CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Dewa Yang Tidak Pekaan


__ADS_3

"AHAHAHAHHAHAAA ADUH GAK KUAT GUE!"


Tawa Ilham sambil memegangi perutnya. "Dah lah, gue capek liat lo sama Riri, Gal. Sumpah, kalian ada aja kelakuannya. Hahahahahahahaha...!!!!"


"Pasangan prik!" Tambah Ilham


memukul-mukul kepala Akbar tanpa sadar.


Ilham dan Akbar terus tertawa seolah melupakan ancaman Gala tadi. Gala sendiri juga lebih memilih untuk diam. Ia benar-benar malu dan tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana. Mau Gala jelaskan sedetail mungkin kalau dirinya hanya terpaksa menuruti syarat aneh dari Riri juga tidak akan membuat dua temannya itu berhenti tertawa. Yang ada harga diri Gala justru semakin terinjak-injak.


"Diem, anceman gue tadi gak main-main." Gala menatap Akbar dan Ilham serius. Membuat tawa dua manusia itu spontan terhenti.


"Maaf, maaf, Bos. Kelepasan gue." Ilham menyatukan kedua tangannya di depan dada. Sebenarnya Ilham belum puas tertawa, namun karena kasihan melihat wajah Gala yang sepertinya sangat tertekan, Ilham jadi tidak tega.


"Sorry, Gal. Gak maksud apa-apa sumpah. Cuma ya....lucu aja gitu hehe. Secara lo kan leader Drax nih, kalo di depan musuh, wuih keliatan keren, sangar, eh kelakuan lo di belakang kocak hahahahaha..."


"Gue terpaksa, biar Riri mau belajar." Gala menajamkan tatapannya agar Akbar dan Ilham bisa melihat keseriusan di wajahnya. "Kalo sampe kalian bahas hal ini lagi dan buat orang lain, selain kalian, tahu, habis lo semua!"


"Iye-iye, rahasia aman!" "Aman Bos!"


"Dewa setres!" Gumam Gala sambil mengepalkan


kedua tangannya. "Awas aja lo Wa! Gara-gara lo, gue keceplosan!" "Bilang aja iri liat keuwuan gue sama Riri." "Dasar jomblo prik!"


Alan, Akbar dan Ilham hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Gala mulai mondar-mandir di teras markas Drax sembari ngomel dan mengumpat tidak jelas.


"Duduk, Gal. Gak capek ya berdiri sambil ngomel dari tadi?" Tanya Akbar memberanikan diri. Akbar takut kalau dirinya kena semprot Gala untuk yang kesekian kali. "Mending lo ngomel sambil duduk, kan enak. Gak capek."


"Nih ada kopi sama gorengan juga." Tunjuk Ilham ke kopi dan gorengan yang ada di atas meja. "Ngomel sambil ngopi plus makan gorengan mantap, Gal."


Gala menoleh ke arah Akbar dan Ilham dengan begitu sinis kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak memedulikan saran dari Akbar dan Ilham yang menurutnya tidak jelas.


"Awas aja lo Dewa! Gue bakal culik kucing lo! Terus gue taroh di jalanan, biar jadi gembel tuh si Kolor Ijo!" Tekad Gala mengepalkan tangan. "Mampus lo Dewa burik!"


"Dewa ngelakuin itu demi kebaikan lo juga," cetus Alan tiba-tiba. Tentu saja ucapan Alan barusan membuat Gala langsung melontarkan kalimat protes.


"Kebaikan? Kebaikan apaan? Gak ada baik-baiknya. Ujian kita masih seminggu lagi. Terus masa ujian nasionalnya berlangsung selama empat hari. Itu artinya gue gak bisa ketemu Riri selama sebelas hari! Enak aja!"

__ADS_1


Alan mendengus pelan. Tidak tahu lagi harus memberitahu Gala dengan cara apa. Kebucinan Gala pada Riri memang sudah mendarah daging. Tidak bertemu dengan Riri sehari saja, bisa membuat Gala uring-uringan tidak karuan. Apalagi ini, sebelas hari. Bisa-bisa Gala akan cosplay menjadi singa yang kelaparan.


"Biar lo sama Riri sama-sama fokus ke ujian dulu," ujar Alan lagi. "Kalo ketemu terus, takutnya lo sama Riri bakal ada masalah yang bisa ngebuat kalian gak fokus ke ujian."


