CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Riri Gue Mau Peluk


__ADS_3

Riri mengangkat kepala, menatap Alan dan Agam bergantian. "Kalo Gala teriak-teriak kaya tadi, Riri jadi bingung harus ngapain. Riri takut."


Benar, kalau Agam tidak memberi Gala obat tidur mungkin sekarang Gala masih sama seperti tadi. Berteriak tidak jelas lalu kembali melamun. Hal itu terjadi berturut-turut. Bahkan Gala tidak sadar dengan kehadiran Riri dan sahabat-sahabatnya.


Agam tersenyum, mencoba menenangkan Riri. "Tadi Gala cuma shock aja. Gue yakin, setelah dia bangun nanti, keadaan dia jauh lebih baik. Gala udah dewasa, mau gak mau, perlahan dia pasti bisa menerima kenyataan pahit ini."


"Gue cek dulu."


Setelah kepergian Agam ke kamar Gala, Akbar menggeser duduknya lebih dekat ke Riri. "Lo tenang aja, Ri. Kita bakal temenin lo di sini. Lo gak usah takut," tenang Akbar.


Riri mengangguk. "Maaf ya, tadi Riri tiba-tiba nelepon kalian, habisnya Riri bingung mau minta tolong ke siapa."


"Lo udah ngelakuin hal yang bener," jawab Alan cepat. "Lo gak perlu minta maaf."


"Ceilah bang Alan, mleyot dedek bang," kekeh Ilham membuat Alan bergidik jijik.


Akbar berdecak kasar. "Mleyot mulu. Itu hati


apa ager-ager?"


"Ri, Gala udah bangun. Dia nyariin lo."


Spontan, Riri langsung menoleh pada Agam di belakangnya. "Nyariin Riri?"


"Hem. Temuin aja, dia udah tenang kok."


"Sana Ri, sebelum bayi besar lo ngamuk," suruh Ilham. "Nanti kalo lo diapa-apain teriak aja. Palingan gue pura-pura gak denger."


Akbar menoyor kepala Ilham. "Terus kenapa lo nyuruh Riri teriak, bego?!"


"Ya gak papa, iseng aja."

__ADS_1


Akbar menghela napas. "Udah gak papa, Ri. Gala gak bakal apa-apain lo. Kalo diapa-apain juga tinggal minta dinikahin aja. Udah, beres."


Agam menggeleng heran. Ternyata teman Gala memang tidak ada yang waras. Kecuali Alan, cowok yang selalu berekspresi datar itu. "Percaya sama gue, Gala udah gak kaya tadi. Udah aman, sana temuin Gala," ujar Agam meyakinkan.


Belum sempat Riri menjawab. Suara teriakan dari


arah kamar Gala membuat semua orang terkejut.


"MANA CEWEK GUE?! ARRRGGGHH RIRI GUE MAU PELUK LO!!!"


"RI LO DI MAN--?!" Gala menatap semua orang yang ada di ruang tengah dengan tatapan terkejut. Ia pikir, hanya ada Agam dan Riri saja, ternyata ada ketiga sahabatnya juga. Sialan.


"Jangan teriak-teriak cewek lo takut," peringat Agam namun sepertinya Gala sama sekali tidak peduli.


Gala berdecak pelan lalu menarik Riri mendekat ke arahnya. "Hem! Kok lo ninggalin gue?! Kenapa gak ada di samping gue pas gue bangun?!" Omel Gala habis-habisan. Sementara Riri masih diam dan mengerjapkan matanya bingung.


Tadi Gala bahkan tidak menganggap kehadiran Riri dan sibuk menangis. Kenapa sekarang Riri yang disalahkan?


"Udah-udah! Lama banget nyari alasannya.


Keburu gue gak tahan buat meluk lo sampe mampus!"


Gala mengalihkan tatapan sewotnya pada Ilham saat cowok itu hendak membuka suara. "Apa lo? Jomblo diem aja! Gak usah sok keras!"


Ilham mengatupkan bibirnya kembali. Kemudian meneguk ludahnya kasar. "Aku salah apa ya, kak?" Tanya Ilham menirukan kata-kata yang sedang viral di Tiktok.


"Lo napas aja salah," sahut Alan datar.


