CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
61.Nge-rosting Virgo


__ADS_3

Dengan gerakan secepat kilat, cowok yang baru saja keluar dari dalam mobil itu langsung memegang satu tangan Riri yang berusaha memberontak.


"Ih Riri gak mau! Dasar tukang boong!"


"Hem! Jangan teriak! entar gue beliin lo es krim banyak!"


"Gak mau! Muka kalian aja kaya orang miskin!


Pasti gak mampu beliin Riri es krim!" Ejek Riri membuat


mata keduanya langsung melotot lebar. Bisa-bisanya mereka diremehkan oleh gadis ingusan seperti Riri.


"Lepasin!"


Brak!


Salah satu dari mereka menutup pintu mobil dengan kencang saat Riri berhasil masuk ke dalam mobil.


"Hai, cantik," sapa seorang cowok yang lagi-lagi tidak Riri kenal. Sementara dua cowok tadi, duduk di jok depan. Jadi


di jok belakang hanya ada Riri dan satu cowok yang baru saja menyapa Riri barusan.


"Gak usah pegang-pegang deh! Tangan kamu ada


upilnya!" Marah Riri saat cowok itu menyolek dagu Riri.


"Emang gitu dia, Bos. Jadi lo harus kuatin mental.


Gue sama Arjun aja, barusan dikatain miskin," sahut Digo-cowok yang duduk di samping pengemudi dan


cowok yang pertama kali menghampiri Riri di koridor tadi.


Virgo tersenyum penuh arti. "Menarik juga," gumamnya menatap Riri dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Turunin Riri!" Pinta Riri dengan mata melotot pada Virgo.


Riri sama sekali tidak takut dengan Virgo. Karena bagi Riri wajah Virgo tidak terlihat menyeramkan seperti penculik pada umumnya.


Virgo tertawa pelan. "Lucu. Lo lebih kaya anak SD sih daripada anak SMA pada umumnya."


"Kalo kamu lebih kaya kakek-kakek penyot daripada


anak remaja pada umumnya!" Balas Riri ngegas.


Membuat Arjun dan Digo berusaha menahan tawa.


"Gak usah ketawa!" Bentak Virgo pada dua anak buahnya.


Virgo kembali mengalihkan atensi pada Riri yang wajahnya terlihat kesal. "Jadi lo beneran ceweknya Gala, kan?"


"Bukan!" Ketus Riri. "Riri neneknya!"

__ADS_1


"Wih, lo punya bakat jadi pelawak, ya?" Virgo tertawa mengejek. "Tapi sayang gak lucu. Lucuan kalo lo nangis-nangis terus Gala liat hahahaha."


"Sembarangan! Riri tuh cita-citanya jadi dokter!


Bukan pelawak! Tapi karena Riri gak pinter, cita-cita Riri sekarang ganti."


"Jadi apa?"


Riri menatap Virgo kesal. "Jadi mbah dukun!


Biar bisa nyantet kamu!"


"Lama-lama gemesin juga."


"Elah, Bos. Lo ngapa malah modus. Cepat telfon


Gala biar dia tau kalo anceman lo gak main-main," suruh Digo.


Virgo berdecak. Cowok itu langsung mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. "Hem, gue bosnya. Ngapa jadi lo yang nyuruh gue?!"


"Maaf, Bos."


"Huft." Riri menghela napas kasar. Gadis itu menatap Virgo lekat-lekat. Membuat Virgo merasa aneh sendiri ditatap seperti itu oleh Riri.


"Ngapain lo?" Todong Virgo curiga.


"Udah ganteng, senyumnya manis, alisnya tebal, hidungnya mancung, tatapannya buat hati Riri leleh, tajir, gayanya keren." Riri masih menatap Virgo lekat. Justru tatapan gadis itu semakin lama semakin dalam.


Virgo mengubah ekspresinya menjadi lebih datar. Ia kira tadi Riri sedang memujinya. Di luar dugaan, gadis itu justru memuji Gala. Membuat Virgo semakin kesal. Sangat kesal bahkan.


"Diem lo. Ini pacar lo sok sibuk banget.


Ditelfon gak diangkat-angkat."


"Hapenya jelek. Fix orang miskin," gerutu Riri melihat Virgo kembali mengotak-atik ponsel. Riri mendongak memerhatikan keadaan mobil. "Mobilnya juga b aja, pasti belinya nyicil."


