
(POV) Zahra
Sore ini juga selesai abah menangkap belut dan menyuruh pekerja untuk mengantarnya ke desa Mentereng, Aku sekeluarga beserta ayah dan ibu mertua pun pamit untuk pulang ke desa Padang Sawit. Zahwa segera mencium tangan dan memeluk abah dan mama.
"Zahwa pulang dulu ya nek, hati-hati dirumah, kakek dan nenek jangan berantem nanti tidak masuk surga, " ucapan Zahwa membuat kami semua mengernyitkan dahi. Aku baru ingat itu adalah nasihat yang sering aku berikan kepadanya setiap akan masuk sekolah, ya ampun ternyata anak ini begitu cerdas hingga begitu cepat dia menangkap apa yang selalu di nasihatkan ke orang tuanya. Sebagai orang tua sudah tentu aku amat bangga padanya.
"Iya deh!.... nenek dan kakek tidak akan berkelahi karena nenek dan kakek kan sudah tua, sudah, tidak bisa berkelahi" ucap abah seraya mengelus rambut Zahwa sembari terkekeh.
Setelah semuanya masuk ke mobil, kak Dewanta pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan desa Padang Gatah menuju desa Padang Sawit. Sampai di desa Padang Sawit kami mengantarkan ayah dan ibu dulu kerumahnya, karena ibu sudah tidak sabar ingin memasak belut-belut pemberian abah. Kemudian pulang kerumah kami sendiri. Zahwa yang sudah mulai mengantuk langsung menuju tempat tidurnya, sementara aku menidurkan putraku yang terlelap dalam gendonganku diranjang tidur bayi. Kak Dewanta kulihat menyambar handuk gang tergantung ditempatnya.
Pada pagi harinya sinar matahari memancarkan sinarnya dengan begitu cerah. Mengeringkan dedaunan yang basah akibat hujan malam tadi. Mas Dewanta sudah siap dengan kendaraan kerjanya hendak ke kebun mengawasi para pekerja yang tengah memanen sawit.
Sayup-sayup terdengar suara kendaraan tua yang semakin lama suaranya semakin dekat. Aku yang sedang menggendong putraku hendak mengantar Zahwa kesekolahnya kemudian menitipkan anak keduaku pada ibu mertua karena dirumah ibu mertua ada suster yang siap menjaga Deza anakku. Mas Dewanta segaja membayar seorang pengasuh untuk Deza dan bertempat dirumah ibu mertua agar ibu bisa mengawasi anak-anak kami.
"Tumben kamu kasini Santo, biasanya juga langsung bertemu di kebun," tegur suamiku kepada Santo salah satu anak buahnya yang bekerja di kebun sebagai pendodos sawit yang baru saja turun dari sepeda motor tuanya.
"Ini pak ada undangan dari mantan selingkuhan bapak Dikebun," sahut Santo Sembari melangkah mendekati kak Dewanta, tangannya dimasukkan kedalam tasnya, sepertinya sedang mengambil undangan.
__ADS_1
Aku tercengang mendengar ucapan Santo. Segera aku melangkah mendekatinya dan mengambil kertas undangan yang ada di tangannya. Setelah aku baca ternyata itu adalah undangan pernikahan Juita dan Edi, mereka adalah anak buah kak Dewanta. Aku segera menyerahkan undangan itu ke pada kak Dewanta dengan cara melemparnya. Segera aku melangkah dengan tergesa-gesa menuju kendaraan dan segara melajukan kendaraanku dengan membonceng Zahwa dibelakangku. Sempat aku lirik raut muka Santo yang mendadak pucat dan kak Dewanta yang langsung memarahi Santo.
Sebenarnya aku bukan sedang marah atau merasa cemburu. Aku tahu bagaimana kisah Juita yang begitu gencar mendekati kak Dewanta. Aku juga tahu kak Dewanta bukanlah lelaki murahan yang suka membuang air mani sembarangan.
Aku pura-pura marah demi untuk mengerjai Santo agar tidak asal bicara. Karena kata-kata yang diucapkan Santo benar-benar bagaikan racun yang dapat menghancurkan rumah tangga seseorang.
Tepat pukul tujuh tiga puluh menit aku sampai disekolah Zahwa, setelah dia berpamitan, Zahwa langsung berlari menghampiri teman-temannya yang sedang berjalan menuju kelas. Dengan senyum bahagia aku melambaikan tanganku pada Zahwa yang sedang memandang kearahku. Kumudian melajukan kendaraanku menuju rumah ibu mertua untuk menitipkan Deza.
