Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab 63. Di desa Mentereng


__ADS_3

(POV) Galih


Menjalani sebuah rutinitas baru sebagai sepasang suami istri sungguh menyenangkan. Setelah resmi menikah dengan Fira hidupku benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu setiap bangun tidur, hanya bantal guling yang ada di sisiku tak ada suara indah yang membangunkanku apalagi senyum indah wanita cantik yang begitu menyejukkan hati. Kini setiap bangun tidur, dekapan hangat dan senyum manis disertai kiss morning selalu aku dapatkan setiap pagi dari wanita tercintaku. Sudah menjadi kebiasaan dipagi hari, aku mengulang lagi percintaan seperti semalam dan diteruskan dengan membersihkan tubuh untuk kemudian menjalankan shalat subuh berjemaah.


Sedangkan memasak adalah rutinitas Fira setiap pagi dan dibantu oleh asisten rumah tangga. Sebenarnya aku tidak pernah meminta dia memasak setiap pagi karena aku sudah menyiapkan asisten untuk memasak dan mengurus keperluan rumah. bahkan acapkali aku melarangnya kedapur karena takut dia kelelahan. Biar bagaimana pun dia adalah seorang wanita karier yang punya pekerjaan diluar rumah untuk mengurus perusahaan orang tuanya. Tetapi dia bersikukuh untuk tetap memasak masakan kesukaan aku setiap hari. Dia selalu bilang kalau dia ikhlas melakukan semua itu demi cintanya padaku. Sungguh manis sekali rasanya hidupku saat ini. Terimakasih Tuhan Engkau telah mengirimkan wanita cantik paripurna sebagai pendamping hidupku.


"Sayang pagi ini kita makan diluar saja ya, soalnya siang nanti kita akan berangkat ke desa Mentereng untuk merayakan resepsi pernikahan kita. Aku tidak ingin kamu kelelahan," ucapku seusai melakukan olahraga pagi diatas ranjang yang menjadi hobi baruku setelah menikah.


"Kalau aku pagi tidak masak terus aku mau ngapain setelah selesai shalat subuh. Daripada bengong menunggu mas Galih mengecek keperluan dapur restoran. bukankah lebih baik aku memasak!!," ucap Fira sembari memelukku manja dan kemudian dia bangkit berjalan menuju kamar mandi.


"Hari ini aku libur, untuk mengecek seluruh keperluan dapur dan pembukuan seluruh restoran sudah aku tugaskan kepada beberapa asistenku, bukankah setelah shalat subuh kita bisa santai bersama sambil menunggu siang," ucapku, pandanganku mengarah kepada istriku, yang terlihat semakin cantik mempesona walaupun belum mandi.


Beberapa saat kemudian aku dan Fira telah selesai shalat subuh, sambil menunggu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan pagi, aku duduk bersantai diatasi soda yang ada dikamarku, sedangkan Fira Tiduran manja diatas pahaku.

__ADS_1


Kalau papa dan mama kapan akan berangkat kedesa Mentereng?"


"Papa dan mama pagi ini berangkat ke villa papa yang ada di desa Padang Sawit, rencananya mereka akan melakukan transaksi pembelian lahan sawit di desa itu. Agar lahan sawit disana bertambah luasannya, sedangkan mas Angkasa dan mas Gading mungkin besok kedesa Padang Sawit tepatnya Di villa papa. Karena mereka harus memastikan pekerjaan dikantor aman dan terkendali," ucap Fira istriku.


"Kenapa mereka tidak langsung saja ke desa Mentereng bukannya desa Mentereng dengan wisata Air Panas jaraknya tidak begitu jauh, " ucapku sambil menyinngkirkan anak rambut Fira yang menutupi area matanya hingga sampai kebibirnya yang terlihat seksi. Fira lalu menggenggam tanganku kemudian mengecupnya.


"Katanya sih mereka ingin bersantai di villa sekaligus melihat perkebunan sawit. Sedangkan mas Angkasa dan mas Galih sedang giat-giatnya belajar dan mengenali seluk beluk cara berkebun sawit dan karet. Jadi wajar kalau dia ingin tinggal disana untuk beberapa waktu.


Setelah menyiapkan segala keperluan untuk dibawa pulang ke desa Mentereng, aku dan Fira pun berangkat kedesa tepat pada pukul satu siang. Kali ini aku mengajak supir restoran untuk mengantarkan pulang ke kampung halamanku. Agar aku dan Fira bisa duduk dibelakang supir dengan santai dan bercengkerama dengan istriku tanpa harus membagi fokus antara menyetir mobil dan mengobrol dengan wanita pujaanku.