Riri mengibaskan dua tangannya di depan hidung.


"Jaket yang dipake juga bau. Pasti beli di pasar loak."


"Ih, celana bolong kok dipake."


Riri melirik jam tangan hitam yang Virgo kenakan.


"Jam tangannya pasti beli di flash sale serba seribu."


"Sepatunya pasti diskon di Mata-"


Virgo menoleh ke samping. "Buset, lo kenapa jadi nge-roasting gue? Gue ini penculik. Gak ada wibawanya banget di mata lo."


"Ya, maaf, kan jujur lebih baik," jawab Riri tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Lagi pula salah sendiri Virgo menculik dirinya. Riri jadi ingat apa kata Ilham dulu. Kalau kita tidak bisa menyerang lawan secara fisik, maka kita harus bisa menyerang mereka secara mental. Jadi, Riri memang sengaja menjelekkan Virgo agar cowok itu kesal padanya.


"Riri haus," gumam Riri pelan namun tetap terdengar oleh Virgo. "Tadi katanya bakal dibeliin es krim banyak. Boong banget ih, sekarang gak dibeliin apa-apa. Miskin beneran, ya?"


"Siapa yang bilang bakal beliin lo es krim?"


Riri menunjuk dua orang yang duduk di jok


depan-Digo dan Arjun.


"Mereka."


"Hem, kalian bilang gitu?"


"Maaf, Bos. Itu tadi buat ngebujuk dia doang. Biar mau ikut sama kita. Penculik kan biasanya gitu," jawab Digo.


"Nyusahin!" Kesal Virgo. Virgo menatap Riri tajam. "Gak ada es krim, es krim-an, gak usah banyak mau. Gue bukan pembantu lo."


Mata Riri mengerjap polos. "Terus kamu pembantu siapa?"


"Aarrggh!!!"


Virgo mengacak rambutnya frustasi. Andai saja ia tidak ingat jika dirinya juga mempunyai adik perempuan yang masih kecil, Virgo pasti akan tega melakukan hal-hal jahat lainnya pada Riri. Sayangnya, Virgo sangat menyayangi adiknya.


Dan tidak mau jika suatu saat nanti adiknya akan mendapat karma atas perbuatannya sekarang. Jadi, Virgo tidak berani berbuat hal-hal di luar batas wajar pada Riri.


"Kenapa rambutnya digituin? Banyak kutunya, ya?


Ih, awas rontok. Nanti nular ke Riri."


Virgo tidak menggubris ucapan Riri. Cowok itu lebih memilih diam sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini untuk membuat Gala tunduk padanya. Agar Gala mau membebaskan Leo dari penjara.


Begitu juga dengan Digo dan Arjun. Mereka berdua lebih memilih diam karena takut salah bicara dan berujung terkena amukan Virgo.


"Dulu Riri pernah punya kutu, ketularan dari salon waktu Riri potong rambut," oceh Riri semangat. "Awalnya sih Riri gak tau. Cuma ngerasa gatel-gatel gitu di kepala. Pas dicek sama Gala, taunya rambut Riri kutuan."


"Jadi, mau gak mau, Gala bantuin Riri ngambilin kutu di rambut Riri. Gala duduk di sofa, terus Riri duduk di bawah. Kaya ibu monyet yang lagi ngambilin kutu anaknya gitu." Riri menoleh pada Virgo. "Tau gak?"


"Hem! Riri dicuekin!" Riri melipat kedua tangannya di depan dada. Merasa kesal karena Virgo mendiamkan dirinya.


"Tau gambaran ibu monyet yang lagi nyari kutu di kepala anaknya gak?" Ulang Riri.


Virgo memejamkan mata sejenak. Menahan


diri agar tidak meluapkan emosinya sekarang.


"Gak."


"Norak deh!" Ejek Riri dengan ekspresi songong. "Emang waktu SD kamu gak pernah study tour ke Taman Safari apa?"


"Gak."

__ADS_1


"Eh, anjir, demi apa lo waktu SD study tour ke Taman Safari juga?" Tanya Digo semangat sambil menyerongkan tubuhnya ke belakang agar bisa melihat Riri.


__ADS_2