CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
105.Gala Kenapa


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


Meskipun tahu Riri hanya bercanda, Gala tetap saja tidak suka. Tidak sekali dua kali Riri berbicara seperti itu dan juga memuji kegantengan Alan, hal itu membuat Gala ingin menyingkirkan Alan kalau tidak ingat Alan adalah sabahat baiknya.


"Bacot lo! Pakai jaket gue cepat!" Gala membuang asal jaket milik Riri dan mengganti dengan jaket miliknya.


Karena tidak telaten melihat Riri yang tampak kesusahan memakai jaket yang ia berikan, Gala langsung membantu Riri. Di tengah kegiatannya membantu Riri memasukkan salah satu tangan gadis itu ke lengan jaket, mata Gala tiba-tiba tidak fokus.


Tanpa jaket, tubuh Riri hanya terbalut kaos putih polos tanpa lengan. Hal itulah yang membuat fokus Gala pecah. Gala tetaplah cowok normal yang bisa terkena bisikan setan untuk melihat hal yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Namun sebisa mungkin Gala selalu menghilangkan bisikan kotor itu dari kepalanya.


"Shitt!"


"Gala kenapa?"


Gala menggeleng sebagai jawaban. Gala selalu mencoba untuk berpikir waras apapun keadaannya. Karena rasa sayang dan cintanya pada Riri tetap lebih besar daripada pikiran kotor yang ada di kepalanya.


"Wajah Gala merah, Gala kenapa?"


Lagi-lagi pertanyaan Riri itu membuat Gala meneguk ludahnya kasar. Sial, Riri menyadari perubahannya. "Gala demam?" Riri mengusap pipi Gala yang suhunya


lumayan panas. Tanpa Riri duga Gala justru langsung


menepis tangannya..


"Gak papa," jawab Gala belum berani menatap Riri.


Mencoba melupakan rasa penasarannya, Riri beralih memerhatikan jaket yang tengah ia kenakan. "Besar banget jaket Gala," keluh Riri


"Udah gak papa kebesaran. Emang lo nya aja yang kaya bocil," ucap Gala setelah memberanikan diri menatap dan memerhatikan tubuh Riri yang sekarang tenggelam karena jaketnya. "Udah pendek, kerempeng lagi."


"Ih! Riri gak ker--"


"Kak Gala? Kak Riri?" panggil Amora. "Kalian ngapain di sini?" Amora menatap keduanya bingung.


Baru saja keluar dari kamar mandi, kenapa dirinya langsung disuguhkan pemandangan buruk seperti ini? Jelas buruk bagi Amora karena gadis itu tidak suka melihat Gala dan Riri berduaan di tempat sepi seperti ini. Entah apa alasannya. Intinya Amora tidak suka.


"Bukan urusan lo," ketus Gala. "Peluk gue sayang. Masa dari tadi dia lihat ke arah perut gue terus sih? Genit banget jadi cewek."


Belum sempat Riri menjawab, Gala sudah lebih dulu mendekap tubuh Riri. Menenggelamkan tubuh mungil Riri ke dalam pelukannya.


Hal itu memang sengaja Gala lakukan agar Amora tidak bisa genit lagi padanya. Pura-pura polos, namun Gala sadar diam-diam gadis itu sibuk mengamati tubuh six pack Gala yang tercetak lumayan jelas dari balik kaos.


Amora berdeham. "Maaf Kak. Aku gak maksud kaya gitu. Cuma aku lagi perhatiin Kak Gala yang tiba-tiba gak pakai jaket dan.."


"Jaket gue dipake cewek gue. Karena jaket dia basah.


Gue gak mau cewek gue sakit. Kenapa? Lo mau protes kaya soal makanan tadi?"


Amora langsung diam. Amora tidak menyangka ternyata ucapan Gala akan sepedas itu. Ternyata benar apa kata Dio beberapa waktu yang lalu, Gala memang orang baik. Tapi Gala bukanlah tipe orang yang sabar. Jika Gala sudah menganggap seseorang itu sebagai pengganggu, maka tidak segan-segan berbagai ucapan dan umpatan pedas akan langsung keluar dari mulut cowok itu.

__ADS_1


Seperti sekarang contohnya, ucapan Gala sangat tidak enak untuk Amora dengar. Padahal dulu awal perkenalan mereka, menurut Amora, Gala sangat baik, ramah, lembut dan pengertian. Sangat berbanding terbalik dengan sikap Gala yang sekarang.


