CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Kangen Bunda


__ADS_3

FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?


Vote Dan Komen lebih banyak dari


Chapter sebelumnya, baru update yađź’–


Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.


Ada masukan buat cerita ini gak?


Kalian tim mana, Gala galak dan posesif?


atau, Gala manja dan Ngomel?


******


Mata Riri mengerjap polos. "Kenapa? Gala sakit?" Tanya Riri panik saat Gala kembali menatapnya dalam diam.


"Iya, sakit," angguk Gala dengan mata sayu. Gala mulai menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Riri. "Ayo nikah, gue pengen nikah sama lo."


"Assalamu'alaikum, bunda." Riri duduk di hadapan makam Desi lalu meletakkan setangkai bunga mawar yang tadi ia beli bersama Gala sebelum ke sini.


"Bunda, Riri bawa bunga buat bunda. Selamat ulang tahun, bunda."


"Bunda ulang tahun?" Tanya Gala cukup terkejut.


"Iya," angguk Riri. "Hari ini bunda ulang tahun."


"Selamat ulang tahun, bunda," ucap Gala sambil menabur bunga. Sewaktu Desi masih hidup dan sebelum Gala menjadi tunangan Riri, Gala memang sudah sangat akrab dengan bunda Riri. Bahkan dulu, Desi sudah menganggap Gala seperti anaknya sendiri. Tidak pernah membeda-bedakan antara Riri dan Gala. Desi sangat menyayangi keduanya.


"Bunda, Riri kangen sama bunda. Bunda juga kangen sama Riri kan?" Tanya Riri dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mati-matian Riri menahan diri agar tidak menangis di hadapan makam bundanya. Tapi tetap saja ia tidak bisa. Ini semua terlalu sulit bagi Riri.


"Sssttt...jangan nangis," tenang Gala merangkul pundak Riri di sampingnya.


"Bunda, maaf ya kalo Riri jarang ke sini. Bunda pasti kesepian, ya?"


"Bunda, kalo bunda kesepian dateng ke mimpi Riri, ya? Riri pengen peluk bunda."


Gala mengeratkan pelukannya saat merasa punggung Riri bergetar karena tangisnya semakin pilu.


"Bunda harus bahagia ya di sana. Riri di sini juga bahagia kok. Riri bersyukur sekarang Riri punya mama, papa, bang Dewa, sama bang Danis. Mereka semua baik ke Riri, bunda. Baiiiik bangeeeettt...."


Riri mengusap air matanya dengan kasar. "Tapi bunda tenang aja. Yang paling Riri sayang tetep bunda." Lalu Riri menoleh ke Gala di sampingnya. "Sama Gala," sambungnya.

__ADS_1


"Bundaa...maafin Riri ya kalo Riri masih suka bandel dan gak nurut sama ucapan Gala." Riri menunduk sedih. Gadis itu merasa bersalah. "Bunda pasti kesel ya karena Riri masih sering ngelawan Gala. Padahal dulu bunda sering ingetin Riri, kalo bunda gak ada, Riri harus nurut sama Gala. Maafin Riri bunda..."


Gala mendongak, menahan air matanya yang juga ingin keluar. Entah lah, tiba-tiba Gala merasa sedih melihat Riri seperti ini. "Bunda pasti bangga sama lo. Lo sekarang udah jauh lebih pinter. Udah gak sebandel dulu."


Kepala Riri mendongak, menatap Gala tidak percaya. "Emang iya?"


Gala mengangguk. Mencium kening Riri sekilas. "Iya, sayang. Jangan nangis lagi. Nanti bunda sedih."


"Gala, Riri sayang banget sama bunda..." Ucap Riri sebelum akhirnya gadis itu menangis histeris dalam pelukan Gala.


"Ibu juga mencintaimu, Ri," jawab Gala menenangkan.


Gala tidak marah melihat Riri menangis seperti sekarang. Ia paham, Riri seperti ini karena saking rindunya dengan bundanya. Dulu, Riri itu sangat manja. Tidak bisa lepas sedikitpun dari bundanya. Lalu tiba-tiba Riri dipaksa harus melepaskan bundanya untuk pergi selamanya. Jadi wajar jika saat ini Riri masih sering merasa terpukul.