Gala berdecak kasar. "Justru kalo gak ketemu Riri,


gue gak bisa fokus ngapa-ngapain!"


"Gak ketemu sebelas hari doang elah, Bos. Lo gak bakal mati juga," timpal Ilham sedikit geram. Sahabatnya itu memang benar-benar bucin akut. Tidak ketemu sebelas hari saja, sudah seperti akan dipisahkan selama bertahun -tahun.


"Bacot lo semua." Gala mendudukkan dirinya di kursi samping Alan. Dada cowok itu masih terlihat memburu naik turun karena menahan rasa kesal dan emosi.


Kalau tidak ingat, Dewa adalah kakak Riri yang mau tidak mau harus ia hargai, sudah Gala ajak baku hantam Dewa dari kemarin-kemarin. Gala benar-benar tidak habis pikir, kenapa Dewa selalu berusaha membuatnya frustasi dengan cara menjauhkan dirinya dari Riri?


Tidak bisakah Dewa memahami, kalau Gala itu tidak bisa jauh-jauh dari Riri? Terkesan berlebihan memang, namun hal itulah yang selalu Gala rasakan. Rasanya tidak tenang dan gelisah saat dirinya berada jauh dari Riri. Apalagi tidak bertemu sampai berhari-hari. Bisa gila Gala.


"Lagian selama ini, Riri selalu belajar bareng gue dan selama belajar juga kita selalu fokus buat belajar," celetuk Gala mencari pembenaran.


"Yakin kalo lo belajar berdua sama Riri, bener-bener fokus belajar, Bos?" Goda Ilham.


"Gak ada modus cipika cipiki gitu, Gal?" Sekarang Akbar yang bertanya dengan nada tidak percaya. Pasalnya Akbar sudah sangat hafal bagaimana kelakuan seorang Gala Arsenio Abraham. Si ketua geng yang berlagak sangar di depan orang-orang, tapi akan berubah menjadi kucing tukang modus saat berduaan dengan Riri.


"Gak."


Akbar kembali bertanya untuk meluruskan. "Gak apa nih? Gak ada cipika cipiki beneran maksud lo atau gimana?"


"Gak, gak sering-sering banget," jawab Gala jujur. "Kadang-kadang doang."


"Hahahahahaha anjerrr!!!!"


"Make kolor Spongebob sambil cipika cipiki ahahahahahahaha!!!!"


Akbar dan Ilham langsung tertawa keras mendengar pengakuan polos dari Gala. Ternyata benar dugaan mereka, cowok seperti Gala mana bisa tidak modus. Pasti selalu ada saja cara untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Pantes Dewa gak percaya sama lo. Lo nya


aja tukang modus," ejek Ilham dengan sisa tawanya.

__ADS_1


"Diem lo, bacot!"


"Kemana?" Tanya Alan saat Gala beranjak dari duduknya.


"Pulang."


"Ya elah, katanya entar malem mau nelaktir kita semua?"


Akbar menambahkan. "Nah, iya Gal. Katanya lo mau nelaktir semua anak Drax? Gak jadi?"


Gala menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang. "Gak ada traktir-traktiran! Gue males, lo berdua bacot mulu!"


"Gal! Gal!" Panggil Ilham berteriak cukup kencang.


"Gal, penting, Gal!"


Cowok yang sudah melangkah jauh itu kembali menoleh dengan ogah-ogahan. "Apa?"


"Kolor Spongebob lo keliatan!"


Gala langsung menunduk untuk mengecek celananya. Hal itu membuat Ilham dan Akbar menyemburkan tawa kencang.


"HAHAHAHA TAPI BOONG!"


*****


"Bentar lagi lo ujian kan?"


"Hem."


"Jadi, lo mau lanjut kuliah di mana?"


"Gak tau."


"Jarak antara setelah ujian nasional ke masuk universitas kan lumayan cukup lama, gimana kalo sambil belajar buat ujian masuk universitas lo sambil mulai kerja di kantor?"


Gala meletakkan remote di atas meja lalu menatap Agam datar. "Hem, kenapa gak nunggu gue kuliah dulu sih, Bang?"

__ADS_1


__ADS_2