CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Membuka Pintu UKS


__ADS_3

"Gimana, Pak?"


Pak Surya mengangguk. "Jawaban kamu benar semua. Jadi kamu boleh istirahat duluan."


Gala tersenyum kemenangan. Tidak memedulikan sorakan kagum dan terkejut dari teman-teman sekelasnya. Sebenarnya, Gala itu memang termasuk ke dalam jajaran siswa pintar, selain Alan. Hanya saja, Gala malas menunjukkannya dan lebih suka terlihat biasa saja.


"Bales dong, Sri! Ngartis amat lo!" Dumel Gala menatap layar ponselnya sembari melangkah ke arah kelas Riri. "Liat aja lo, Sri. Berani-beraninya, diemin gue!"


Belum sampai ke kelas Riri, saat melewati depan UKS, yang pintunya memang sedikit terbuka, Gala seperti melihat sosok yang tidak asing baginya.


Dengan segala pertimbangan, Gala memutuskan


untuk membuka pintu UKS dan masuk ke dalam.


"Lo?" Mata Gala membulat sempurna saat melihat Riri terbaring di brankar UKS. "Lo sakit, Ri?" Tanya Gala mulai panik.


Riri mengangguk pelan. "Perut Riri sakit banget dari tadi malem."


Gala segera membuka satu aplikasi di ponselnya. "Astaga! Iya, sekarang emang jadwal lo dateng bulan. Gue lupa."


Riri tidak menjawab, gadis itu mengerjapkan kedua mata bulatnya sambil menahan rasa nyeri di perut.


"Sakit banget?" Tanya Gala sembari mengusap kepala Riri lembut.


"Iya, tadi Mama gak bolehin Riri sekolah, tapi Riri pengen sekolah."


Gala mendengus kasar. Mendudukkan dirinya di tepi brankar. Tadinya ia ingin marah-marah dengan Riri, namun karena melihat keadaan Riri yang sekarang, Gala jadi tidak tega. "Lo gak bales chat gue karena sakit perut?"


"Iya," angguk Riri. "Riri gak pegang hape sama sekali. Sekarang aja hape Riri ketinggalan di rumah."


"Mau gue beliin kiranto atau apa gitu?"


"Kiranti ih!"


"Kalo cowok kiranto," kekeh Gala. "Mau gak?"


"Enggak usah."


"Susu rasa strawberry?"


Riri kembali menggeleng.


"Lo tadi udah sarapan?"


"Udah, tadi Riri minum susu sama makan roti sebelum berang-auhh sakiitt..."


"Hiks...sakit banget..."


"Perutnya gue usap-usap mau?" Tawar Gala dengan wajah khawatir.


Riri menggeleng cepat. "Gak mau, nanti ada orang. Riri malu."


"Gak papa, biar gue kunci pintunya."

__ADS_1


"Jangan," cegah Riri cepat.


"Ken-"


"Sakit hiks...sakit banget..."


Melihat wajah Riri yang memucat dengan erangan menahan rasa sakit, membuat Gala semakin panik.


"Terus gue harus ngapain biar bisa ngurangin rasa sakit di perut lo?"


"Gak tau, sakit hiks..."


"Peluk mau, hm?"


Tangan Riri bergerak mengusap air mata yang menetes di pipinya.


"Gue peluk ya?" Tawar Gala sambil mendekatkan dirinya ke Riri. Namun belum sempat Gala berhasil memeluk tubuh Riri, tiba-tiba seseorang datang.


"Riri, ini aku udah beli kir"


Gala berdiri. Menatap Rafa dengan tatapan permusuhan. "Ngapain lo?" Tanya Gala sengit sambil menatap ke kantong kresek berlogo Indoapril yang Rafa bawa.


Raffa tampak santai. "Mau ngasih ini ke Riri."


"Gak usah repot-repot. Gue bisa beliin tunangan gue sendiri."


"Gala..."


Meski yang dipanggil hanya Gala, namun Rafa juga ikut mengalihkan atensinya ke Riri.


Napas Gala masih memburu naik turun. Mau bagaiamana pun kronologisnya, Gala tetap saja merasa tidak terima dengan kehadiran Rafa. Apalagi saat membantu Riri tadi, Rafa dan Riri pasti melakukan kontak fisik.


"Sekarang lo pergi, Riri gue yang urus," usir Gala terang-terangan.


