
"Ngapain lo ke sini?" Todong Dewa begitu membuka pintu.
Ia kira siapa yang bertamu tengah malam ke rumahnya. Ternyata Gala.
"Gue mau ketemu sama Riri. Lo gak usah ngajak
ribut gue deh, Wa. Gue lagi gak mood ribut sama lo."
"Hem! Lancang banget lo!" Dewa mendorong tubuh Gala
saat cowok itu berusaha menerobos masuk ke dalam rumah begitu saja.
Gala mengusap wajahnya kasar. Tidak tahukah Dewa?
Gala ini sudah sangat merindukan Riri dan ingin segera bertemu dengan Riri. Karena sejak tadi gadisnya itu tidak membalas chat dan mengangkat telfonnya. Tapi sekarang Dewa justru menghalanginya.
Belum lagi acara barbeque dengan teman-temannya yang gagal gara-gara dirinya tidak datang. Ah, kepala Gala rasanya ingin pecah. Malam ini banyak hal yang membuatnya ingin marah.
"Mau lo apa sih?!" Tanya Gala emosi. Mata tajamnya menghunus ke arah Dewa.
Dewa terkekeh sinis. "Gue yang harusnya nanya! Mau lo apa?! Ngapain lo nyuruh Riri nunggu kalo ujung-ujungnya lo malah jalan sama cewek lain?!"
Gala terdiam. Ia tidak mengerti dengan maksud Dewa.
"Gak bisa jawab kan?" Dewa tertawa mengejek.
"Emang dasarnya lo breng***!"
"Pergi lo! Gak usah temuin Riri lagi! Renungin kesalahan lo!" Usir Dewa.
Gala menahan mati-matian pintu yang hendak Dewa tutup. "Apa maksud lo gue jalan sama cewek lain? Anj*** lo! Gue gak ada jalan sama cewek lain! Gak usah fitnah!"
Dewa mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto yang
ia dapat entah dari siapa pada Gala. "Liat! Jelas banget lo
di sini pelukan sama cewek lain! Masih aja ngelak!"
"Buta mata lo, hah?!" Ucap Dewa sengit.
Gala memijat pangkal hidungnya. Itu adalah foto saat dirinya menenangkan Amora di pinggir jalan tadi. Bukan memeluk, Gala hanya merangkul. Namun karena ia di foto dari belakang, jadi mereka terlihat seperti saling berpelukan.
"Itu gak sesuai sama apa yang ada di otak lo, Wa!"
Bantah Gala. "Dapet dari siapa lo?"
"Gak penting gue dapet dari siapa. Yang jelas lo udah buat
Riri kecewa. Jadi gak usah maksa buat ketemu sama Riri!"
"Gak! Gue harus tetep ketemu sama Riri!" Gala berusaha masuk dengan mendorong tubuh Dewa. Gala tidak bisa tinggal diam saja. Secepatnya ia harus bertemu dengan Riri untuk menjelaskan semua. Ia tidak mau kesalahpahaman ini akan semakin rumit nantinya.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Dewa memberi tiga bogeman di wajah Gala saat cowok itu tidak berhenti untuk berusaha menerobos masuk.
"Gue bilang pergi! Anji** lo!"
Dewa menatap Gala emosi. Sedari awal melihat wajah Gala, Dewa sudah berusaha mati-matian untuk tidak menghajar cowok itu. Namun nyatanya, Gala memang pantas untuk dihajar.
Gala meringis pelan. Ia menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Meski begitu, Gala tidak ada
niat sedikitpun untuk membalas pukulan Dewa. Karena yang menjadi tujuan utama Gala sekarang hanyalah bertemu dengan Riri. Hanya itu.
"Hajar gue sepuas lo asalkan setelah itu lo
izinin gue buat ketemu sama Riri."
Napas Dewa memburu naik turun. Dewa sangat kesal,
kenapa Gala belum juga paham? Bukannya pulang, cowok
itu justru seakan-akan menantang amarah Dewa.
"Hajar." Gala mendekatkan dirinya ke Dewa. "Hajar gue, Wa.