Kurang lebih sepuluh menit jam delapan, aku telah menginjakkan kakiku di sekolah Paut Buah Hati bunda, tempat aku mencari rupiah sebagai kompensasi aku mendidik generasi penerus bangsa.
"Ya jelaslah awet muda, istri juragan sawit banyak duit," ujar ibu berkerudung biru.
"Tidak semua istri juragan awet muda lho, ada juga yang cepat mati kena serangan jantung kaya istri pak Hamdan yang mati karena suaminya dibunuh sama selingkuhannya," ujar bude Munah tetangga mertuaku yang menunggui cucunya.
"Ternyata anaknya pak Hamdan sama selingkuhannya pernah kerja sama pak Dewanta jadi pembrondol, namanya Santi, orangnya sepertinya mengikuti jejak ibunya suka ngrecoki rumah tangga orang," ibu yang baju biru tadi menimpali.
Aku terkejut saat mendengar kalau Santi pembrondol dikebun kak Dewanta yang sudah resign adalah anak pak almarhum pak Hamdan, pengusaha sawit yang kini sebagian besar lahannya dibeli oleh ayah mertuaku. Aku ingin bertanya lebih lanjut mengenai asal-usul Santi tapi lonceng sudah berbunyi tanda pelajaran akan dimulai.
__ADS_1
Siang ini selepas pulang mengajar, aku menjemput Zahwa di SDN Padang Sawit kemudian menjemput Deza dirumah ibu mertua.
Sampai dirumah aku terkejut karena kak Dewanta telah menungguku diteras rumah. Kulihat wajahnya terlihat tegang. Sambil mengucap salam aku langsung masuk kedalam kamar untuk menidurkan Deza. Sedangkan Zahwa masuk kedalam kamarnya untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Setelah beberapa menit kemudian, Desa pun telah tertidur pulas, nampaknya dia begitu mengantuk setelah bermain dengan suster dan neneknya.
Saat aku hendak bangun dari pembaringan ternyata kak Dewanta telah duduk disampingku. Tiba-tiba kak Dewanta memelukku sembari mencium kening dengan begitu takzim.
"Sayang tolong dengarkan penjelasanku, antara aku dan Juita tidak ada hubungan apa-apa, tadi Santo cuma bercanda, dia memang seperti itu, kalau bercanda suka kelewatan. Mungkin dia memang suka bercanda semau hatinya," masih merengkuh tubuhku dalam pelukannya, kak Dewanta terus menjelaskan padaku mengenai candaan Santo tadi pagi. Sebenarnya ingin sekali aku tertawa nyaring senyaring-nyaringnya. Namun aku tahan sejenak, mendadak terbesit dalam benakku ingin mengerjai kak Dewanta.
"Yakin kakak enggak ada hubungan apa-apa, bukannya Juita itu mati-matian ingin meraih cinta kak Dewanta. Apa kakak tidak sayang melewatkan kesempatan yang begitu indah, merasakan indahnya lekuk tubuh Juita yang begitu seksi dan membuat hormon testosteron dalam tubuh kakak semakin aktif," ucapku dengan nada aku buat sejudes mungkin.
"Ya ampun Zahra, aku bukan laki-laki murahan seperti yang kamu tuduhkan. Kamu harus tahu sayang, aku selalu menundukan pandangan pada setiap wanita yang aku temui. Atau jika terpaksa aku harus berbicara dengan wanita, aku hanya memandang seperlunya saja, hanya sekedar untuk menjaga sopan santun semata. Jadi aku tidak pernah memandang bentuk tubuh Juita, bagaimana mungkin aku bisa menikmati lekuk tubuhnya apalagi sampai hormon testosteronku aktif. Ingat Zahra aku tidak pernah berhasrat pada tubuh perempuan manapun kecuali pada tubuh istriku seorang . Tolong percaya padaku sayang," sahut kak Dewanta dengan nafas tercekat, matanya memerah menahan air mata, aku merasakan sentuhan tangannya bergetar.
"Maaf kak, apa aku harus begitu saja percaya dengan omongan kakak. Semuanya perlu bukti, kalau diantara kakak dan dia tidak pernah ada hubungan spesial. Pantas saja akhir-akhir ini kakak jarang menyentuhku, rupanya kakak sudah menemukan lubang tikus yang lebih sempit dengan rerumputan yang lebih hijau. Aku sadar kak sebagai wanita yang sudah dua kali hamil dan melahirkan. Sudah pasti lubang tikus milikku sudah semakin luas dengan rerumputan yang semakin gersang karena kurang perawatan.
********
__ADS_1