
FOLLOW dulu ya biar nanti Chapter nya gak Kalian Kangen sama keromantisan SriGala gak si Siap Kawal sampe Ending?
Vote Dan Komen lebih banyak dari
Chapter sebelumnya, baru update yađź’–
Sabi kali ya. yang baca aja lebih dari 4k tiap Chapter nya. Heran sama manusia yang gak mau Vote.
.
******
.
Gala menatap Riri dalam diam. Cowok dengan kaos dan jaket berantakan itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Membuat Riri semakin merasa bersalah.
"Gala!" Riri memegang kedua lengan Gala. "Gala marah sama Riri?" Tanya Riri takut-takut.
"Gala, Riri minta maaf."
Sama seperti sebelumnya, cowok dengan beberapa luka lebam di wajahnya itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa-apa, selain datar.
"Gala maafin Riri," cicit Riri dengan mata berkaca-kaca. Riri tidak suka jika Gala hanya diam seperti ini. Riri lebih suka Gala yang ngomel-ngomel memarahinya sepanjang hari.
Dengan cepat tangan Gala menahan tubuh Riri yang hendak memeluk dirinya. "Gak papa, gue balik dulu."
"Gala jang..." Ucapan Riri terhenti begitu saja kala Gala mengecup singkat dahinya.
Cup
"Gue balik dulu. Gue gak papa," pamitnya tanpa senyum atau ekspresi yang lain.
Selepas kepergian Gala dari rumahnya. Tidak ada hal lain yang Riri lakukan selain mendiamkan Dewa yang sedari tadi berusaha membujuk Riri agar tidak marah.
"Maafin gue, ntar gue beliin es krim lima deh," bujuk Dewa.
Riri masih bergeming di tempatnya. Tidak mau menatap Dewa yang perlahan menarik kursinya maju hingga mendekati tempat tidur yang Riri duduki sekarang.
"Harusnya bang Dewa minta maaf sama Gala. Bukan sama Riri," jawab Riri ketus. "Yang bang Dewa pukul itu Gala bukan Riri."
Dewa berdecak pelan. "Sama aja. Ntar lo aja yang nyampein ke dia. Males gue minta maaf sama Galon air."
Tangan Riri memukul tempat tidur untuk menyalurkan rasa kesalnya pada Dewa. "Namanya Gala bukan Galon ih!"
"Iya-iya, elah. Gitu doang."
Pipi Riri menggembung kesal. "Nama pacar Riri gak boleh diganti-ganti! Kalo Kolor Ijo Riri ganti jadi kolor bolong. Emang bang Dewa mau?!"
"Apa hubungannya sama Kolor Ijo anjir!" Dewa tidak habis pikir dengan jalan pikir adik perempuan satu-satunya ini. Dari Gala kenapa bisa ke Kolor Ijo, kucingnya?
Tangan Riri terlipat di depan dada. "Ya ada dong! Gala kan pacarnya Riri! Kolor Ijo juga pacarnya bang Dewa!"
"Pacar Mbah mu!" Semprot Dewa. Matanya melotot tidak terima "Gue masih waras. Masih suka Nen Nen eh Nenda maksud gue." Dewa memukul pelan bibirnya yang salah berucap.
"Emang Kolor Ijo bukan pacar bang Dewa?" Mata Riri mengerjap polos.
Ini adek siapa sih, woi?! Begonya kebangetan. Teriak Dewa dalam hati.
"Ya bukanlah!" Tampik Dewa kesal. "Siapa yang bilang Kolor Ijo pacar gue, hah?"
__ADS_1
"Gala."
Dewa tidak kaget. Siapa lagi pelakunya kalo bukan Gala. Sudah pasti si galon air itu yang banyak memonopoli otak polos Riri.
"Bilang apa dia?"
"Kata Gala, bang Dewa sama Kolor Ijo itu pacaran. Soalnya bang Dewa suka peluk, suka cium, suka bobo bareng Kolor Ijo. Sama kaya Riri sama Gala."
"Sesat!" Dewa merotasi kan kedua bola matanya jengah. "Udah jangan percaya. Dia itu ngibulin lo."
"Nanti bang Dewa harus minta maaf sama Gala. Kalo gak mau, Riri gak mau maafin bang Dewa pokonya!" Riri mengintimidasi Dewa dengan tatapan penuh ancaman.
Menghela napas. Dewa menjawab sedikit kesal. "Lagian gue gak bakal pukul dia kalo dia gak kurang ajar sama lo, Ri. Gue males minta maaf."
"Gala pasti cuma bercanda."
"Kalo tau Gala cuma bercanda. Ngapain tadi lo nangis?"
Skak. Riri menundukkan kepala sembari menautkan jari jemari mungilnya. Benar juga apa yang Dewa katakan. Kalau dirinya sudah tahu Gala hanya bercanda, lantas kenapa tadi dia menangis? Harusnya biasa saja kan?
Riri tidak tahu jawabannya. Karena bagi Riri menangis adalah satu-satunya jalan keluar ketika ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Dewa, lo dipanggil bokap."
