CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Diskor berhari-hari


__ADS_3

FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?


Vote Dan Komen lebih banyak dari


Chapter sebelumnya, baru update yaπŸ’–


Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.


.


******


.


Bukannya menjawab, Gala justru mengalihkan pembicaraan dengan topik yang lain.


"Riri sama Ilham. Riri gak bolos. Tadi Ilham yang bantu Riri izin ke guru."


Gala menghela napas. Cowok itu berjalan


masuk ke dalam kamar untuk menyalakan


lampu agar kamarnya tidak gelap dan Riri


tidak takut.


"Masuk."


BRAKK


Gala menutup pintunya sedikit kencang hingga membuat Riri berjingkat kaget.


Pandangan mata Riri langsung terfokus pada keadaan kamar Gala yang begitu berantakan. Barang-barang yang hancur berserakan di mana-mana. Tidak rapi dan bersih seperti biasanya.


"Gala, kenapa kamar Gala jadi kaya gini?"


Tanya Riri setelah memberanikan diri untuk bertanya.


"Gara-gara lo."


Riri menatap Gala bingung. "Gara-gara Riri?"


Tanyanya tidak mengerti.


Gala duduk di tepi tempat tidur. "Gak usah bingung. Muka lo makin jelek kalo kaya gitu." Bibir bawah Riri mencebik kesal. Perlahan rasa takutnya tadi berangsur menghilang. "Gala marah sama Riri, ya?"


"Banget. Sebenarnya sekarang pun gue masih pengen marah-marah. Pengen banting-banting barang lagi buat ngelampiasin kemarahan gue. Tapi karena lihat lo, gue berubah jadi pengen ngelampiasin kemarahan gue ke lo aja."


"Maaf," bajunya. ucap Riri pelan sambil meremas ujung


"Sini peluk gue," suruh Gala. "Biar gue bisa tenang, gak marah-marah lagi."


Karena Riri tidak mau melihat Gala marah-marah lagi. Riri segera berjalan mendekati Gala. Menghambur ke dalam pelukan hangat cowok itu.


"Maafin Riri hiks. Gala jangan marah-marah. Riri takut."


Gala mengeratkan pelukannya. "Jangan nangis. Muka lo mirip Ilham kalo nangis terus."

__ADS_1


"Gak mau huaaa..."


"Riri gak mau mirip Ilham!"


Tangan Gala mengusap pipi Riri yang basah oleh air mata setelah membubuhi seluruh wajah Riri dengan beberapa kecupan ringan. "Makanya jangan nangis. Udah diem."


"Riri gak mau mirip Ilham." Mata berkaca-kaca Riri menatap Gala intens.


"Iya enggak. Cup-cup jangan nangis lagi." Gala menggoyang-goyangkan tubuh Riri ke kanan dan ke kiri saking gemasnya.


Sekitar sepuluh menit. Keduanya hanya saling diam menikmati pelukan. Sampai akhirnya tatapan mata Riri jatuh pada sebuah kotak kecil di atas nakas yang berisi pil berwarna putih. "Gala, itu apa?"


Gala mengikuti arah yang Riri tunjuk. Cowok itu menelan ludahnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Riri. "I-itu vitamin. Iya vitamin."


Selesai melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Gala segera mencari keberadaan Riri di barisan kelasnya, 12 IPA 3, yang mulai membubarkan diri.


Awalnya Gala berjalan sambil bersiul santai. Namun rahangnya tiba-tiba mengeras dan ekspresinya berubah datar begitu melihat Riri tertawa. Bukan, Gala tidak marah karena Riri tertawa bahagia seperti sekarang. Gala marah, karena tahu siapa orang yang tertawa bersama Riri saat ini.


Cowok itu, ingin rasanya Gala menghajarnya habis-habisan. Kalau bisa hingga tewas sekalipun.


"Gak usah ketawa!" Larang Gala menyeret Riri mendekat ke arahnya.


"G-Gala?" Cicit Riri bagitu pelan. Hingga suaranya hampir tidak terdengar.


"Ngapain lo ketawa-ketawa sama cewek gue?" Tanya Gala baik-baik. Meskipun nadanya begitu ngegas. Gala masih cukup waras untuk tidak menghajar Rafa di tengah lapangan seperti ini. Bisa-bisa dirinya masuk diskors berhari-hari.


Rafa tampak santai. Sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. "Gue cuma ngobrol sama Riri dan kebetulan emang ada yang lucu. Jadi kita ketawa. Salah?"


Gala terkekeh sinis lalu berdecih pelan. Ternyata masih tidak sadar juga cowok yang satu itu.


"Di sini aja!" Desis Gala pelan. Membuat Riri diam menurut. Riri sadar, saat ini Gala sedang ada dalam mode iblis nya. Jadi Riri tidak boleh melakukan kesalahan yang semakin membuat Gala murka.