******


"Maafin Gala, pa. Maaf Gala belum bisa wujudin permintaan terakhir papa. Maaf kalo Gala sering bantah papa. Maaf juga karena Gala belum bisa jadi anak yang baik. Yang bisa bikin papa bangga. Maaf."

__ADS_1


Gala menatap sendu dua gundukan tanah di depannya. Tadi pagi setelah jenazah Abraham dan Anita tiba, keduanya langsung dimakamkan oleh kerabat dan keluarga besar Gala.


Gala mengusap pipinya kasar kemudian beralih pada gundukan yang bertuliskan nama Anita. "Tante, maafin Gala. Maafin Gala karena belum sempat manggil tante dengan sebutan mama. Sekarang Gala nyesel karena Gala terlalu munafik. Sebenernya....Gala sayang sama mama Anita," ungkap Gala dengan suara bergetar menahan tangis.


Sejak tadi, Gala memang sudah tidak sanggup menahan tangis. Namun karena tadi masih banyak orang dan juga teman-temannya, anak Drax datang semua, terpaksa Gala lebih memilih diam dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain datar. Sekarang setelah mereka pergi dan hanya tersisa Riri, barulah Gala bisa mengeluarkan isi hati dan unek-uneknya dengan leluasa.


"Rii," panggil Gala pelan. Cowok itu menatap Riri yang ikut berjongkok di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. "Gue jahat banget ya? Gue gak bisa jadi anak yang berbakti sama mereka. Bahkan gue gak bisa wujudin permintaan terakhir papa. Gue...gue bego, Ri. Gue bego banget. Gue..."


Karena tidak sanggup melanjutkan ucapannya, Gala memilih untuk menangis dalam dekapan Riri. Ia menyesal dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menuruti permintaan terakhir Abraham sebelum pria paruh baya itu pergi untuk selamanya.


"Gue bego, Ri...bego..."


Riri menghentikan tangan Gala yang memukul-mukul kepalanya sendiri. "Gala gak boleh pukul-pukul kepala kaya gini. Gala gak bego kok. Gala itu pinter. Gala selalu tahu semuanya. Gak kaya Riri yang selalu gak tahu. Jadi Gala gak bego."


Mendengar jawaban Riri yang terlampau polos,


hati Gala sedikit tersentil. Ternyata dunia memang adil, Tuhan mengambil semua yang ia punya, mama kandungnya, papanya, mama sambungnya, Anita. Tapi Tuhan tidak lupa memberi Gala satu malaikat cantik yang bisa ia jadikan sebagai alasan untuk tetap hidup.


Gala mengangkat kepalanya dari dekapan Riri.


"Gue bego, Ri. Waktu itu papa minta ke gue buat manggil tante Anita dengan sebutan mama. Papa


selalu maksa gue. Tapi gue tetep kekeh gak mau. Gue gak sadar kalo itu ternyata permintaan terakhir dari papa sama tante Anita."


"Dan lo tau? Waktu gue marah-marah sama lo di WBS, sebenernya malemnya gue berantem hebat sama papa cuma gara-gara masalah itu. Gue kesel sampe akhirnya secara gak sadar gue lampiasin emosi gue ke lo." Gala melirihkan ucapannya di akhir kalimat. "Maaf, Ri."


Riri membenarkan letak rambut Gala yang berantakan. Ia sudah tidak mau mempermasalahkan kejadian di WBS kemarin. "Riri udah maafin Gala. Riri yakin, om Abraham sama tante Anita pasti udah maafin Gala juga kok. Waktu bunda pergi, Gala selalu bilang kalo bunda itu pergi ke surga. Di surga bunda bakal punya rumah baru yang lebih bagus dan bunda pasti bahagia. Sekarang Riri juga yakin, om Abraham sama tante Anita pasti sama kaya bunda. Mereka bakal bahagia di sana."


Bibir Riri membentuk senyuman lebar. "Jadi, di sini Gala gak boleh sedih-sedih lagi. Kan ada Riri."


"Peluk gue, Ri," pinta Gala tanpa mengalihkan tatapannya yang sejak tadi menatap Riri begitu intens. "Peluk gue dan buktiin kalo lo emang beneran ada buat gue."

__ADS_1


__ADS_2