Serentak Dewa dan Riri menoleh ke arah pintu. "Ngapain?" Jawab Dewa bertanya balik pada Danis.
Danis mengangkat bahu tanda ia tidak tahu. Kemudian duduk di sebelah Riri. "Mana gue tau."
"Hem, tuh bapak-bapak manggil mulu kerjaannya."
"Masih mending lo dipanggil bokap. Daripada dipanggil sama yang maha kuasa," balas Danis.
"Lo dulu lah. Lo yang lebih tua," ketus Danis namun Dewa tidak lagi menanggapi karena sudah melenggang pergi dari kamar Riri.
"Gimana Gala?" Tanya Danis mengusap kepala Riri lembut.
Riri menggeleng dengan wajah tertekuk cemberut. "Riri telfon gak diangkat. Riri chat juga gak dibales."
Danis tersenyum tipis. Tangannya tidak berhenti mengusap kepala Riri. "Ya udah, tunggu dulu. Mungkin Gala butuh waktu buat sendiri."
"Riri takut Gala marah sama Riri," cicit Riri menatap Danis penuh kekhawatiran.
Danis mencoba menenangkan. "Gak usah takut. Kalo keadaannya udah tenang. Bicarain masalah kalian baik-baik. Nanti bang Danis yang bakal paksa bang Dewa buat minta maaf ke Gala."
Riri menghambur ke pelukan Danis. Ia bersyukur mempunyai abang sepengertian Danis. Tidak seperti Dewa yang suka marah-marah setiap hari. "Makasih abang," kata Riri pelan.
Terkekeh gemas, Danis membalas pelukan Riri tak kalah erat. "Sama-sama, adek abang yang paling cantik. Sekarang kita turun ke bawah, ya? Kamu belum makan dari pagi."
Seperti dugaan Riri sebelumnya. Pagi ini Gala memang tidak akan menjemputnya untuk pergi ke sekolah bareng. Semenjak pertengkaran yang terjadi kemarin hingga pagi ini, Gala memang belum bisa dihubungi.
"Mau gue anter naik motor apa bareng Danis naik mobil?" Tawar Dewa memperhatikan Riri yang tengah fokus mengikat tali sepatunya.
Entah tidak mendengar pertanyaan dari Dewa atau sengaja menulikan telinga. Riri tidak menjawab dan masih sibuk dengan tali sepatunya.
"Susah ih! Biasanya Gala yang bantu ngiket!"
Gerutu Riri. Karena jika gadis itu kesusahan mengikat tali sepatu atau sedang mager, memang Gala lah yang akan mengikatkan untuknya.
"Ri?" Ulang Dewa terdengar sedikit kesal karena Riri sama sekali tidak menggubris kehadirannya.
__ADS_1
Kepala Riri mendongak dengan wajah kesal. "Bareng bang Danis aja. Riri masih sebel sama bang Dewa!"
"Oh, ya udah." Dewa kembali masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Kenapa?" Danis menghampiri Riri dengan wajah bingung. Tidak biasanya Dewa pergi begitu saja. "Gak tau. Bang Dewa marah, Gala marah, Semua marah, Riri kan jadi sebel!"
Senyum tipis Danis perlahan terbit. Cowok yang sudah rapi dengan pakaian kasual itu menggeleng heran sebelum jongkok di hadapan Riri. Membantu Riri yang terlihat masih kesusahan mengikat tali sepatu.
"Sini gue bantu iketin."
Riri pasrah saat Danis mulai mengambil alih hal
yang sejak tadi merepotkan dirinya.
Drttt...drttt...drttt....
"Siapa?" Danis kembali berdiri setelah tali sepatu
milik Riri sudah terikat dengan sempurna.
"Ilham."
"Angkat dulu. Abang tunggu di mobil, ya." Danis mengacak pelan rambut Riri sebelum melangkah pergi.
"Halo?"
"RI! ASTAGFIRULLAH! LO KEMANA AJA SIH??!!!"
Suara Ilham di seberang sana terdengar begitu heboh. Membuat Riri langsung menjauhkan ponselnya dari telinga karena takut telinganya akan berdengung.
"Riri di sini. Gak kemana-mana," jawab Riri santai. "Emang Ilham udah nelfon Riri berapa kali?"
"Satu kali sih, hehe. Ri, gue punya kabar kurang baik buat lo."
"Ya udah kabarnya dinasehatin dulu biar jadi baik. Kalo udah baik baru kasih tau Riri, ya."
.
******
.
Btw kalo kolor ijo dijodohin sama Joko, anaknya jadi apa yaa??
Kiww racunin temen kalian buat baca cerita ini, biar makin rameee
Lanjut gak nih?
Pesan buat Riri?
Pesan buat Gala?
Pesan buat Dewa ?
Pesan buat papa Eza?
Pesan buat mama via?
Atau untuk siapa saja, untuk penulis juga bisa :
__ADS_1
Mau up kapan? Spam disini!!! Semakin banyak yg komen dan vote semakin cpt juga up nya.