"Lo masih gak sadar apa kesalahan lo?" Tanya Gala pada Rafa.


Rafa menggeleng pelan. "Gue gak ada salah sama lo."


Detik berikutnya Rafa melangkahkan kakinya, berniat meninggalkan lapangan. Namun tiba-tiba Gala menahan tubuhnya dengan menabrak pundak cowok itu.


"Temui gue di gudang belakang setelah bel pulang,"


bisik Gala pelan. Sengaja pelan, karena Gala tidak mau Riri mendengarnya.


Rafa hanya mengedikkan bahu tanpa melontarkan sepatah katapun untuk menjawab ucapan Gala.


"Gala, sakiittt..." Cicit Riri setelah kepergian Rafa.


Mata elang Gala mengikuti arah pandang Riri. Saat sadar tangannya mencengkram tangan Riri terlalu kuat, hingga membuat gadis itu kesakitan. Gala segera mengendurkan cengkeraman tangannya. Tatapan Gala juga langsung melembut.


"Sakit banget?" Tanya Gala sambil meneliti pergelangan tangan Riri yang agak memerah karena ulahnya.


Riri menggeleng pelan. "Dikit." Gala membawa tangan Riri ke depan bibirnya. Ia kecup pergelangan tangan Riri berkali-kali hingga menimbulkan bunyi kecupan.


*CUP


CUP


CUP

__ADS_1


CUP*


"Maaf," ucap Gala tulus. Ia merasa bersalah karena telah membuat Riri kesakitan. "Makanya jangan bandel."


Sebenarnya, mau semarah apapun Gala. Pada akhirnya cowok itu akan tetap luluh jika sudah melihat Riri kesakitan. Riri itu ibarat kelemahan bagi Gala. Rasanya ia lebih rela tubuhnya sendiri babak belur daripada melihat Riri kesakitan meski hanya seujung kuku. Ya, sebucin itu seorang Gala Arsenio Abraham pada Riri.


Riri menunduk, sedikit merasa bersalah karena


pagi-pagi sudah mencari pekara dan menyulut


emosi Gala. "Gala, maaf. Tadi Rafa cuma ngajakin Riri ngobrol. Gak enak kalo Riri diem aja. Kata Bunda sama mama, itu gak sopan."


Gala mengusap wajahnya kasar. "Tapi gue


gak suka kalo liat lo ngobrol sama cowok lain, Ri!"


"Kan cuma ngob..."


"Gue bilang gak boleh! Ya gak boleh!" Potong Gala kembali tersulut emosi. Riri ini benar-benar tidak bisa dinasehati dengan baik-baik. Sudah berapa kali Gala peringatkan, ia tidak boleh mengobrol dengan cowok lain tanpa seizinnya. Kecuali dengan sahabat Gala dan keluarga. Tapi kenapa, Riri selalu saja membantah?


"Kenapa sih gak boleh?!" Riri menatap Gala menuntut jawaban. Riri hanya ingin berteman biasa, normal layaknya teman-temannya yang lain. Lagipula Riri sama sekali tidak ada niatan untuk menduakan Gala. Bagi Riri, satu cowok seperti Gala itu udah lebih dari cukup. Gala saja yang terlalu posesif dan pengekang.


"Lagian Rafa itu baik banget! Riri juga udah kenal Rafa dari dulu! Sebelum Gala kenal Riri!"


Gala menghempaskan tangan Riri kasar. Cowok itu terkekeh sinis. Seolah merasa tersinggung oleh ucapan Riri barusan.


"Oh, lo belain dia? Bagus!"


"Riri gak belain dia! Riri cuma ngomong sesuai kenyataan!" Riri mulai kesal. Kedua matanya juga mulai terasa panas. Sebentar lagi, air mata yang Riri tahan itu pasti akan tumpah.


Gala mengangguk-anggukan kepala seolah paham akan sesuatu. "Oke! Kalo ada apa-apa lo cari dia aja! Jangan cari gue!"


.


*******


.


Selamat beroverthinking gaisss❀️❀️❀️❀️❀️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ₯²πŸ₯²πŸ₯²πŸ₯²πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


Gak papa menebak-nebak fren, asal jangan merasa kalian yang paling tahu. Suka greget sama yang bilang "Ah udah tau endingnya pasti bla bla bla. Males baca ah."


Hellow, aku yang author nya aja masih gak tau gimana endingnya. Kok kamu bisa tau? Ya udah lanjutin ceritaku


Lanjut gak nih?


Pesan buat Gala?


Pesan buat Riri?


Pesan buat tuyul kembar, Danis sama Dewa?


Atau buat siapa aja, buat author juga boleh :


Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cpt juga up nya.


Spam komen pake emoji❀️ :

__ADS_1


__ADS_2