"Agak pelan sedikit pak membawa mobilnya kasihan istri saya yang sedang tidur tergoncang-goncang," titahku pada supir sambil membenarkan posisi tidur Fira.


"Iya pak ini saya kurangi kecepatannya, saya heran pak, jalan sudah rusak begini kok belum ada perbaikan dari Pemerintah Daerah," ucap supirku sembari tetap konsentrasi menyetir terlihat pandangannya terus fokus kedepan.

__ADS_1


"Mungkin anggarannya sedang dialihkankan kedaerah lain pak, maklumlah namanya juga di desa jadi wajar jika kurang mendapat perhatian pemerintah, selain itu pengguna jalan didaerah ini juga sedikit tidak seperti jalan-jalan diperkotaan. Bapak lihat kan selama melewati jalan yang sudah rusak kita hanya berpapasan dengan beberapa truk yang membawa tandan sawit dan lump karet saja. Pak supir pun membenarkan ucapanku. Tampaknya dia mengajakku mengobrol untuk menghilangkan rasa kantuknya, akupun terus mengajaknya mengobrol biar ngantuknya hilang, tanggung mau mengajak istirahat, tinggal beberapa kilo meter mobil kami akan memasuki desa Mentereng.


Kini kami sudah memasuki gerbang rumahku, setelah memarkirkan mobil di carport aku segera membangunkan Fira dan mengatakan kalau kita sudah sampai tujuan. Papa mamaku dan keluarga yang lain pun menyambut kedatangan aku dan Fira sebagai anggota keluarga baru. Aku dan Fira menyalami mereka satu persatu. Ternyata disana ada juga bule Tini, Santi dan Kiran. Menurut mereka kak Yunian, suaminya serta kedua mertuanya telah datang kamarin sore namun masih menginap di kediaman kak Yunian. Rencananya mereka kerumah mama hanya untuk bertamu saja tidak menginap.


"Fira selamat ya, atas pernikahan kamu dan Galih sepupuku. Aku minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat sama kamu selama aku tinggal dikota," ku dengar Santi dan Fira bersalaman dan saling berpelukan. Santi juga meminta izin kepada Fira untuk mengundang temannya yang ada di desa lain untuk datang dalam pesta resepsi pernikahan kami. Fira memandang kearahku sebagai isyarat kalau dia sedang meminta persetujuanku. Akupun mengangguk tanda setuju.


Setelah menunggu acara resepsi pernikahan kami selama dua hari di desa Mentereng, aku dan Fira menghabiskan waktu dengan berkunjung kerumah keluargaku dan Fira untuk mengantar kartu undangan seperti kerumah bude Rupiah, Bule Tini, kaj Yunian dan keluargaku yang lain yang ada di desa ini dan sekitarnya.


Kami juga menyempatkan diri berkunjung kedesa Padang Sawit untuk menemui keluarga mertuaku dan juga para iparku beserta keponakan yang sedang lucu-lucunya. Aku juga sempat jalan-jalan ke kebun sawit dengan mas Gading dan mas Angkasa. Setelah melihat dan bertanya tentang prospek perkebunan sawit sepertinya aku tertarik untuk mengembangkan usaha dibidang itu. Tapi lihat nanti, karena semua perlu perencanaan yang matang.


Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Aku dan Fira duduk dipelaminan menjadi raja dan ratu sehari. Kami sepakat menggunakan pakaian adat daerah kami. Satu persatu tamu undangan berdatangan. Mereka menyalami kami lalu mengucapkan selamat. Bait-bait doa agar rumah tangga kami senantiasa sakinang, mawadah dan warrohmah terus terucap dari setiap bibir orangtua, keluarga teman-teman kami dan seluruh undangan yang hadir. Santi sepupuku pun datang menyalami kami, sesuai keinginannya dia mengundang teman baiknya dan mengenalkan kepada kami.


"Hallo Fira. selamat ya atas pernikahanmu dan Galih, kenalkan ini temanku yang aku undang namanya Juita, " Santi mengenalkan temannya kepada aku dan Fira. Kami pun menyambut perkenalan ini dengan senang hati. Aku melihat tatapan yang aneh dan tingkah lakunya yang sedang mencari perhatianku dari wanita yang dikenalkan Santi kepadaku.

__ADS_1


********


__ADS_2