
******
"Loh? Riri kenapa Gal?" Tanya Vina panik melihat Gala mengendong Riri ala bridal style.
"Kakinya keseleo Tante," jawab Gala.
"Kamu bawa ke kamar dulu ya, Tante ambilin kompresan."
Gala mengangguk. Cowok itu langsung membawan Riri
ke kamar gadis itu yang terletak di lantai dua.
"Masih sakit?" Tanya Gala menurunkan Riri di atas tempat tidur.
"Masih."
Gala mengamati kaki Riri dengan saksama. "Ini kayanya juga efek sepatu lo. Sepatu yang lo pake kekecilan, makanya jari-jari kaki lo merah gini. Kenapa masih dipake, hem?"
Riri menunduk. Riri tahu, sepatu yang ia pakai tadi memang sudah kekecilan. Tapi ia sengaja tetap memakainya karena alasan tertentu.
"Itu satu-satunya sepatu dari Bunda yang masih bisa Riri pake. Yang lainnya udah rusak dan gak muat," jujur Riri setelah terdiam cukup lama.
Gala menghela napas pelan sebelum akhirnya mendekat dan mengusap-usap kepala Riri. "Disimpan aja ya. Kalo lo maksain buat dipake, nanti kaki lo luka lagi. Bunda pasti gak suka liat lo terluka."
Riri mengangguk. "Iya, Riri simpan aja. Gak dipake lagi."
"Pinter." Senyum Gala mengembang.
Tak lama kemudian, Vina, wanita itu datang membawa baskom kecil dan kompresan air dingin.
"Biar saya aja Tante," kata Gala sopan. Gala mengambil alih apa yang dibawa Vina.
Vina mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah, tolong kompresin ya, Gal. Tante mau buatin minuman buat kalian."
"Eh, gak.."
"Udah gak papa," sela Vina cepat. Vina menatap ke arah Riri lembut. "Biar dikompresin Gala ya, sayang. Mama ke dapur dulu."
"Iya, Ma."
"Ngapain dikompres pake air dingin?" Tanya Riri pada Gala yang sibuk mengompres kakinya.
"Biar nyerinya mendingan." Gala menatap Riri mengejek. "Katanya mau jadi dokter? Masa kaya gini aja gak tau?"
"Gak jadi. Riri gak mau jadi dokter. Takut."
"Bagus."
"Kok bagus?"
"Ya kan gue maunya kita kuliah satu kampus dan satu jurusan, biar bisa satu kelas. Gue gak minat sama sekali buat jadi dokter."
"Gala, kita kuliah di mana?"
Gala menghentikan pergerakannya. Cowok itu terdiam cukup lama sampai akhirnya panggilan dari Riri membuat lamunannya buyar.
"Gala?"
__ADS_1
"Em, masih sakit banget?"
"Dikit." Riri bingung melihat ekspresi Gala yang tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Mata Riri memincing penuh curiga. "Gala kenapa?"
"Gak papa," geleng Gala. "Oh iya, ini buat lo."
Gala memberikan satu gelang hitam dengan liontin
Berbentuk kura-kura di tengahnya. Gelang yang tadi malam
ia buat sendiri hingga dirinya tidak tidur.
"Suka gak?"
"Suka," jawab Riri menerima gelang pemberian Gala.
"Sorry jelek, gak sebagus dan gak semahal kalung yang
dibeliin Danis kemarin."
Benar, kemarin Riri memang bercerita pada Gala kalau Danis memberinya sebuah kalung. Namun karena Riri takut Gala marah, tadi pagi sebelum Riri berangkat ke apartemen Gala, Riri sudah melepas kalung itu.
"Gue bisa aja beliin lo barang mahal dan mewah. Tapi gue yakin, yang buat lo bahagia bukan barang kaya gitu. Makanya gue kasih gelang ini." Gala tersenyum tipis melihat Riri sedang mencoba memakai gelang pemberiannya. "Lo sendiri kan yang bilang kalo kura-kura itu melambangkan otak lo yang lemot?"
