CINTA SEJATIKU

CINTA SEJATIKU
Bertemu musuh bebuyutan


__ADS_3

Kepala Riri menoleh ke Gala dengan kedua pipinya menggembung lucu. "Kan Riri lagi marah! Gala bentak-bentak Riri waktu pulang sekolah! Riri jadi sebel! Riri jadi badmood !" Riri menjeda ucapannya lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Pokonya Kita kek musuhan!"


Gala menahan kedutan di bibirnya agar tidak


tersenyum melihat tingkah menggemaskan Riri sekarang. "Cemburu ya kalo gue sama Amora?"


"Gak!"


"Bilang aja kali kalo lo cemburu," ucap Gala


dengan nada meledek. "Bocil gue cemburu ciee.


"Gak! Riri gak cemburu!" Riri menatap Gala


sekilas lalu kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Mau Gala sama Amora kek! Sama nenek peyot kek! Sama mak lampir kek! Sama siapa kek! Riri gak cemburu!"


Gala terkekeh gemas. Rasanya ingin mengantongi Riri lalu mengurung Riri di kamar untuk selamanya. Agar hanya dirinya sendiri yang bisa melihat ke-gemoy-an seorang Riri. Tangan Gala perlahan bergerak memeluk pinggang ramping Riri dari belakang.


"Bocil gue cemburu, hm?" Bisik Gala tepat di telinga Riri. Membuat sekujur tubuh Riri merinding.


"Ih lepas!"


"Cium dulu dong."


Dengan santainya Gala menyodorkan pipinya ke hadapan Riri yang langsung didorong kasar oleh Riri.


"Gak mau!"


"Ntar gue beliin es krim," rayu Gala. "Cium dulu ayo."


"Gak mau!" Tolak Riri. Padahal di dalam hati ia sedikit tergoda dengan penawaran Gala.


"Ya udah deh, nanti gue beliin es krim tapi maafin gue ya? Jangan ngambek lagi? Gimana?"


Riri tampak berpikir-pikir terlebih dahulu mendengar tawaran Gala. Kapan lagi dibelikan Gala es krim? Lagipula sayang sekali, es krim yang dibelikan Gala tadi sudah mencair karena perdebatan mereka yang kian memanjang. Dan tadi saat di taman, Riri juga hanya dibelikan satu es krim oleh Danis. Jadi, kali ini Riri tidak boleh menolak rejeki nomplok.


"Iya."


"Iya apa?" Gala menekan kedua pipi gembul Riri


saking gemasnya dengan ekspresi cemberut yang Riri tampakkan sedari tadi.


"Ihh sakit!"


"Abisnya lo gemesin!" Bukannya melepaskan pipi Riri, Gala justru semakin menekan dan mendekatkan pipi Riri ke arahnya."


"Rawwwwrrrrr!!!" Ucap Gala sebelum menggigit pipi Riri.

__ADS_1


"Ih Gala nakal!" Riri memukuli lengan Gala hingga


cowok itu berhenti menggigit pipinya. "Pipi Riri digigit-gigit! Sakit tau!"


Gala terkekeh. "Gue pengen makan lo! Rawwwwrrrr!!!"


"Ihhh gak mau!"


"Takut, hem?"


Gala mencuri satu kecupan di pelipis Riri lalu mengacak-acak puncak kepala Riri seperti memperlakukan bocil. Ya, di mata seorang Gala, Riri memang selalu terlihat seperti bocil. Bocil yang tidak bisa apa-apa yang membuat Gala selalu ingin menyayangi dan melindungi dengan taruhan apapun.


"Gala mirip monster ih! Jangan kaya gitu!"


Gala tertawa mendengarnya. Riri terlalu menggemaskan untuk dibiarkan. "Sini peluk gue dulu."


Gala merentangkan kedua tangannya, menginstruksi


Riri agar segera masuk ke dalam dekapannya. Tanpa diminta dua kali, Riri segera menubrukkan kepalanya ke dada bidang Gala.


"Gala kenapa di sini ada bunyi deg deg deg kenceng banget?" Tunjuk Riri ke dada bidang Gala.


"Hem?"


"Ih, Gala budek!"


Gala mencubit hidung mungil Riri. "Kalo gak bunyi


Sebenarnya dari awal Gala sudah mendengar apa


yang Riri tanyakan. Hanya saja, entah kenapa ia jadi salah tingkah saat Riri menanyakan hal tersebut.


"Oh gitu," angguk Riri paham. "Habis ini kita beli es kri-"


"Pelukan terossssss!!!"


