CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
106.Apa Hubungannya Sama Nikah


__ADS_3

Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.


.


Selamat membaca!


.


....


"Sama kaya lo. Semua yang ada di lo adalah punya gue. Jadi gak ada orang lain yang boleh lihat apalagi nyentuh lo sembarangan."


"Paham, hem?"


Riri mengangguk. Entah kenapa Riri terpesona dengan sikap Gala yang lembut seperti ini. Mata cowok itu terlihat begitu menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Sangat tulus.


"Mine."


Riri memejamkan matanya saat merasakan usapan lembut jari jempol Gala di atas bibirnya dengan posisi kepala cowok itu yang semakin mendekat.


"WOIE BOS! NGAPAIN LO BERDUAAN DI DEPAN KAMAR MANDI?!" teriak Ilham membuat kegiatan mereka terhenti. Ralat, gagal karena mereka memang belum melakukan apa-apa selain pelukan. "DITUNGGUIN ANAK-ANAK BOS! AYO JALAN LAGI!"


"****!" desis Gala mengepalkan tangannya.


"Lagi?"


Setelah meletakkan beberapa berkas di depan meja kerja Gala, Agam menatap Gala dengan satu alis terangkat. "Kenapa? Kurang?"


"Cek! Capek gue Bang, kerja mulu. Mana besok masuk pagi buat ospek."


"Ngeluh mulu," ejek Agam tersenyum miring. "Di depan cewek lo, lo berlagak jadi manusia paling kuat sejagat raya. Masa di belakang malah lemah kaya gini. Cupu."


"Lebay."


Agam terkekeh pelan. "Lo yang lebay. Dikasih pekerjaan kaya gini aja ngeluhnya gak karuan. Gitu sok-sokan mau nikah muda."


"Apa hubungannya sama nikah?"


"Setelah nikah tanggung jawab lo lebih berat dari semua pekerjaan yang setiap hari lo keluhin ini."


"Tapi kalo nikah kan boleh ngelakuin hal enak yang bisa ngilangin capeknya kerja."


"Mulut lo!"

__ADS_1


"Otak lo aja yang kotor," ujar Gala membela diri. "Hal enak maksud gue itu makan bareng, jalan-jalan bareng, tidur bareng, mandi bar-"


"Gala!"


Gala mendengus kasar. Ia lebih memilih menatap layar laptopnya daripada menatap ekspresi sepupunya yang menyebalkan dan sok galak itu. "Kaya udah pengalaman aja. Pacar aja gak punya. Sok-sokan banget nasehatin gue soal nikah muda jomblo karatan yang satu ini," gerutu Gala pelan namun tetap terdengar oleh Agam.


Agam berdecak kesal. Jika pembahasan Gala sudah sampai ke arah situ, jelas Agam kalah dan tidak bisa berkutik. Karena di umurnya yang menginjak dua puluh lima tahun, Agam memang belum mempunyai pasangan untuk ia ajak ke jenjang yang lebih serius.


"Besok pulang ospek langsung pulang ke apartemen. Gak usah mampir-mampir dulu. Ingat! Pekerjaan lo numpuk," pesan Agam yang hanya dibalas dehaman malas oleh Gala.


Gala memang tidak perlu pergi ke kantor setiap hari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hanya sesekali saja jika Agam memerintahkan. Jadi selama ini Gala memang mengerjakan semua pekerjaannya di apartemen. Work from home atau yang biasa disingkat menjadi WFH.


Awalnya, Agam ingin Gala pergi ke kantor setiap hari. Tentu dengan menyesuaikan jadwal kuliah cowok itu. Namun karena Agam merasa kasihan, selain karena jarak dari kampus dan kantor yang lumayan jauh, Agam juga tidak ingin membuat Gala merasa tertekan dan tersiksa saat mengemban pekerjaannya ini.


