
Selamat siang bestie, semoga harimu siang terus
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
"Bunda, Riri gak salah kan kalau pertahankan Gala?" tanya Riri seolah sedang berbicara dengan bundanya yang sudah tiada. "Riri sayang banget sama Gala. Riri mau sama Gala terus. Riri gak mau Gala ninggalin Riri, kaya Bunda."
"Ditinggalin itu sakit. Riri gak mau kehilangan lagi," lanjutnya setelah memejamkan mata untuk beberapa detik. Menahan rasa sesak yang muncul tiba-tiba.
"Riri ingat, dulu, setiap Bunda mau ninggalin Riri kerja ke luar kota, Bunda selalu pesen ke Riri buat gak percaya sama siapapun, selain Gala." Gadis itu tersenyum tipis. "Sekarang, gimana bisa Riri gak mau maafin Gala, kalau sampai akhir hayat Bunda pun, Bunda percaya banget kalo Gala bisa jagain dan bahagiain Riri."
Senyum Riri kian melebar. "Riri percaya, Gala itu sayang banget sama Riri. Cuma cara Gala buat pertahankan Riri aja yang kadang kurang tepat."
Tiba-tiba gadis itu terkekek geli. "Kalau kata Bunda,
Gala itu kaya Singa, tapi bisa berubah jadi kucing kalo lagi lapar."
"Meong..."
Mendengar suara pelan itu, Riri menolehkan kepalanya cepat. Tidak ada. Ia tidak menemukan keberadaan Kolor Ijo di dalam kamarnya. Lantas dari mana suara itu berasal?
"Meong..."
"Ih, kok suaranya makin deket? Apa itu suara hantu kucing ya?" heran Riri bertanya entah pada siapa.
"Masa ada kucing gembel?" Riri mengetukkan jari-jemarinya di atas dagu. "Atau kucing bolong kaya yang dulu pernah Gala ceritain ke Riri? Atau....kucing lampir?"
Karena semakin penasaran dengan suara kucing yang terus
terdengar, Riri memutuskan untuk membuka pintu menuju
balkon kamar.
Dengan langkah pelan dan sangat hati-hati, gadis itu mencoba memberanikan diri untuk mencari asal suara kucing yang ia dengar barusan.
"Meong..."
Riri terus berjalan hingga mendekati pagar besi yang ada di balkon.
"Tuh, kan gak ada!" Riri menggerutu kesal karena rasa penasarannya tak kunjung menemukan jawaban. "Lagi pula gak mungkin juga Kolor Ijo nyampe balkon ini tanpa lewat dalem kamar Riri. Kolor Ijo kan gak punya sayap."
Riri kembali mengetukkan jari telunjuknya di atas dagu.
Gadis itu juga tetap berdiri di pinggiran balkon. Mengabaikan hawa malam yang terasa begitu dingin hingga menembus tulang-tulangnya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan itu suara--AAAARRRGGGHHH ADA KEPALA TERBANG!!!" jerit Riri ketakutan. Riri sampai menutup wajahnya menggunakan kedua tangan saking takutnya
"Pergi! Pergi! Jangan ganggu Ri---hhhmmmmppppp!!!!"
"Sssttttt! Jangan teriak! Nanti Abang lo yang mirip tuyul itu denger!" larang Gala. Gala melepaskan bungkaman di mulut Riri. Lalu tangannya beralih memegang kedua pundak Riri. Mengguncang pelan pundak itu.
"Ini gue, sayang. Buka mata coba," pinta Gala lembut.
Perlahan-lahan, Riri memberanikan diri untuk membuka kedua matanya sesuai yang Gala perintahkan.
"Ini beneran Gala kan?" tanya Riri dengan wajah polos. Gadis
itu memerhatikan Gala dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Gala masih memakai pakaian yang tadi. Sisa-sisa luka akibat
ulah Dewa juga belum cowok itu bersihkan dan obati sama
sekali.
