
Selamat siang bestie, semoga harimu siang terus
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepet memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
"Kebanyakan mikir Nenda, makanya pikun," ejek Akbar.
Ilham menjawab dengan wajah songong. "Mumpung masih muda. Mending gue mikirin Nenda daripada mikirin utang yang gak lunas-lunas itu."
"Gak usah nyindir anjir, gue ada utang mie goreng sama nasi
sampe lima belas ribu di Mbok."
"Dibayar," sahut Alan menasehati Akbar.
Akbar terkekeh pelan. "Iye Lan, gue bayar. Meskipun gue gak sekaya lo, gue tetep bisa bayar utang kok."
Ilham sedikit mendekatkan dirinya pada Alan dan Akbar. Lalu berbisik, "Sumpah ini, gue kepikiran mulu. Menurut kalian, feeling aja dah, nyokap kandungnya Gala masih hidup gak ya? Gue takut kenyataannya nanti gak sesuai sama ekspektasi Gala."
"Sembarang lo, Ham. Ya kita doain aja, semoga semua sesuai harapan Gala. Semoga nanti Gala bisa nemuin nyokap kandungnya dalam keadaan sehat walfiat," ucap Akbar.
"Gue juga maunya gitu, Bar. Tapi untuk sekarang, gak ada yang tahu. Di mana dan gimana keadaan nyokap kandung Gala. Gue takutnya, setelah Gala tau kenyataan yang gak sesuai sama harapannya, Gala bakal merasa lebih kecewa. Lo bayangin aja dah, dia udah kehilangan Om Abraham sama Tante Anita, masa kehilangan nyokap kandungnya juga."
Alan menengahi perdebatan antara Akbar dan Ilham. Bisa runyam masalahnya kalau sampai Gala mendengar. "Gak usah dibahas lagi kalo Gala belum cerita apa-apa ke kita. Nanti kalo Gala tau kita bahas soal itu diem-diem, yang ada Gala bakal merasa--"
"Merasa apa?"
Ketiga cowok itu menoleh bersamaan saat Gala tiba-tiba masuk ke dalam markas dan sekarang berdiri di hadapan mereka.
"Duduk sini, Gal. Gue--"
"Kalian tadi nyebut-nyebut nama gue. Kenapa? Ada apa?" sela Gala membuat bibir Ilham mengatup rapat.
"Gak ada apa-apa," jawab Alan pada akhirnya karena Akbar dan Ilham tetap bungkam. Tidak berani menjawab. "Lo gak mau berbagi cerita atau masalah lo ke kita, Gal?"
"Siapa tau kita bisa bantu," lanjutnya.
Menghela napas, Gala duduk di samping Akbar. Sebenarnya, Gala dan Alan itu sikapnya sebelas, dua belas. Sama-sama lebih suka memendam semuanya sendiri. Bedanya Gala tidak se-tertutup Alan. Ada kalanya Gala masih mau menceritakan apa yang terjadi tanpa harus dipaksa terlebih dahulu.
__ADS_1
"Gue habis ribut sama Riri. Tadi siang gue gak sengaja keceplosan kata-kata yang gak pantes waktu dia nge-chat gue."
"Kaya gimana?" tanya Akbar.
Gala menatap mereka bertiga bergantian. "Gue ngata-ngatain dia kasar banget. Gue bilang dia murahan, cengeng, manja, dan masih banyak lagi. Gue juga sempet bilang kalo gue nyesel punya hubungan sama dia."
"ANJIR!!! GAL LO SERIUS??!!! PARAH LO GAL!!!" heboh Ilham.
Alan menatap Gala lalu bertanya tenang. Berbeda dengan Ilham yang selalu hiperbola. "Terus gimana respon Riri?"
Gala mengangkat kedua bahu. "Dia pasrah aja. Terus off sampe sekarang."
"Gila sih, kali ini lo parah Gal. Kenapa bisa sampai kaya gitu? Semarah apapun lo sama Riri, kayanya dulu lo gak pernah ngatain sampai sekasar itu."
