
FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?
Vote Dan Komen lebih banyak dari
Chapter sebelumnya, baru update yađź’–
Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.
.
.
******
"SEKALI GUE BILANG ENGGAK! YA TETEP ENGGAK!"
Gala menyugar rambutnya ke belakang. Cowok dengan seragam dan dasi berantakan itu menoleh ke samping.
"Pakai sabuk pengamanmu!"
Riri? Jangan tanyakan lagi. Sejak Gala melarangnya ikut pergi bersama Choline dan Nenda tadi, rasanya Riri ingin sekali memukul-mukul wajah Gala.
"Ck!" Gala berdecak. Ia melepas sabuk pengamannya lalu bergerak untuk memasangkan Riri sabuk pengaman.
"Gue larang lo, bukan tanpa alasan, Ri. Gue tuh gak mau lo kenapa-kenapa. Gue khawatir," ucap Gala setelah sabuk pengaman Riri terpasang sempurna. "Musuh gue itu banyak. Ada di mana-mana."
"Tapi sama Nen Nen, Choli, Riri gak bakal kenapa-kenapa ih!" Bantah Riri masih ngeyel dan keras kepala untuk mempertahankan keinginannya.
"Ck! Lo kenapa ngeyel banget sih?!" Decak Gala frustasi. "Lagian mau ngapain lo ke kafe-kafe kaya gitu? Mau foto-foto? Mau ngejamet?"
Riri memukul lengan Gala. "Ihhh!!! Gala tuh yang jamet!"
"Sekali gue bilang enggak ya enggak, Ri!" Tekan Gala. "Kalo lo masih kaya gini terus, biar aja gue cepetin pernikahan kita! Biar kurung lo dua puluh empat jam!" gue bisa Gala melirik Riri lalu tersenyum miring. "Mampus! Mampus lo!"
Bibir bawah Riri berkedut kesal. "Riri tidak ingin
segera menikah!"
"Kenapa?!" Gala terlihat tidak suka mendengar ucapan Riri barusan. Seolah-olah gadis itu menolaknya secara terang-terangan. Padahal selama ini, Gala lah yang selalu menolak gadis-gadis cantik dan seksi hanya demi Riri. Tapi apa? Ini Riri justru ingin membuangnya.
"Kata bang Dewa kalo nikah cepet matinya juga cepet!"
Gala melongo tidak paham. "Sesat! Abang lo itu boong! Gimana konsepnya nikah cepet bisa bikin mati cepet, hah?!"
"Soalnya kalo udah nikah, pasti punya anak. Kalo udah punya anak nanti bisa punya cucu. Nah, kalo udah punya cucu pasti jadi nenek-nenek peyot. Kalo udah jadi nenek peyot, matinya gampang. Riri gak mau ih!"
Gala menyentil jidat Riri yang tertutup poni. "Nenek peyot! Nenek peyot! Abang lo tuh mukanya penyot!"
"Ngomong sembarangan," gerutu Gala merutuki Dewa. Lihat saja kalau nanti ia bertemu dengan cowok sialan itu, Gala akan memberinya pelajaran agar Dewa tidak mempengaruhi hal-hal yang buruk pada Riri.
"A*j**g emang si Dewa!" Umpat Gala.
"Gala, bang Dewa itu manusia bukan a*j**g," koreksi Riri dengan wajah polos dan mata bulat yang tidak berhenti mengerjap.
"Serah lo."
Gala lelah, lebih baik ia iyakan saja. Agar lebih cepat selesai.
"Gala..." rengek Riri.
__ADS_1
"Apa?!" Mata Gala kembali melotot tajam. "Mau ngerayu gue lagi, hah?! Gak! Gue tetep gak bakal izinin lo pergi!"
"Gala! Riri pengen ikut!" Riri menendang-nendang kaki Gala. Lalu dengan sengaja menginjaknya.
Meringis pelan. Gala mencengkram kuat kemudinya. Ia berusaha untuk tidak terpancing emosi. Gala tidak mau membuat Riri menangis.
"Ri, lo lupa pesen bunda?" Tanya Gala sedikit merendahkan nada suaranya.
Riri menunduk. Menghentikan tendangannya pada kaki Gala. Gadis itu menautkan jari-jarinya dengan mata berkaca-kaca. Air matanya sudah siap tumpah kapan saja.
"Bukannya bunda minta lo buat selalu nurut sama gue? Kenapa lo bandel terus?"
"Maaf hiks..." Riri menangis. Ia menangis bukan karena tidak Gala izinkan pergi bersama Choline dan Nenda. Melainkan menangis karena merasa bersalah. Gala benar, seharusnya ia tidak boleh membantah ucapan Gala. Agar di rumah barunya sana, bundanya merasa senang karena Riri menjadi anak yang penurut.