"Ini bukan kucing gembel, kucing bolong atau kucing lampir, kan?" tanyanya lagi untuk memastikan bahwa yang ada di depannya itu benar-benar Gala. Bukan manusia jelmaan setan.
"Hem, kebiasaan, oonnya kumat," gemas Gala. Gala ingin menoyor kepala Riri, tapi hal itu berhasil ia tahan. "Mata lo gak bisa liat? Mana ada kucing bolong dan segala macem kucing yang lo sebut tadi seganteng gue?!"
Riri menekuk wajahnya sebal. Padahal ia hanya memastikan, kenapa Gala jadi memarahi dirinya?
"Terbang pale lu jajar genjang! Emang gue burung?!"
geram Gala mengacak poni depan Riri hingga berantakan.
Riri merapikan poninya. "Tapi kata Ilham, Gala punya buru--"
"Stop!" sela Gala cepat. Gala tahu apa yang akan Riri katakan selanjutnya. Maka dari itu, Gala buru-buru mencegahnya. Ilham, temannya yang satu itu memang sesat. Sering mengajari Riri hal yang aneh-aneh. Celakanya, Riri yang polos dan gampang dipengaruhi itu, selalu menurut dengan ajaran Ilham.
"Ilham sesat, Lo ikutin mulu. Heran gue."
"Gue tadi manjat pake tangga yang ada di halaman belakang rumah lo. Diem-diem biar gak ketahuan sama Abang lo," jelasnya. "Kalo ketahuan gue ke sini lagi, makin ancur muka gue digebukin sama dia."
Mengangguk paham, Riri kembali bertanya. "Terus suara kucing tadi, itu suara--"
"Itu suara gue. Gue sengaja godain lo, sayang."
Gala mencubit pipi Riri gemas lalu mengambil kantong kresek berlogo indofebruari yang tadi ia taruh di lantai begitu saja. "Udah jangan dibahas lagi. Gue bawa es krim buat lo. Sesuai janji gue tadi siang."
Bukannya senang melihat Gala membawakan es krim
kesukaannya, wajah Riri justru tampak sedih.
__ADS_1
"Kenapa lo? Gak suka kalo gue ke sini?"
Riri menggeleng cepat. Riri buru-buru memberi penjelasan agar Gala tidak salah paham dengan maksudnya. "Bukan gitu, tapi Riri sedih. Wajah Gala babak belur kaya gini. Banyak luka, banyak darah. Pasti sakit, pasti perih. Tapi Gala masih nyempetin dateng ke Riri buat nepatin janji."
Alis Gala terangkat sebelah. Tatapan cowok itu terlihat begitu
dalam dan tulus. "Tau alasannya kenapa?"
Riri menggeleng tanda tidak tahu.
Senyum tipis tersungging di bibir berwarna merah muda alami milik Gala. "Karena gue sayang sama lo."
"Banget," lanjutnya begitu lirih. Entah Riri bisa mendengarnya atau tidak.
Riri mengikuti Gala yang sekarang mendudukkan diri di lantai balkon sambil bersandar di dinding menghadap ke arah langit.
"Sinian," suruh Gala menggeser duduknya agar Riri lebih mendekat. Gala tidak mau mereka duduk saling berjauhan.
Gala menatap Riri lekat lalu lalu berbisik pelan. "Meong..."
"eh, Geli!" Riri berusaha menyingkirkan kepala Gala yang mengendus-endus lehernya.
"Gala mau jadi kucing?" tanya Riri melihat tingkah Gala yang semakin menjadi-jadi. Cowok itu tidak mau menjauhkan
kepalanya dari pundak Riri sedikitpun. "Kucing garong?"
.....
.
*Bersambung*
.
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak ya?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo 😂🤣😁🥰❤️💯💖
Pesan buat Gala Arsenio Abraham?
Pesan buat Riri (Serina Kalina)?
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1
Spam datang pake emoji💖 :