Apa sekarang ia dianggap pengganggu oleh Gala? Sampai-sampai Gala sangat sensi padanya? Ah, Amora berharap semoga tidak. Toh dirinya memang tidak pernah mengganggu Gala, kan? Justru Amora selalu bersikap baik pada Gala.


Amora menggelengkan kepala pelan. Senyuman paksa gadis itu tercetak lebar di wajah cantiknya. "Maaf Kak, aku balik dulu."


"Hus hus!" Gala tersenyum devil melihat Amora pergi sebelum ia usir. Kali ini atensi Gala beralih ke gadis mungil yang ada dalam dekapannya.


"Ngapain lo senyum-senyum? Kesurupan?"


Pipi Riri mengembung kesal. "Enak aja! Enggak!"


"Sana ih! Riri gak bisa napas!" usir Riri. Pasalnya sekarang Gala semakin mempererat pelukannya. Membuat Riri kesulitan untuk menghirup oksigen karena terhalang tubuh besar Gala.


Gala tersenyum miring. Tidak peduli jika nanti ada orang yang melihat mereka dalam posisi seperti ini. Meskipun mereka tengah berduaan di lorong kamar mandi, toh cuma berpelukan saja, kan? Tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Ralat, belum melakukan. Jadi untuk apa Gala khawatir atau takut?


"Lepas Galaaa!" pinta Riri frustasi. "Badan Gala gede kaya


genderuwo! Riri sesek napas tau!"


Lagi-lagi Gala tersenyum menyebalkan lalu pura-pura menampakkan wajah sedihnya. "Gak bisa lepas nih, Cil. Malah makin nempel. Gimana dong? Coba lo dulu yang lepasin pelukan kita."


"Susah," rengek Riri sambil menggoyangkan badan ke kanan


dan ke kiri. Jangankan lepas. Bergerak sedikit saja Riri sangat


kesusahan.


Gala terkekeh, melonggarkan pelukannya lalu mendaratkan beberapa kecupan ringan di puncak kepala Riri yang beraroma stroberi. "Gemesin banget bocil gue."


"Kok lo tadi diem aja sih waktu mata Amora genit? Dia lihatin perut gue tanpa kedip loh? Lo rela kalo gue diliatin kaya gitu sama cewek lain, hem?"


"Oh gak papa?" angguk Gala tersenyum jahil. "Kalo badan. gue sampe dipegang-pegang gimana? Atau dipeluk kaya gini? Tetep gak papa juga?"


"Riri bakar!" gas Riri.


"Baju gue lo bakar? Kaya waktu itu?"


Riri menggeleng membuat satu alis Gala terangkat bingung. Lantas apa yang dibakar?


"Terus?"


"Gala yang Riri bakar!"


Mata Gala melotot. "Enak aja lo, Cil!" toyornya pelan.


"Waktu itu Gala marah karena kolor Spongebob Gala Riri bakar. Jadi lain kali Gala aja yang Riri bakar," jawab Riri disertai kekehan pelan di akhir kalimat.


Mendadak wajah Riri berubah sendu kala mengingat sesuatu. "Tapi setelah ini kan kita kuliah, nanti Gala punya temen-temen baru. Pasti ada ceweknya juga. Gimana kalo ada cewek yang pel--"


"Gak. Gak bakal ada cewek yang berani peluk gue atau gue


peluk selain lo," ucap Gala lembut sambil menyelipkan anak


rambut Riri ke belakang telinga. "I'm yours."


Gala mengambil satu tangan Riri lalu menuntun tangan itu untuk menyentuh beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


"Ini." Gala membawa tangan mungil Riri ke kepala lalu


beralih ke dahi. "Ini."


"Ini." Gala membawa tangan Riri ke pipi.


"Ini." Gala membawa tangan Riri ke hidung.


"Ini." Gala membawa tangan Riri ke bibir.


"Ini." Gala membawa tangan Riri ke jakunnya yang bergerak naik turun.


"Ini." Gala membawa tangan Riri ke perut six pack cowok itu dan menuntun tangan Riri untuk mengusapnya pelan.


"Dan ini."


Sekarang Gala membawa tangan Riri untuk menyentuh dada bidangnya.


"Semua punya lo."


Gala melepaskan tangan Riri lalu berganti menangkup wajah Riri. Gala menatap Riri dalam-dalam.



....


.


Bersambung


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Dewa?


Pesan buat Danis?


Pesan buat Amora?


Pesan buat Nenda?


Pesan buat Choline?

__ADS_1


Pesan buat siapa aja?


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2