepasin! Sana peluk Amora! Gak usah peluk Riri!"
Gala semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak peduli jika Riri tidak mau ia peluk. "Maunya peluk lo."
"Lo kenapa bisa di sini? Lo ke sini sama siapa?" Cecar Gala teringat kenapa Riri tiba-tiba ada di markas Drax.
Riri malas sekali menjawab. Ia masih ingin marah pada
Gala karena kemarin Gala gagal menjemputnya hanya demi mengantar Amora pulang ke panti.
"Bocil? Jawab dong. Lo ke sini sama siapa, hem?"
"Sama Mama!" Jawab Riri dengan nada ngegas.
Selanjutnya, Riri lebih memilih diam dalam pelukan Gala. Karena mau memberontak pun, Riri akan tetap kalah.
"Kok bisa?" Tanya Gala heran.
__ADS_1
Riri menghela napas. Gadis itu mulai menjelaskan dengan malas-malasan. "Tadi Riri jalan-jalan sama Mama naik mobil. Terus pas lewat sini, Riri liat Amora berdiri di sini. Makanya Riri minta turun dan nyuruh Mama pulang duluan."
Gala mengangguk paham. "Oh gitu, lo keluar kenapa
gak izin gue dulu?"
Menunduk, Gala menatap Riri yang ada dalam
pelukannya dengan tatapan intens. "Mulai bandel, hem?"
Riri balas menatap Gala dengan mata bulatnya yang mengerjap beberapa kali. "Gala juga, kemarin peluk Amora kenapa gak izin Riri dulu?"
Gala mendengus kasar. Sudah berapa kali ia jelaskan
pada Riri, bahwa dirinya tidak memeluk Amora. Itu semua hanya salah paham dan ada orang yang sengaja ingin membuat hubungan Gala dan Riri hancur. Namun hingga
saat ini, Gala belum tahu siapa pelakunya.
"Gue gak ada peluk Amora, sayang.
Lo masih aja gak percaya."
"Gala kan tukang boong!"
Gala mencubit pipi Riri gemas. "Emm! Gemesin banget. Dibilang gue gak peluk Amora. Lagian enakan peluk lo. Ngapain meluk Amora?"
"Mobil gue tuh tiba-tiba berhenti. Gue turun niatnya buat ngecek mobil eh taunya ada Amora nangis. Gue samperin
dan nenangin dia doang, gak ada pelukan. Karena tiba-tiba hujan gede, gue ajak dia ke mobil. Pas gue coba, ternyata mobil gue langsung bisa. Jadi ya udah gue anterin dia pulang sekalian," jelas Gala panjang lebar.
"Riri capek berdiri!"
Gala terkekeh lalu mengajak Kiri masuk ke dalam markas. Mereka berdua duduk di sofa depan televisi. Sementara anak-anak Drax yang lainnya sedang berenang di halaman belakang markas yang memang terdapat kolam renang.
"Siapa?" Tanya Gala saat Riri membuka ponsel
karena ada notif pesan masuk bertubi-tubi.
"Rafa," jawab Riri santai. Namun tidak dengan Gala.
Mata Gala langsung melotot lebar.
"Ngapain?!"
"Buat foto di buku tahunan sekolah, kelas Riri sepakat
fotonya dibagi-bagi kelompok. Terus Rafa satu kelompok sama Riri deh. Makanya Rafa nanya-nanya ke Riri."
Gala berdecak tidak suka. "Apa-apaan sih, satu kelompok, satu kelompok mulu. Enak banget. Gue gak izinin lo satu kelompok sama dia! Siapa yang bagi kelompok sialan itu?"
"Wali kelas Riri lah masa mbah dukun!" Jawab Riri sewot.
__ADS_1
"Besok biar gue yang ngomong sama wali kelas lo ya!
Riri sama Rafa harus beda kelompok!"