"Jangan nangis." Gala menghapus air mata Riri menggunakan jarinya. "Sini peluk dulu."
Setelah sabuk pengamannya terlepas. Riri
segera menubrukkan kepalanya ke dada bidang
Gala. "Maafin Riri hiks..."
"Udah gak papa, sayang," tenang Gala mengusap-usap kepala Riri lembut. "Makanya nurut sama gue, oke?"
Riri mengangguk. Lebih menenggelamkan kepalanya di dada bidang Gala yang selalu berhasil membuatnya nyaman.
"Habis ini mampir ke tante Anita bentar, ya?" Ajak Gala.
Riri mengangkat kepalanya. "Kata Gala kemaren om Abraham sama tante Anita ke Malaysia. Udah pulang?"
"Udah tadi pagi. Makanya gue diminta buat ajak lo ke sana. Dibawain oleh-oleh banyak sama tante Anita."
"Apakah kamu benar-benar menginginkan suvenir?"
"Mau!" Seru Riri cepat.
"Cium dulu," titah Gala menyodorkan pipinya ke hadapan Riri.
Riri tampak cemberut. Namun beberapa detik berikutnya saat Riri hendak mencium pipi Gala, tiba-tiba suara gedoran dari luar membuat keduanya terlonjak kaget.
Riri mengurungkan niatnya. Lalu celingukan mencari sumber suara.
"Woi, bos! Pacaran mulu, elah. Ini mobil gue gak bisa keluar gara-gara ketahan sama mobil lo!" Teriak Akbar dari luar.
Gala menggeram marah saat tahu Akbar lah orang yang membuat aksi modusnya gagal. "Akbar sialan! Gue gak jadi dapet jatah anjing!"
******
"Mama kangen sama Riri, Gal. Kamu bisa ajak Riri ke rumah gak? Kemaren kamu sama Riri cuma mampir bentar banget."
"Kapan?"
"Nanti malem, bisa gak?"
"Kalo nanti malem gak bisa."
"Oh gak bisa ya, Gal," balas Anita sedikit merasa kecewa. "Ya udah deh gak papa. Lain kali aja kalo gitu."
"Maaf ya mama ganggu kamu."
__ADS_1
"Gak papa."
"Kamu ada di mana sekarang? Di luar ya?"
"Bisa."
"Jangan pulang terlalu malem ya. Jaga kesehatan kamu. Jangan sering begadang. Vitamin yang mama kasih diminum terus kan?"
"Udah."
"Ya udah kalo gitu. Mama mau packing soalnya besok berangkat pagi banget."
"Berapa hari kalian di Singapur?"
"Dua hari mungkin," jawab Anita. "Kamu gak ada titip apa-apa gitu? Oh iya, tanya ke Riri juga mau dibawain oleh-oleh apa."
"Gak usah, yang kemaren udah kebanyakan."
"Gadis!"
Gala menoleh pada Ilham. Lalu memberi cowok itu isyarat agar menunggunya sebentar lagi.
"Gala tutup dulu, ya?" Tanya Gala sopan.
"Oh iya, Gal. Inget pesen mama tadi, ya."
"Bisa."
Tut. Gala memutuskan sambungan telepon Anita.
"Kenapa?" Gala berjalan menghampiri Ilham, Alan dan Akbar yang duduk santai di teras markas Drax. Saat tadi ada panggilan masuk dari Anita, Gala memang sengaja pergi agak jauh untuk mengangkatnya.
"Bucin mulu," cibir Akbar.
"Ck, bukan Riri."
"Terus siapa?" Bingung Akbar. "Selingkuhan lo, ya?"
"Lo punya selingkuhan bos?!" Tanya Ilham terkejut. "Wah parah, kalo sampe lo selingkuh, gue bakal pecat lo jadi leader Drax. Gue kan SriGala garis keras."
"Gue juga SriGala lovers," angguk Akbar tak mau kalah. Sementara Alan, si cowok pendiam itu tidak mengatakan apa-apa selain mengangguk ikut-ikutan.
******
Sorry bgt kalo chapter ini gak ngefeel Aku bingung bgtt harus gimana astogeeee
Btw kalo kolor ijo dijodohin sama Joko, anaknya jadi apa yaa??
Kiww racunin temen kalian buat baca cerita ini, biar makin rameee
Lanjut gak nih?
Pesan buat Gala?
Pesan buat Dewa Danis?
Atau untuk siapa saja, untuk penulis juga bisa :
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cpt juga up nya.
__ADS_1