Ilham menyahut. "Unpren kita Gal. Masa bocil gue lo sakitin. Gak terima gu--" ucapan Ilham terhenti kala melihat Gala menatap dirinya penuh ancaman.
"Iye-iye bocil lo, bukan bocil gue," koreksi Ilham. "Jangan salah paham, Gal. Maksudnya, Riri itu udah gue anggap kaya adik gue sendiri. Gak lebih lah."
Gala mengusap wajahnya kasar. Menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tanganya, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menghela napas kasar. "Gue bener-bener kelepasan. Reflek aja."
Alan memincing curiga. "Tadi lo mabuk?"
Gala mengangguk pelan. "Dikit, gue masih sadar waktu nge-chat dia. Cuma gak tau kenapa ketikan gue bisa sejahat itu."
Gala menoleh cepat pada Ilham. Kenapa cowok itu bisa tahu? Padahal dirinya belum bercerita mengenai masalah Amora. "Tau dari mana?"
"Dio yang bilang. Tadi gue sempet ketemu sama Dio. Kata Dio, kemaren yang nolongin Amora juga lo," jelas Ilham. "Jangan-jangan, awal mula pertengkaran lo sama Riri tadi, gara-gara Amora?"
"Enggak," geleng Gala. "Danis."
"Dia ngapain?" kali ini Akbar yang bertanya karena kepo. "Bisa-bisanya sumber masalah dari calon ipar sendiri, Gal. Jangan bilang lo cemburu sama kedekatan mereka."
"Riri make kalung pemberian Danis tapi gak mau make gelang pemberian gue."
"Itu doang Gal?!" shock Ilham tidak habis pikir. Bisa-bisanya Gala semarah itu pada Riri, hanya karena masalah yang sebenarnya tidak terlalu besar.
"Tuh kan," geleng Akbar heran. Akbar menepuk-nepuk pundak Gala. "Gal, Danis itu Abangnya Riri. Mereka satu Ayah, gak seharusnya hal kaya gitu lo permasalahin."
Gala melemparkan tatapan malas pada Ilham dan Akbar. "Kalian gak tau posisi gue. Diem aja."
Gala menghela napas. Ia mengingat malam itu, di mana dirinya bergadang hanya demi membuatkan gelang berliontin kura-kura untuk Riri dan sekarang, Riri tidak mau
__ADS_1
memakainya. "Gelangnya emang murahan. Tapi gue buat
sendiri, pake hati. Taunya Riri gak ngehargain."
"Ya udah sih, Gal. Tinggal lo suruh Riri make gelangnya. Gak usah marah-marah gitu, apa susahnya?" heran Ilham. "Kesalahan lo fatal kali ini. Riri pasti sakit hati. Apalagi kalo sampe keluarga dia tahu. Bisa makin runyam hubungan lo sama Riri."
"Lo gak akan pernah tau rasanya jadi gue karena lo gak pernah ada di posisi gue, Ham. Selama ini kalian juga tau, siapa orang yang selalu ada buat Riri sebelum Riri punya keluarga kaya sekarang dan setelah dia hidup dengan keluarga yang lengkap, gue merasa seakan dibuang."
Alan menyahut setelah menjadi pendengar saja sejak tadi.
"Itu perasaan lo aja. Riri gak mungkin kaya gitu."
"Buktinya kaya gitu," balas Gala membela diri. "Gue kesel banget sama Danis. Kalo dia bukan Abangnya Riri, udah gue habisin dia."
"Hem," decak Akbar. "Main habis-habisin aja lo, Gal. Anak orang tuh. Tobat sono, kita udah mau kuliah."
....
Bersambung
Huhuuuu rumitttt bestieee seperti cintaku pada Alan yang terhalang oleh dimensi yang berbedaโค๏ธ๐๐๐๐๐๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฏ
Pesan buat Riri?
Pesan buat Gala?
Pesan Buat Alan?
Pesan Buat Akhbar?
Pesan buat Ilham?
Pesan buat Asti, bunda pantinya Amora?
Pesan buat siapa aja?
Penulis buat author juga boleh:
-
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.
__ADS_1
Spam datang pake emoji :