
Selamat beraktifitas bestie, semoga harimu menyenangkan meterus.
Aku update nunggu vote dan komen chapter ini melebihi chapter sebelumnya Jadi kalo aku belum update, bantuin biar bisa cepat memenuhi target jangan cuma nyuruh up doang.
Selamat membaca!
....
Apapun yang terjadi, gue bakal pertahankan lo, sayang.
" jawab Gala cepat tanpa berpikir panjang. "Kalo wish list
lo apa, hem?"
"Sama kaya Gala, nikah sama Gala. Tapi Riri pengen kuliah dulu," jawabnya. "Gala, kita jadi kuliah di mana?"
"Ntar dulu, kita pikirin minggu depan setelah acara
perpisahan di sekolah, oke?"
Entah kenapa, Gala jadi kepikiran sesuatu. Sesuatu yang membuatnya bimbang selama beberapa waktu ini. Gala terdiam dan sibuk dengan isi kepalanya sendiri cukup lama
Hingga tidak menyadari, Riri sudah terlelap dalam tidurnya.
"Ri, lo tidur?"
Gala tertawa gemas. "Ternyata beneran ketiduran bocil gue."
"Gemes banget sih," pujinya menekan pelan kedua pipi gembul Riri.
"Sayang, bobo di dalem, ya?" tawar Gala. "Di sini dingin."
Karena tidak kunjung mendapat respon, Gala berinisiatif mengangkat tubuh mungil Riri untuk ia bawa ke dalam kamar.
Cowok itu melakukan pergerakan yang begitu pelan dan
hati-hati. Tidak mau membuat tidur gadisnya terganggu.
"Selamat bobo bocil gue yang paling gemesin," ucap Gala sembari mendaratkan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Riri. Gala menyelimuti tubuh Riri hingga sebatas dagu.
"Gue pulang ya, sayang."
Cup
"Jangan mimpi indah. Mimpiin Gala aja," pesannya terkekeh geli.
Ceklek
Menoleh cepat, cowok yang duduk di tepi tempat tidur itu mendapati Dewa berdiri di ambang pintu dengan wajah shock.
"Ri--lo?!"
"Lo ngapain ada di sini?!" tanya Dewa marah seraya menarik kerah baju Gala.
Gala berdiri, mendorong Dewa hingga mereka keluar dari kamar Riri.
"Kalo lo mau buat keributan. Mau pukul gue lagi, jangan di kamar Riri. Pukul gue di luar. Biar Riri gak kebangun," ucap Gala dengan santai.
Berbeda dengan Dewa yang matanya sudah berapi-api.
Bugh!
.....
__ADS_1
"GUE UDAH BILANG BERAPA KALI?! COBA BERPIKIR DEWASA, GAL!" bentak Agam. "LO ITU UDAH DELAPAN BELAS TAHUN! BENTAR LAGI SEMBILAN BELAS TAHUN! TAPI SIKAP LO MASIH KAYA BOCAH SMP!"
"Agam, sudah," lerai Azri--papa Agam.
Agam tidak memedulikan ucapan papanya. Laki-laki itu masih tidak habis pikir dengan Gala yang begitu keras kepala hingga tidak bisa dinasihati.
"Lihat! Muka lo tambah bonyok cuma karena lo keras kepala buat nemuin Riri malem ini!"
Gala mendengus. "Muka gue yang bonyok kenapa lo yang
ribet, Bang?"
Agam mengusap wajahnya kasar. Gala benar-benar keras
kepala.
"Gue capek ngomong sama lo. Lo benar-benar keras kepala dan kaya bocah!"
Gala mendesis pelan. Menahan rasa perih pada luka-luka di wajahnya yang semakin banyak karena tadi ia dihajar Dewa lagi.
"Kalo lo capek, gak usah ngomong sama gue lagi. Simpel
kan?"
Gala berjalan meninggalkan ruang tengah. Meninggalkan Agam, Azri dan juga Karisa yang masih ada di sana. Ketiga orang itu sudah menunggu di apartemen Gala sejak tadi.
Namun langkah Gala terhenti kala Agam tiba-tiba membalikkan badan dan menarik kerah bajunya.
"LO ITU UDAH GAK PUNYA SIAPA-SIAPA SELAIN GUE DAN BOKAP NYOKAP GUE! BERSIKAP DEWASA DIKIT GAK BISA?!"
Emosi Agam kembali meletup-letup. Ia sangat jengkel dengan sikap Gala yang begitu keras seperti batu.
Napas Agam memburu naik turun. "SEKARANG LO ITU UDAH JADI TANGGUNG JAWAB GUE DAN ORANG TUA GUE! HARGAI MEREKA SEDIKIT GAK BISA, HAH?!"
"GUE DAN MEREKA!" Agam menunjuk papa dan mamanya yang hanya diam dengan wajah khawatir. "DARI TADI NUNGGUIN LO DI SINI! DAN SEKARANG APA?! LO BUKANNYA DENGERIN NASEHAT KITA! MALAH MAIN PERGI GITU AJA!"
"Agam, nak, sudah!" Karisa mulai bersuara karena tidak tega melihat Gala yang hanya diam sejak tadi.
"Dia ini harus kita kerasin, Ma! Kalo enggak, mau jadi apa dia?! Mau jadi berandalan gak jelas, yang cuma bisa hambur-hamburin uang dan buang-buang waktu buat ceweknya?!"