Rafa meletakkan kantong kreseknya di sebelah Riri, sebelum menuruti permintaan Gala untuk segera pergi dari ruangan UKS.


"Santai aja, gue tau diri," jawab Rafa. "Cepat sembuh ya, Riri."


"Makasih banyak Rafa."


"Sama-sama, entar gue yang ijinin lo ke guru di kelas."


"Hem! Sana! Bacot banget!" Kesal Gala mendorong punggung Rafa. "Cari muka banget."


Rafa tidak menjawab apa-apa. Cowok itu hanya menatap Gala datar lalu melemparkan senyum tipis ke arah Riri.


"Gala, jangan marah-marah." Riri meraih tangan Gala untuk menenangkan cowok itu. Dari matanya, Riri bisa melihat kalau saat ini, Gala sedang menahan emosi.


"Lain kali kalo ada apa-apa jangan minta tolong ke dia."


"Kenapa?"


"Dia burik, bau bang***," jawab Gala asal.

__ADS_1


"Ih, Gala gak boleh gitu. Rafa baik banget sama Riri.


Kalo gak ada Rafa, Riri gak tau mau minta tolong ke siapa."


"Gue."


"Kan Riri gak bawa hape? Terus Riri jatuh di kamar mandi, gimana Riri mau minta tolong ke Gala?"


"Teriak."


"Emang Gala bakal denger?"


"Enggak."


"Terus ngapain nyuruh Riri teriak?" Riri memukul lengan Gala kesal.


"Biar semua orang tau, lo cuma mau pertolongan dari gue. Biar gak ada cowok modus yang nolongin lo semacam Rafa."


"Engak lah! Kalo teriak nanti Riri dikira gila."


"Kan kamu emang gila. Tergila-gila sama Gala"


"Gala ih!" Riri kembali memukul lengan Gala yang terus-terusan menjahilinya.


"Masih sakit, hem?" Tanya Gala membungkukkan badan. Tangannya mengusap-usap pipi Riri sambil menatapnya intens.


"Masih."


"Mau gue cium gak buat ngurangin sakit?"


"Enggak"


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


"Cepet sembuh bocil kesayangan Gala," bisik Gala setelah mendaratkan kecupan bertubi-tubi di dahi dan pipi Riri. "I love you so bad, bocil."


Cup


Hari ini adalah hari ke tiga ujian nasional dilaksanakan, itu artinya sudah sepuluh hari ini Gala tidak bisa bertemu dengan Riri. Ralat, sebenarnya Gala masih bisa menemui Riri, hanya saja waktunya sedikit dan tidak bisa mengobrol panjang lebar seperti biasanya.


Setiap selesai ujian, Gala selalu menyempatkan diri untuk datang ke kelas Riri. Meskipun ujung-ujungnya Gala akan diusir oleh Riri karena gadis itu buru-buru pulang.


Dewa selalu menjemput Riri tepat waktu. Jika Riri tidak cepat-cepat keluar dari area sekolah, maka Riri akan kena omelan dari Dewa. Hal itulah yang membuat Riri tidak bisa berlama-lama menemui dan mengobrol dengan Gala.


Belakangan ini, Gala lebih banyak menghabiskan. waktunya untuk uring-uringan sendiri. Bukannya sibuk belajar untuk ujian nasional seperti yang dilakukan oleh ketiga sahabatnya, Alan, Akbar dan Ilham. Gala justru sibuk mengumpati dan menyumpah serapahi Dewa dengan berbagai umpatan kasar. Karena ide gila dari cowok menyebalkan itulah yang membuat dirinya tidak bisa bertemu dengan Riri hingga berhari-hari.

__ADS_1


Tidak bertemu dengan Riri satu hari saja, sudah membuat Gala hampir Gila, apalagi ini, selama sepuluh hari ia hanya bisa melihat Riri sekilas tanpa melakukan interaksi yang intens. Bahkan saat ia mengirim chat dan video call pun Riri selalu slow respon. Dengan alasan sibuk belajar, belajar dan belajar.


Gala bener-benar hampir dibuat gila dengan keadaan beberapa hari terakhir ini. Namun beruntung ada ketiga sahabatnya yang selalu mencoba menghibur dan menasehati Gala dengan berbagai wejangan. Alhasil emosi Gala yang tidak stabil bisa sedikit mereka kendalikan.


__ADS_2