Spontan, Riri berusaha melepaskan diri dari pelukan Gala. Namun bukan Gala namanya jika melepaskan Riri begitu saja hanya karena ada pengganggu macam si tuyul, Dewa.


"Paan sih lo, gak jelas!" Sembur Gala sengaja mempererat pelukannya dan Riri. Membuat Riri sedikit memberontak.


"Lepas! Lepas!" Dewa memukuli punggung Gala.


"Enak aja main peluk-peluk. Nikah aja belom!"


"Makanya nikahin kita cepet! Kalo bisa besok!" Ucap Gala ngegas.


"Hem! Lepas, Gal!"


"Gak!"

__ADS_1


"Gue panggil bokap mampus lo!" Ancam Dewa tak main-main.


"Panggil aja, biar gue sama Riri disuruh cepat nikah!" Jawab Gala semakin menantang. Tidak takut sedikitpun dengan ancaman yang Dewa berikan. "Biar aja gue sama Riri nikah duluan. Sementara lo yang udah tua bangka bakal jadi jomblo karatan!"


"Ih! Riri gak bisa napas!"


Setelah mendengar itu, barulah Gala merenggangkan pelukannya. Sampai akhirnya Dewa berhasil memisahkan Gala dan Riri. Lalu cowok dengan pakaian santai khas rumah itu duduk di tengah-tengah di antara Gala dan Riri.


Dewa tersenyum kemenangan melihat wajah murka Gala. Biar saja, Dewa memang senang jika melihat Gala menderita. Mantan musuhnya itu gampang sekali naik darah. Ya sebenarnya sebelas dua belas sih dengan sikap Dewa. Sama-sama mudah emosi.


"Apa lo?" Tanya Dewa pada Gala.


Gala balas menatap Dewa sewot. "Hama!"


"Hama-hama, gue abangnya tunangan lo. Gak gue restuin mampus lo."


"Apa gunanya ada kawin lari," balas Gala tidak mau kalah.


Riri menatap Gala kesal. "Gala ih! Kan Riri udah bilang gak mau kawin lari! Capek tau! Masa sambil lari-lari!"


"Iya-iya serah. Gue mau pulang. Lo mau es krim apa enggak? Kalo mau ayo ikut gue. Di sini hawanya panas, ada tuyul berkeliaran."


Dewa menatap Gala tidak terima. "Gak ada tuyul sekeren gue."


"Oh, jadi lo merasa mirip tuyul?" Angguk Gala menahan tawa. "Padahal gue gak bilang kalo lo tuyul. Tapi syukur deh kalo lo langsung merasa."


"******!"


"Bang Dewa, Riri boleh ikut Gala gak?"


"Ngapain sih pake ijin, kan tadi gue udah ijin sama bokap lo!" Sahut Gala menatap Riri kesal.


Riri menepuk jidatnya. Tadi Gala memang sudah ijin dengan Eza papa Riri untuk membawa Riri keluar sebentar. Eza mengizinkan, asal pulangnya tidak terlalu larut karena besok mereka masih harus sekolah. Pasalnya sekarang saja jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Ayo!" Gala sudah berdiri dan bersiap untuk menarik tangan Riri tapi Dewa tiba-tiba menghalanginya.


"Apa lagi? Lo mau ikut?" Ketus Gala pada Dewa. "Kasihan banget, jomblo sih! Makanya gangguin mulu!"


"Kaki gue diinjek Riri nih! Geer banget lo!"


Riri menatap kakinya yang memang tidak sengaja menginjak kaki Dewa. Pantas saja tadi Dewa menahan tangan Riri saat gadis itu hendak berdiri karena tarikan Gala.


"Hehe maaf ya, Riri gak liat," ucap Riri polos sembari menggeser kakinya.


"Hehe hehe hehe," ejek Dewa sebelum melangkah pergi. Kupingnya sudah terasa begitu panas akibat hinaan keji dari Gala.


"Jagain adek gue! Awas lo bawa dia pulang tapi gak dalam keadaan utuh kaya sekarang!" Pesan Dewa tapi lebih terdengar seperti sebuah ancaman.


"Beuh bukan utuh lagi, kalo bisa gue malah mau bawa Riri pulang plus bonus ponakan buat lo!" Dumel Gala pelan sambil menarik Riri keluar Rumah.

__ADS_1


Untung saja Dewa tidak mendengar, kalau tidak, bisa-bisa Dewa kembali murka dan membuat wajah Gala babak belur seperti kejadian beberapa minggu yang lalu.


__ADS_2