"Brengsek!" Dewa mendorong tubuh Gala keluar.
"Riri udah tidur! Lo gak usah maksa bisa gak?!"
Gala mendengus kasar. "Gue gak bakalan ganggu.
Gue cuma mau liat Riri malem ini. Gue capek ribut sama lo."
"Please, Wa. Izinin gue buat ketemu Riri sekarang," tambah Gala memohon.
Dewa hanya diam. Seumur-umur baru kali ini ia melihat seorang Gala mau mengalah dengan dirinya. Apalagi sampai memohon begini. Rasanya, cowok di hadapannya ini seperti bukan Gala yang biasanya ia kenal. Dewa jadi merasa....sedikit kasihan.
Dewa memejamkan matanya sejenak. Sebenarnya ia
juga lelah ribut dengan Gala. Tapi mau bagaimanapun
Dewa tetap kesal karena Gala sudah membuat Riri kecewa. Sebagai kakak, tentu saja Dewa tidak terima dengan hal itu. Ya, meskipun dugaannya mengenai Gala yang selingkuh belum tentu benar.
"Pergi, Gal. Lo bisa temuin Riri besok. Biarin Riri istirahat."
Bukan, itu bukan suara Dewa. Melainkan Danis yang
tiba-tiba datang dan berjalan ke arah Gala dan Dewa
__ADS_1
yang sedang bersitegang di ambang pintu.
Danis kembali menambahkan. "Lagian Riri udah tidur. Mending lo pulang," suruh Danis tenang. Tidak seperti
Dewa yang di setiap kalimatnya selalu tersirat amarah
jika berbicara dengan Gala.
Gala mengacak rambutnya frustasi. Ia hanya ingin
bertemu dengan gadisnya. Namun kenapa sesusah ini?
"Gue cuma―"
"Gala pulang aja! Riri gak mau ketemu sama Gala!"
Tatapan Gala melembut begitu melihat Riri berdiri di ujung tangga dengan wajah sembab penuh air mata. "Ri, gue-"
"Gala sama Amora aja sana, hiks!"
******
Brakk!
Riri membanting kotak makan milik Amora yang hendak Amora berikan pada Gala.
"Gak usah masak buat Gala! Gala kaya raya,
bisa beli makanan sendiri!"
Amora menatap nasi goreng buatannya yang berserakan
di lantai dengan mata berkaca-kaca. Padahal ia sudah membuatnya dengan susah payah. Namun dengan seenaknya, Riri membuang masakannya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Amora.
"Kak, emang aku salah ya?" Tanya Amora polos.
"Aku cuma mau ngasih makanan ke Kak Gala sebagai
tanda terima kasih karena Kak Gala udah banyak bantu aku. Kenapa Kak Riri malah buang masakan aku kaya gini?"
"Eh! Kamu denger gak sih? Kan Gue udah bilang, Gala kaya raya! Gak usah ngasih makanan ke Gala!" Riri bersidekap dengan kedua tangannya didada dengan wajah yang songong. "Jangankan cuma nasi goreng, gerobaknya pun Gala juga bisa beli!"
"Tapi gak harus Kak Riri buang kaya gini juga,
jadinya mubazir Kak," balas Amora kesal.
"Kalo gak mau mubazir, gak usah masak buat Gala. Jual aja sana!" Riri menatap Amora sengit. Namun gadis berambut panjang yang Riri tatap itu hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kalo kamu ngerasa pinter masak nasi goreng. Jangan masakin tunangan orang, dong! Jualan aja! Atau mau aku bilangin ke Gala biar beliin kamu gerobak nasi goreng buat jualan?"
Napas Amora memburu naik turun. Jika saja ini di panti asuhan, sudah pasti Amora berani melawan dan tentunya dia yang akan menang. Karena selama ini, Amora selalu bersikap seolah-olah dirinya lah penguasa panti. Hingga membuat semua anak panti. takut pada Amora.
__ADS_1
"Kak Gala!" Panggil Amora begitu melihat Gala keluar dari markas Drax.