Bugh!
"NGAPAIN LO BAWA-BAWA CEWEK GUE ANJING!" umpat Gala tidak terima. Ia bisa menerima apapun perkataan Agam. Asal jangan sekali-kali Agam berani membawa Riri ke dalam masalah ini.
Agam mengusap sudut bibirnya. Cowok itu maju dan membalas pukulan Gala di tempat yang sama seperti Gala memukulnya.
Bugh!
"LO ITU TERLALU BUCIN, GAL! LO SAMPE GAK SADAR KALO HUBUNGAN LO DAN RIRI ITU UDAH GAK SEHAT! HUBUNGAN KALIAN TOXIC!"
"GUE GAK PEDULI! GUE GAK AKAN PERNAH LEPASIN RIRI SAMPE KAPANPUN! INGAT ITU!" balas Gala dengan napas memburu tidak karuan.
Agam balas membentak. "GUE GAK PERNAH MINTA LO BUAT LEPASIN RIRI! GUE CUMA MINTA LO INTROPEKSI DIRI! KARENA CARA LO BUAT PERTAHANKAN RIRI ITU SALAH!"
Gala terdiam dengan tatapan tajam. Ia terus menatap Agam bahkan tanpa berkedip.
"SALAH BANGET!" tambah Agam.
Azri bangkit dari duduknya. Pria paruh baya itu menghampiri Gala. Mengusap pelan pundak Gala yang terlihat naik turun dengan napas tersengal-sengal.
"Gala, apa yang Agam bilang itu benar. Kamu boleh pertahankan Riri. Itu wajar. Tapi tidak dengan cara yang seperti tadi. Membawa Riri pergi tanpa izin dan membuat keluarganya panik," nasihat Azri.
"Sebagai laki-laki, kita harus pandai memperlakukan perempuan dengan cara yang tepat dan benar," lanjutnya. "Cara yang tidak menyakiti siapapun. Baik diri kamu sendiri, pasangan kamu atau orang-orang di sekeliling kalian."
__ADS_1
"Itu baru namanya hubungan yang sehat."
"Denger lo?" tanya Agam. Agam menunjuk wajah Gala dengan jarinya saking muak nya dengan sikap Gala yang selalu kekanak-kanakan. "Lo itu terlalu toxic, Gal. Kalo lo kaya gitu terus, jatuhnya bukan cinta, tapi obsesi. Ingat, semua hal yang berlebihan itu gak baik. Termasuk cinta," kata Agam sedikit tenang.
Kemudian Agam tersenyum sinis. "Bahkan lo bisa kehilangan
Riri dengan sikap lo yang kaya gitu!"
"DIEM LO! GUE GAK BAKAL KEHILANGAN RIRI!" Emosi Gala kembali meledak. Cowok itu sampai mencengkram kerah kemeja Agam saking tidak terimanya dengan ucapan Agam barusan. "JAGA UCAPAN LO!" Agam terkekeh sinis. "Sekali batu tetep batu. Jelas-jelas gak
akan ada hubungan toxic yang berakhir bahagia!
Kecuali pelakunya sadar dan mau berubah!"
Kepala Gala tiba-tiba terasa pening. Ia melepaskan cengkraman di baju Agam lalu memegangi kepalanya.
"GALA!"
Karisa dengan cepat menahan tubuh Gala yang hampir ambruk ke lantai.
"Papa! Agam! Cepat bantu!" teriak Karisa panik.
"Gala! Nak! Ya Tuhan, kamu kenapa nak?!" histeris Karisa
Melihat Gala semakin lemah. Cowok itu memejamkan matanya. Lalu kembali berusaha membukanya lagi.
"Ssshhh," desis Gala menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya yang kini ada di pangkuan Karisa.
"Sakit, Tante," adu Gala. Gala mendongak, menatap Karisa
dengan mata redup.
"Kepala kamu sakit?" tanya Karisa. Karisa langsung memberi perintah pada Agam. "Agam cepat hubungi Dokter Liana!"
Sudut mata Gala tiba-tiba mengeluarkan cairan bening dan hal itu langsung Karisa sadari.
Gala menangis.
"Kenapa semua orang bilang cara Gala buat pertahanin Riri itu salah? Tapi gak ada satu orang pun yang mau ngajarin Gala cara mempertahankan orang yang Gala cintai dengan benar itu seperti apa?"
Gala memejamkan mata sejenak. Membuat cairan bening
dari sudut matanya mengalir semakin banyak. "Dari dulu,
orang yang Gala cintai selalu pergi. Bahkan, sebelum Gala
berusaha buat mempertahankannya."
Gala tersenyum samar. "Mama kandung Gala, Papa, Mama Anita. Semua pergi. Jadi Gala gak tau cara mempertahankan seseorang yang benar itu seperti apa."
....
Bersambung
Gimana bestie chapter ini? Cukup membuat kalian
depresot apa enggak?
Intinya jangan berprasangka buruk mengenai cerita ini, berprasangka yang baik-baik aja, biar aku tetep happy kiyowo dan ceritanya juga bisa happy kiyowo❤️🤣💖😁💯🥰💯
Pesan buat Gala?
Pesan buat Riri?
__ADS_1
Pesan buat siapa aja?
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cepat juga up nya.