Gala mengusap-usap punggung ringkih Riri. Tatapan mata Gala lalu beralih ke gundukan tanah di depannya. "Bunda, makasih udah lahirin Riri ke dunia. Makasih udah jadi bunda lahirin Riri ke dunia. Makasih udah jadi bunda yang hebat buat Riri sama Gala. Gala sayang banget sama bunda. Gala juga sayang banget sama Riri. Gala janji bakal jagain Riri seperti pesan bunda dulu. Makasih bunda. Makasih. Selamat ulang tahun."


"Sayang, mama boleh masuk gak?" Tanya Vina, mama Riri, setelah mengetuk pintu kamar Riri beberapa kali.


Merasa tidak ada jawaban, Vina mencoba membuka pintu kamar Riri. Ternyata benar dugaannya, pintu kamar Riri memang tidak dikunci.


Vina masuk pelan-pelan. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Riri sudah tertidur pulas. Tumben sekali, padahal ini masih jam delapan malam. Riri juga belum minum susu sejak tadi.


"Anak mama habis nangis, ya?" Vina meletakkan nampan yang berisi satu gelas susu di atas meja lalu beralih duduk di tepi kasur dan mengusap-usap mata sembab Riri.


berziarah ke sana. Vina sangat menghargai Desi sebagai ibu kandung Riri. Maka dari itu, Vina tidak pernah melarang Riri untuk mengenang bundanya.


Bagi Vina, Desi hanyalah masa lalu dari Eza, suaminya. Jadi Vina tidak boleh egois. Apalagi cemburu. Lagipula, Desi juga sudah tidak ada. Sudah pergi untuk selamanya.


"Sayang, minum susu dulu ya. Biar tidurnya nyenyak." Vina mengusap-usap pipi Riri lembut.


"Bundaa ..." Riri bergumam pelan sembari menggeliat tidak nyaman.


"Cinta?" Panggil Vina pelan-pelan.


Mata Riri perlahan terbuka. Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali. Sampai tersadar yang di sampingnya sekarang adalah Vina bukan Desi. "Mama..."


Vina tersenyum lembut. "Iya, sayang. Ini mama."


Dengan cepat Riri memposisikan dirinya duduk. Tanpa aba-aba Riri langsung menerjang Vina dengan pelukan eratnya.


"Mama, maafin Riri..."


Vina masih tidak mengerti Riri meminta maaf untuk kesalahan apa. Namun meski begitu, Vina tetap membalas pelukan Riri tak kalah erat.

__ADS_1


"Minta maaf kenapa, sayang?" Tanya Vina heran.


"Maaf tadi Riri manggil mama dengan sebutan bunda. Riri gak maksud buat..."


"Ssstttt..." Potong Vina cepat. "Mama sama sekali gak marah sayang."


"Beneran?" Mata Riri mengedip polos.


"Iya," kekeh Vina menyentil hidung mungil milik


Riri. "Kamu kangen sama bunda, ya?"


Kepala Riri tertunduk seketika. Seolah gadis itu merasa sedih. "Riri kangen banget sama bunda, ma."


Tangan Vina mengusap-usap kepala hingga punggung Riri dengan gerakan teratur. "Kalo Riri kangen sama bunda, Riri bisa peluk mama dan bayangin kalo mama ini bunda kamu."


******


Udahlah emang yg paling bener tuh harusnya aku


gak usah nulis, kalo aku baper gini siapa yg tanggung jawab?


Btw aku gak mau ya punya cowok galak tapi kalo kaya Gala bisa dibicarakan baik-baik gak sih?


Lanjut gak nih?


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Mama Vina (Ibu sambung Riri)?


Pesan Buat Bunda Desi (Bundanya Riri)?


Atau buat siapa aja, buat author juga boleh :


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


Spam komen pake emoji ❤️ :


See yoouu🤎🤎


:

__ADS_1


__ADS_2