Riri tertawa pelan. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Gala. "Iya."
"Gelang kita sama, bedanya punya gue bukan kura-kura, tapi singa."
"Bagus!" Puji Riri..
Tangan Gala bergerak untuk mengacak rambut Riri gemas. "Biarpun lemot, lo bakal tetep jadi cewek yang paling gue sayang di bumi ini. Gak ada yang lain."
"Bahagia gue itu sederhana. Liat lo ada di samping gue dan baik-baik aja, itu udah lebih dari cukup."
Gala merentangkan kedua tangannya ke hadapan Riri.
"Sini peluk gue dulu."
Tanpa ragu, Riri langsung menghambur ke dalam pelukan Gala. Menikmati setiap usapan lembut yang Gala berikan di kepala hingga punggungnya.
"Gimanapun kisah akhirnya nanti, gue bakal terima, dengan syarat paten lo harus lebih bahagia dari hari ini."
Ting!
Gala melepaskan pelukan mereka lalu melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.
Gala berdecak pelan. "Gue pulang dulu ya."
"Tap
Cup
Gala mengusap-usap pipi Riri setelah memberi kecupan ringan di kening gadis itu. "Nanti malem gue ke sini lagi, sayang."
******
__ADS_1
"ARRRRGGGHHHHH!!!!"
Gala mengacak rambutnya frustasi mengingat ucapan Agam tadi sore.
"Semua keputusan ada di tangan lo. Gue cuma ngasih saran
dan pilihan." Mendudukkan diri di tepi ranjang, Gala menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Saat ini, ia sedang dilanda rasa dilema. Tidak tahu harus mengambil keputusan yang seperti apa.
"Kenapa sih ribet banget?! Padahal ini simpel. Bang Agam aja yang ngebuat semua jadi ribet, hem!"
"Astaga, gue ada janji sama bocil buat ke rumahnya malem
ini. Kalo gak gue tepatin, bisa jadi kuda lumping tuh bocil."
Gala segera bersiap-siap kala mengingat janjinya pada Riri untuk datang ke rumah gadis itu malam ini. Tak banyak yang Gala lakukan, ia hanya mandi, mengganti pakaian, lalu menyambar kunci mobilnya.
"Mau kemana?"
Gala berhenti. Ia menatap terkejut pada Agam yang tiba-tiba berdiri di ruang tengah. Entah sejak kapan sepupunya itu ada di sana lagi setelah tadi pamit buru-buru pulang karena ada keperluan lain. Yang jelas setelah Gala keluar dari kamar, Agam sudah ada. Berdiri dengan tangan bersidekap dada.
"Ngapelin cewek gue lah. Emangnya lo, udah bangkotan tapi gak punya pacar."
Agam mendengus kasar. "Gue masih 25 tahun. Bukan 65 Tahun."
"Sama aja. Muka lo kaya kakek-kakek peyot."
Agam berdecak. Menghadapi Gala memang membutuhkan kesabaran yang ekstra. Cowok itu pandai sekali kalau disuruh berucap kata-kata pedas.
"Bentar." Agam menarik lengan Gala karena cowok itu ingin pergi begitu saja. "Gue belum selesai bicara. Kebiasaan main pergi aja. Gak sopan."
Gala mengibaskan gengaman tangan Agam sembari
menatap Agam jengah. "Apa lagi, Bang?!"
"Gue mau ngajak lo makan malem di rumah.
Bokap sama nyokap mau bicara sama lo."
Gala terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
"Sampaikan maaf ke Om sama Tante, malem ini gue gak bisa."
"Kenapa?"
"Lo tul-, Bang? Kan tadi gue bilang mau ke cewek gue.
Lagian salah lo sendiri, ngajak dadakan. Lo pikir gue gak ada
kepentingan lain apa."
"Oke kalo gak bisa sekarang," angguk Agam mengalah. Agam sedang malas berdebat dengan Gala yang keras kepala. "Besok malem. Gimana?"
"Ya," Gala mengangguk malas. "Kalo ingat tapi."
"Gue serius, Gal."
__ADS_1