Agam ingin Gala melalui semua prosesnya dengan relax, agar Gala benar-benar bisa belajar bertanggung jawab untuk masa depan perusahaan ayahnya kelak. Intinya Agam ingin mengajarkan Gala berproses secara pelan-pelan. Pelan namun pasti.


"Kenapa?" tanya Agam saat Gala terus menatapnya dalam diam.


"Kok lo belum balik? Biasanya habis ngomelin gue juga langsung minggat," jawab Gala seolah mengusir Agam secara halus.


Sadar dirinya diusir, Agam mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari saku jasnya. Detik berikutnya Agam meletakkan amplop itu di depan Gala tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal itu tentu saja membuat Gala bingung.


"Apaan?"


Bukan jawaban, melainkan hanya helaan napas panjang dari Agam yang Gala dapatkan. Agam terlihat ingin menyampaikan sesuatu, namun ragu.


"Itu surat yang sempat lo cari di kamar bokap lo beberapa waktu yang lalu. Surat yang ditulis nyokap kandung lo sebelum dia pergi ninggalin lo. Gue nemuin surat itu di laci meja kerjanya Om Abraham."


Gala tetap diam. Dirinya tidak salah dengar, kan?


"Kalo lo gak butuh banget, jangan minum obat itu terlalu sering," pesan Agam. "Jaga hubungan lo sama Riri dengan baik biar lo tetap dalam keadaan waras."


Sepeninggal Agam, Gala masih bergeming di tempatnya. Ia hanya menatap amplop coklat itu dengan berbagai macam tatapan. Takut, khawatir, sedih, senang, lega, semua campur aduk menjadi satu sama seperti perasaannya sekarang.


Gala memejamkan matanya yang sedikit berkaca-kaca. Entahlah, Gala tiba-tiba ingin menangis sekencang mungkin di pelukan Riri. Satu-satunya orang yang ia butuhkan saat dirinya sedang tidak baik-baik saja memang hanya Riri.


Itulah kenapa Gala mempunyai kebiasaan melampiaskan emosinya dengan membanting barang-barang di sekitarnya ketika keadaan tidak baik-baik saja-nya itu di sebabkan oleh Riri. Karena Gala tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi selain pada Riri.


"Gue butuh pelukan bocil," gumam Gala sambil menatap foto cantik Riri yang ia pajang di meja kerjanya sebagai penyemangat.


Namun Gala selalu menyembunyikan foto itu ketika Riri datang. Karena apa lagi kalau bukan karena gengsi Gala yang setinggi langit. Gala gengsi jika Riri tahu, ternyata selama ini dirinyalah yang begitu bergantung dengan gadis itu. Bahkan ketergantungannya lebih dari ketergantungan Riri pada dirinya. Gala benar-benar membutuhkan Riri untuk hidupnya. Untuk kewarasannya.


Ting

__ADS_1


Bibir Gala membentuk senyuman lebar kala mendengar bunyi notifikasi di ponselnya. Dengan percaya diri, Gala mengira itu adalah notifikasi pesan dari Riri. Detik berikutnya senyum Gala pudar saat mengetahui fakta bahwa dugaannya salah.


Amora


Kak Gala ada di apartemen, kan? Tadi aku habis belanja di minimarket deket apartemen Kak Gala. Terus kepikiran buat mampir ngasih minuman kesukaan Kak Gala sebagai permintaan maaf soal sikap aku kemarin.


Ichitan brown sugar milk, Kak Gala suka banget sama minuman itu, kan? Waktu sunmori kemarin, aku lihat Kak Gala minum minuman itu sampai berkali-kali.


Aku sekarang ada di depan pintu unit apartemen Kak Gala hehe.


....


.


Bersambung


.


Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian


depresot apa enggak?


Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat Ilham?


Pesan buat Akbar?


Pesan buat Alan?


Pesan buat Dewa?


Pesan buat Danis?


Pesan buat Amora?


Pesan buat Nenda?


Pesan buat Choline?

__ADS_1


Pesan buat siapa aja?


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.


__ADS_2